Saya


Bila telepon seluler dengan Symbian OS dihitung sebagai smartphone, berarti total sudah lebih dari tujuh tahun saya memakai smartphone. Walau demikian, tentu pengalaman dengan perangkat bergerak pintar yang saya rasa paling berpengaruh adalah dengan Blackberry OS (lama) dan iOS. Selain OS ini, masih ada Android, Windows Mobile, Blackberry 10, Linux, dan beberapa yang bahkan saya belum pernah melihat.

Hidup harusnya dipermudah dengan smartphone. Menelpon, mengirim pesan, surat elektronik, berselancar di internet (dan media sosial) hampir bisa dilakukan dengan smartphone yang bahkan harganya di bawah sejuta rupiah. Pernahkah anda sadari bahwa aplikasi bergerak (Apps) sebenarnya adalah keunggulan utama smartphone? Lalu aplikasi bergerak apa yang paling mempermudah hidup anda selama menggunakan smartphone? Saya akan membagikan versi saya di bawah ini.

Saat ini saya memakai perangkat iOS lama. Tidak semua aplikasi bergerak bisa dipasang karena keterbatasan perangkat keras. Salah satu yang saya sesali adalah Slideshare. Bahasan di bawah ini tidak akan membahas aplikasi bergerak media sosial karena walau mempermudah hubungan sosial di dunia maya, seringkali aplikasi itu justru mengurangi produktivitas. Bahasan ini juga tidak membahas aplikasi bawaan iOS seperti iMessage, Mail, Contact, & Calendar, App Store, Photos, Camera, dan Compass yang sudah jelas manfaatnya bagi produktivitas.

Apakah aplikasi bergerak yang mempermudah hidup anda? Feel free to share!

Blackberry Messenger, Whatsapp, dan Telegram

01 BBM   01 Whatsapp   01 Telegram

Ketiga aplikasi messenger ini mengisi ponsel saya. Keunggulan ketiganya adalah kemudahannya dalam pesan pribadi, pesan dalam kelompok, membagikan tautan, dan membagikan foto/video. Pengalaman saya di iOS, BBM paling lemot dan sering gagal dalam mengirimkan foto. Whatsapp sering tidak mau update bila aplikasi tidak dibuka. Saya secara pribadi paling suka dengan Telegram. Bukan karena ukuran kelompok bicara paling besar tapi karena Telegram ada versi desktop yang bisa diinstal ke komputer. Semua pesan dan pengiriman bisa menggunakan keduanya realtime. Telegram juga bisa mengirim berkas non foto maupun video. Sayang, semua orang memakai Whatsapp. Hidup akan lebih mudah bila semua kelompok bicara bisa pindah ke Telegram. Walau demikian, aplikasi-aplikasi ini sebenarnya hanya mempermudah cara anda berhubungan dengan orang lain saja. Pengalaman saya, aplikasi-aplikasi ini berpotensi menimbulkan konflik, mendistraksi dari pekerjaan, dan memboroskan batere.

Wunderlist

02 Wunderlist

Wunderlist sebenarnya hanyalah To-Do-List biasa. Desainnya enak dilihat, bisa disinkronisasi dengan versi desktop, dan mampu mengorganisasi task yang dikerjakan lebih dari satu orang. Wunderlist juga mempunyai folder-folder yang membantu kita mengklasifikasi task. Tentu kita bisa memberikan tenggat waktu penyelesaian bila perlu. Bila telah selesai dikerjakan, tandai task dan otomatis dia akan menghilang dari layar. Untuk task yang dikerjakan bersama-sama, Wunderlist sekarang menyediakan sarana yang disebut conversations untuk membahas task tersebut dengan anggota tim.

Mendeley

03 Mendeley

Saya mengenal Mendeley ketika akan menulis tesis pascasarjana. Mendeley pada prinsipnya adalah sebuah perpustakaan tempat kita menaruh sumber-sumber belajar dan referensi. Salah satu keunggulan Mendeley adalah plug in yang bisa disambungkan ke beberapa program pengolah kata sehingga secara otomatis akan menghasilkan proses sitasi pada tulisan yang lebih rapi dan lengkap. Mendeley memiliki banyak metode sitasi termasuk Harvard dan Vancouver yang paling sering dipakai di Indonesia. Dengan Mendeley, seluruh referensi kita akan tersimpan secara online dan bisa kita akses di manapun selama ada koneksi internet. Ketika sedang harus menulis dan berada dalam perjalanan, Mendeley bisa membantu kita mempelajari referensi. Saya pernah menulis bagaimana perpaduan Microsoft Word dan Mendeley dapat mempermudah penulisan karya ilmiah di sini.

Evernote

04 Evernote

Ketika duduk di bangku sekolah sampai perguruan tinggi, kita selalu mencatat. Ketika bekerja, kita juga mencatat. Mencatat membantu kita memahami persoalan, mengingatkan kita di masa depan, dan memberikan bukti fisik apa yang telah kita pelajari atau kita kerjakan. Evernote membuat pekerjaan mencatat lebih efisien. Bila komputer jinjing diperkenankan, saya akan membuat catatan di versi desktop, menambahkan tautan bila perlu, menambahkan foto, dan lain-lain. Catatan ini bisa dibaca kembali, disempurnakan, dan disimpan dalam perangkat bergerak. Gajah ini juga merupakan solusi bagi pengguna iOS yang perlu membuka dokumen pengolah kata yang dikirim via surat elektronik. Membukanya di aplikasi Mail kurang nyaman. Membukanya di Evernote lebih menyenangkan dan praktis karena bisa dibuka kembali sewaktu-waktu.

Dropbox

05 Dropbox

Sama seperti Mendeley, saya mengenal Dropbox ketika studi pascasarjana. Penyimpanan online ini kami pakai untuk saling membagikan file kuliah, tugas, tugas kelompok, dan lain-lain. Saya sendiri memakainya untuk menyimpan file yang saya ingin bisa diakses di komputer mana saja tanpa harus pakai flashdisk. Ternyata ada juga versi aplikasi bergeraknya. Beberapa kali aplikasi ini menyelamatkan muka saya ketika ada yang bertanya mengenai dokumen yang saya buat. Kelemahan aplikasi penyimpanan online seperti ini di Indonesia tentu sudah bisa diduga. Koneksi yang payah.

Medscape dan Medpulse

06 Medscape   06 Medpulse

Medscape (ikon di sebelah kiri) adalah aplikasi untuk dokter di area praktik klinis yang sangat populer. Di Medscape, kita bisa mendapatkan referensi mengenai obat (dan interaksinya), kondisi, prosedur, kalkulator medis, dan lain-lain. Ada kalanya di IGD pasien muncul dengan kondisi atau riwayat pengobatan yang jarang dijumpai. Saat itulah aplikasi ini banyak sekali membantu untuk berkomunikasi dengan pasien dan/atau keluarganya.

Sementara itu, Medpulse (ikon di sebelah kanan) adalah aplikasi menarik milik Medscape yang memungkinkan kita membaca berita-berita terbaru mengenai topik-topik tertentu yang bisa kita pilih sendiri sesuai bidang ilmu atau minat kita. Artikel di Medpulse adalah artikel di Medscape Medical News yang didorong ke perangkat bergerak kita. Walau berbentuk berita, artikel di Medpulse biasanya disusun cukup komprehensif dan sangat menyenangkan dibaca. Ketika menunggu sesuatu, saya kerap menghabiskan waktu membaca artikel-artikel ini. Hampir seluruh pengetahuan tentang Ebola saya dapatkan di sini. Sangat menarik.

GoogleMaps

07 Google Maps

Siapa yang tidak tahu aplikasi peta paling populer ini? GoogleMaps terbukti membantu menemukan arah. Saat menyetir sendiri dari Surabaya ke Jogja di malam hari, saya keliru mengambil belokan dan terjebak dalam jalur panjang ke arah yang salah. GoogleMaps terbukti mampu mengeluarkan kami dari arah yang salah. Peta ini bekerja baik di kota besar dengan akses internet yang baik. Di Denpasar dan Surabaya, peta ini bekerja lebih baik daripada Apple Maps.

Pocket

08 Pocket

Aplikasi ini baru saja saya temukan. Di Safari sebenarnya fungsi penyimpanan alamat untuk dibaca belakangan sudah ada. Walau demikian, Pocket mempermudahnya. Semua tautan yang ditemukan ketika membuka Facebook, Twitter, dan lain-lain dapat disalin ke aplikasi ini dan dibaca kemudian setelah waktu memungkinkan. Salah satu keunggulan Pocket adalah keberadaan versi desktop. Semua yang disimpan di salah satu perangkat dapat diakses di perangkat lain yang dijalankan dengan identitas yang sama. Hasilnya, saya tidak kehilangan sumber-sumber informasi yang saya temukan baik ketika berselancar menggunakan laptop maupun HP.

 

Wikipedia

09 Wikipedia

Sama dengan GoogleMaps, Wikipedia adalah aplikasi dan situs yang semua orang tahu dan menggunakan. Aplikasi bergerak Wikipedia memungkinkan kita mengakses seluruh konten Wikipedia, menyimpannya, dan membagikannya. Sederhana sebenarnya, namun saat anda sedang dalam perjalanan dan ingin tahu sesuatu yang anda temukan, aplikasi ini akan sangat membantu anda. Sifat Wikipedia yang merupakan referensi juga akan lebih mendukung anda untuk terlihat pintar saat menceritakan hasil temuan anda. Percayalah!

Setelah keinginan kami bermobil berdua ke Bali tercapai, satu lagi tempat yang kami kunjungi sebelum pulang adalah desa wisata Trunyan dengan keunikan tradisi pemakaman.

Desa Trunyan

Kesibukan sore di Desa Trunyan. Desa ini terletak persis di tepi Danau Batur. Foto diambil dari perahu.

Berangkat siang dari sekitar Jimbaran – Uluwatu, kami perlahan menembus beberapa titik kemacetan menuju Kintamani. Rute jalan yang bisa diambil ada beberapa pilihan, namun kami memilih untuk mengikuti tuntunan papan hijau di pinggir jalan dengan arah Kintamani.

Persis setelah lake view ke arah Danau Batur, gunung Batur, dan gunung Abang, kami memutar balik ke arah bawah, menuju Kedisan, dan jalur darat ke desa Trunyan. Dari sini, ada perahu dayung yang dikelola desa Trunyan menuju ke situs pemakaman Trunyan.

Danau Batur sangat luas. Desa Trunyan terletak persis di pinggir danau, sehingga saat air pasang, jalan di sepanjang “dermaga” dan rumah di sekitarnya terkena air dari danau. Perjalanan dengan perahu dayung dari desa ke pemakaman memakan waktu kurang lebih setengah jam.

Dalam perjalanan, kami menyadari bahwa air Danau Batur sedang surut. Ada garis hijau pada tebing tepi Danau Batur yang menginformasikan hal itu. Dalam perjalanan, kami jumpai beberapa warga mencari ikan dengan jaring dan perahu. Banyak ikan mujair katanya.

Mencari Ikan

Seorang warga Desa Trunyan sedang mencari ikan di tepi Danau Batur. Menurut pendayung perahu kami, banyak ikan mujair yang sering tertangkap jala di danau ini.

Pemakaman di desa Trunyan ada tiga. Pemakaman unik di bawah pohon Taru Menyan yang hanya diletakkan di tanah tersebut hanya boleh diisi oleh jenasah orang yang sudah menikah dan meninggal secara wajar. Kuburan untuk orang dengan kematian tidak wajar terpisah dari desa. Sementara ada satu kuburan lagi untuk bayi. Bayi, bagi orang Trunyan, termasuk juga mereka yang belum menikah.

Makam Bayi

Inilah kompleks makam bayi, dipandang dari Danau Batur dalam perjalanan ke makam Trunyan.

Dermaga masuk pemakaman Trunyan adalah gapura kecil yang diperpanjang dengan dermaga kayu. Di gapura tersebut tergolek sepasang tengkorak manusia dengan koin-koin kecil di sekitarnya.

Pintu Masuk Makam Trunyan

Untuk masuk ke Makam Trunyan, satu-satunya akses adalah melalui dermaga kayu ini.

Tengkorak Menjaga

Tengkorak manusia dipasang di gapura pintu masuk Makam Trunyan.

Pohon Taru Menyan yang perkasa menghadang setelahnya. Di sebelah kiri, menumpuk barang bekas dan kotor bercampur tulang manusia. Sedikit di atasnya terdapat sebelas jenasah yang diletakkan di permukaan tanah ditutup anyaman bambu kering yang longgar. Di sebelah kiri atas pemakaman, sejumlah tengkorak kepala ditata bersebelahan.

The Mighty Taru Menyan

Inilah pohon Taru Menyan yang terkenal itu. Jangan tertipu foto ini. Aslinya, pohon ini BESAR sekali.

Barisan Tengkorak

Deretan tengkorak di antara makam dan pohon taru menyan. Salah satu spot menarik untuk berfoto bersama.

Tulang, dan Lainnya

Nampak tulang paha dan sisa-sisa barang bekal.

Orang Trunyan mempunyai kebiasaan memakamkan anggota keluarganya lengkap dengan peralatan dan bekal untuk hidup selanjutnya. Oleh karena itu jamak ditemui peralatan-peralatan rumah tangga di sebelah jenasah. Ketika jenasah baru datang, salah satu jenasah dipindahkan dari makam tersebut bersama dengan barang-barangnya sehingga di sisi kanan makam nampak berserak sisa-sisa barang tersebut dengan sisa tulang belulang jenasah.

Mulai Membusuk

Salah satu jenasah yang baru kira-kira tiga minggu diletakkan di Makam Trunyan.

Barang Bekal

Bekal bagi yang meninggal. Tadinya ditumpuk di dekat jenasah.

Kesebelas Jenasah

Kesebelas jenasah dan barang perbekalan yang diberikan keluarga. Pohon Taru Menyan ada si sisi kanan pengambil foto.

Sebagai orang yang lahir dan besar di Jogja, rasanya kurang nyaman melihat sisa tubuh manusia di tempat ini. Apalagi dalam pendidikan, kami dididik untuk sangat menghormati jenasah. Yah, ini beda cara pandang saja.

Secara umum, kami senang dan puas bisa sampai ke sini. Sayangnya, kami menjadi korban perilaku usaha pariwisata yang kurang sehat. Di dekat lake view, kami dicegat oleh seorang laki-laki yang mengatakan asli Trunyan. Dia mengatakan bahwa Trunyan bisa dicapai dengan mobil dan dia akan menemani kami sampai ke Trunyan, tidak perlu berhenti di Kedisan dan naik kapal seperti cerita-cerita yang kami baca di banyak blog.

Singkat kata, setelah menempuh setengah jam penuh was-was karena Civic tua saya agak kurang fit di suspensi depan, kami sampai di desa Trunyan. Jalan yang kami tempuh kurang baik walau beraspal, penuh liku, naik dan turun ekstrim, kanan tebing dan kiri Danau Batur.

Sampai Trunyan, praktik pariwisata kurang sehat dimulai. Kami diberi tahu bahwa pemakaman masih harus ditempuh dengan perahu. Dua ratus ribu per orang sharing dengan penumpang lain, atau kalau mau sewa perahu untuk berdua, kami diminta membayar Rp 750.000,00. Selain itu, kami juga diminta membayar masing-masing tiga puluh ribu untuk “donasi” masuk.

Sang calo bilang, sekarang tarif perahu dari Kedisan Rp 960.000,00 per perahu dan itupun harus berhenti dulu di dermaga desa Trunyan, dan perjalanan dilanjutkan dengan perahu dayung mereka. Kami tidak mengkonfirmasi hal ini karena malas harus berhenti lagi di Kedisan di perjalanan pulang dengan risiko sakit hati.

Sampai di jalan raya, kami mengambil arah ke Kintamani, lalu ke Singaraja. Di Singaraja kami berhenti sebentar untuk makan sore sekaligus makan malam dan meneruskan perjalanan sampai Gilimanuk untuk menyeberang ke Banyuwangi dan menginap di Banyuwangi.

Saya memutuskan membuat sendiri brand penerbitan tulisan yang saya susun. Saya harap tulisan-tulisan ini bisa menambah pengetahuan rekan-rekan yang berkecimpung di bidang pelayanan kesehatan maupun umum. Penerbitannya masih mendompleng fasilitas yang gratis di Slideshare dan di Scribd. Berikut daftar dan di mana anda bisa mengunduh file portable document format untuk masing-masing tulisan. Enjoy!

  • Vaksin MMR dan Autisme Tidak Berkaitan —  Slideshare | Scribd
  • Audit Medis Meningkatkan Mutu Pelayanan Medis — Slideshare | Scribd
  • Menyusun Panitia Akreditasi Rumah Sakit Versi Baru — Slideshare | Scribd
  • Emergency Severity Index (ESI): Salah Satu Sistem Triase Berbasis Bukti — Slideshare | Scribd
  • Case Manager: Profesi Baru di Rumah Sakit Indonesia — Slideshare | Scribd
  • Menggunakan Microsoft Word (R) dan Mendeley untuk Menulis Karya Ilmiah — Slideshare | Scribd
  • Nasopharyngeal Airway (NPA): Banyak Manfaat Namun Kurang Dikenal — Slideshare | Scribd
  • Waspada Middle East Respiratory Syndrome (MERS) di Indonesia — Slideshare | Scribd
  • Resume Pasien Pulang: Defisien itu Inefisien — Slideshare | Scribd

Beberapa tulisan tersebut telah juga diterbitkan di website Mutu Pelayanan Kesehatan sebagai artikel. Semoga kesembilan tulisan ini bermanfaat! Salam!

 

Akan tiba masanya kita mempertimbangkan membeli laptop baru, handphone baru, televisi baru, printer baru, atau bahkan setrika baru. Ada cara klasik yang tetap bisa dilakukan: datang ke toko, lihat berbagai pilihan, pilih salah satu, bayar, lalu bawa pulang. Ada juga cara baru yang dianggap lebih keren: pesan di toko online. Kedua proses ini bisa sangat singkat namun bisa makan waktu berhari-hari tergantung karakter pembeli. Berikut saya menawarkan beberapa tips untuk optimalisasi waktu yang tersedia untuk mempertimbangkan berbagai pilihan.

#1 Gunakan Internet untuk Mencari Info Pengguna

Salah satu kegunaan adanya paket internet di gadget kita adalah pencarian informasi. Selain untuk mencari tahu Raffi Ahmad sedang PDKT ke siapa, sebenarnya lebih penting memakainya untuk mencari informasi yang benar-benar kita butuhkan. Informasi dari pengguna barang elektronik yang kita incar sebenarnya penting justru karena subjektivitasnya. Penting sekali untuk mengetahui apa yang dirasakan pengguna terhadap alat elektronik tersebut. Seorang mungkin mengatakan handphone yang kita incar sangat lambat merespon ketika dipakai memainkan game. Pengguna lain puas karena batere handphone tersebut awet dipakai untuk aplikasi sehari-hari. Mana yang lebih penting bagi anda? Tentu bila anda maniak game, jangan pilih handphone tersebut. Namun, bila anda tidak main game dan lebih perlu alat handal dipakai untuk pekerjaan sehari-hari tanpa harus sering mengisi daya, maka alat ini cocok. Contoh tersebut bermanfaat juga untuk membandingkan misalnya akan memilih kamera saku dengan batere AA atau batere isi ulang pabrik, laptop, bahkan jam tangan. Sesuai pengalaman, fase ini paling time-consuming namun tetap saya kerjakan karena penting. Beberapa yang harus anda cari informasinya adalah sebagai berikut: perbandingan info antar merk, kemudahan penggunaan, kemudahan bantuan produsen, kecocokan dengan penggunaan anda, keawetan alat, ukuran, dan seberapa banyak masalah besar yang nampak dari pengguna-pengguna sebelumnya.

#2 Pelajari Garansi dan Persyaratannya

Sekitar tahun 2000, ketika membeli handphone kita punya pilihan garansi resmi dan garansi distributor. Saat ini, untuk semua alat elektronik rasanya kurang relevan lagi memisahkan dengan cara demikian. Salah satu alasannya karena berbagai alat elektronik memang menyediakan garansi lewat pihak ketiga yang secara mudah disebut sebagai distributor, juga karena satu pihak bisa melayani berbagai merk alat elektronik. Lebih penting bagi anda untuk bertanya apa yang bisa dilakukan ketika alat tersebut rusak. Ke mana harus dibawa, apakah akan diberikan alat pengganti, biaya servis, dan lain-lain. Pertimbangkan juga bagaimana anda akan memakai alat tersebut dan apakah anda memerlukan asuransi tambahan untuk garansi tersebut. Perusahaan besar seperti Apple menawarkan tambahan AppleCare Protection Plan untuk laptop. Salah satu jaringan toko elektronik yang sering ada di mal juga menawarkan extended warranty dengan biaya khusus. Ketika membeli sebuah kamera DSLR untuk keperluan lapangan, kami pernah memanfaatkannya dan ternyata persis setahun setelah garansi resmi habis, alat tersebut rusak dan memerlukan biaya setengah dari nilai harga penjualan. Sangat membantu.

#3 Tunai atau Kredit

Dengan banyaknya penawaran cicilan tanpa bunga dari perusahaan kartu kredit, pembelian alat elektronik menjadi semakin mudah. Pertanyaannya, apakah anda sungguh memerlukan cicilan tersebut? Jawabannya kembali kepada penggunaan alat tersebut untuk anda. Bila membeli mesin cuci untuk efisiensi waktu karena ada tiga anak kecil di rumah, maka cicilan (bahkan dengan bunga) sangat layak anda pertimbangkan. Demikian juga bila anda bermaksud membeli tablet agar pekerjaan kantor bisa diselesaikan saat macet di jalanan kota besar. Namun bila anda membeli televisi layar datar 32″ untuk rumah anda yang luasnya hanya 11o meter persegi, cicilan tidak cocok karena akan mengganggu cashflow sampai berbulan-bulan ke depan untuk suatu kenikmatan premium. Anda harus menabung dan membeli tunai untuk contoh keperluan yang terakhir ini. Jangan juga lupa bahwa cicilan tanpa bunga dari kartu kredit juga memerlukan biaya ketika kita lunasi per bulannya!

#4 Kebutuhan Listrik dan Pengisian Daya

Jangan sampai anda membeli alat elektronik yang berpotensi melebihi daya listrik di rumah. Memanggang kue memakai oven listrik dalam kegelapan bukanlah ide yang bagus. Demikian juga alat elektronik portable jangan sampai justru tidak dapat dipakai karena batere cepat habis.  Seberapa besar kebutuhan dan frekuensi penggunaannya mesti dikenali dulu sebelum memutuskan membeli. Untuk alat elektronik besar yang terus menerus memerlukan listrik, pastikan spesifikasi voltase dan frekuensi listriknya cocok dengan listrik PLN (220 volt, 50 Hz). Colokan listrik juga harus diperhatikan. Apakah perlu menambah adaptor untuk colokan listrik? Adaptor menambah hambatan, berpotensi colokan kendur, menambah panas, dan dengan demikian menambah risiko penggunaan.

#5 Budget

Terakhir, semua pertimbangan di atas tidak akan bermanfaat bila alat tersebut berada di luar budget. Bila anda sangat memerlukan alat tersebut namun berada di luar budget, pertimbangkan mengurangi budget keperluan lain, memanfaatkan cicilan kartu kredit, atau bahkan pertimbangkan ulang keperluan terhadap alat tersebut. Istri saya selalu mengingatkan: butuh atau pengen? Pertanyaan reflektif itu harus dijawab dengan jujur pada kesempatan pertama sebelum mempertimbangkan yang lain.

Demikian lima tips dari saya. Semoga bermanfaat dan selamat memilih!

Salah satu tantangan dalam pengelolaan rumah sakit menghadapi akreditasi sistem yang baru adalah masalah keselamatan. Gerakan keselamatan pasien menjadi urat nadi sistem akreditasi rumah sakit. Walau mengadopsi sistem dari Joint Comission International (JCI), nampak bahwa Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) ingin mengedepankan mutu dan keselamatan pasien sebagai panglima dalam akreditasi rumah sakit.

Selain keselamatan pasien, kewaspadaan terhadap kebakaran dan kebencanaan adalah bagian dari sistem akreditasi dan berkaitan langsung dengan keamanan, keselamatan, pengelolaan limbah, pengelolaan sistem utilitas (listrik, air, gas, pengatur suhu, dan lain-lain), dan pengelolaan alat medis.

Salah satu perencanaan yang komprehensif dalam hal kebencanaan sering disebut sebagai hospital disaster plan atau sering disingkat dengan HDP. Dokumen HDP sering hanya berhenti pada penyusunannya saja dan lupa diuji coba untuk melihat kelayakan penerapannya. Banyak yang lupa, bahwa perencanaan sering kali berbeda dengan kenyataan di lapangan. Simulasi bencana, dengan demikian, sebenarnya adalah bagian tidak terpisahkan dari penyusunan HDP.

Rumah Sakit Panti Rapih, tempat penulis berkarya, juga memiliki HDP. Kami menyebutnya rencana penanggulangan bencana rumah sakit, atau kami singkat sebagai RPBRS. Dokumen RPBRS ini merupakan kerja bersama seluruh unit kerja di RS Panti Rapih dikoordinasi oleh panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja (P2K3) dan tim manajemen risiko. Dalam penyusunannya, tim peningkatan mutu dan keselamatan pasien (PMKP) dan komite pengendalian infeksi rumah sakit (KPIRS) juga ikut berkiprah.

Dalam menyusun RPBRS, seluruh unit kerja diminta membuat perencanaan apa yang akan dilakukan ketika terjadi bencana. Setelah perencanaan unit terkumpul, dibantu suatu draft, dokumen disusun. Penyusunan dokumen diikuti dengan rapat dan diskusi. Rapat dan diskusi menghasilkan kesepakatan bersama. Salah satu contoh kesepakatan bersama yang dicapai lewat rapat dan diskusi adalah penetapan jalur evakuasi, pembukaan titik kumpul aman, dan zona pelayanan triase. Pendek kata, RPBRS kami merupakan pemberdayaan seluruh unit.

Dokumen RPBRS mengatur perencanan sistem komando saat bencana, evakuasi pasien rawat inap, kelanjutan perawatan pasien di titik kumpul aman, pengelolaan pengunjung dan keluarga pasien, prioritisasi penanganan korban dari luar rumah sakit, aktivasi sistem pendukung pelayanan, dan asesmen bangunan dan sistem utilitas. Rencana tersebut kemudian disosialisasikan ulang kepada seluruh unit kerja, dengan dua cara. Cara pertama dilakukan di unit kerja masing-masing. Tim RPBRS berkeliling ke seluruh unit kerja untuk bicara mengenai RPBRS dan tugas secara spesifik apa yang dibebankan pada unit kerja tersebut. Cara kedua adalah dengan cara klasikal. Cara klasikal diberikan kepada para kepala unit kerja saat pertemuan dan pada karyawan baru atau baru diangkat.

Setelah fase sosialisasi selesai, kami adakan simulasi. Simulasi besar yang diadakan 6 April 2014 yang lalu bekerja sama dengan Akademi Keperawatan Panti Rapih (memperagakan pasien internal dan eksternal) dan Detasemen Perbekalan dan Angkutan (Denbekang) IV-44-02 di bawah Pangdam IV Diponegoro. Simulasi ini bertujuan menguji RPBRS dan menetapkan perencanaan untuk perbaikan di masa depan. Pada simulasi ini, kami memilih bencana gempa dan memakai situasi gempa tahun 2006.

Dalam simulasi ini, tim manajemen risiko menempatkan evaluator-evaluator di berbagai titik penting di RS Panti Rapih dan membuat asesmen mengenai jalannya simulasi. Ada beberapa catatan penting paska simulasi yang telah dibuat, misalnya mengenai kualitas triase, waktu yang dibelanjakan untuk identifikasi pasien, alur pasien saat evakuasi, pelayanan pasien di titik kumpul aman, dan lain-lain.

Paska proses penyusunan RPBRS dan simulasi, kami melihat bahwa banyak rumah sakit di Indonesia menghadapi masalah yang kurang lebih serupa dalam hal keselamatan dan kebencanaan. Banyak rumah sakit dengan sarana gedung, lokasi bangunan, dan sistem pendukung kebencanaan yang belum layak. Banyak rumah sakit di Indonesia dibangun tanpa mempertimbangkan faktor keselamatan dalam rancangannya.

Kita mengenal beberapa rumah sakit yang diselenggarakan pada bangunan yang aslinya dirancang bukan untuk rumah sakit. Banyak pula rumah sakit yang dirancang dan dibangun oleh konsultan yang belum sepenuhnya memahami prinsip keselamatan pasien dan regulasi dari Kementrian Kesehatan. Berbagai rumah sakit, swasta maupun pemerintah, juga merupakan pengembangan dari bangunan lama, sehingga kesan tambal sulam tidak dapat terhindari.

Benyak masalah dapat muncul dari keadaan ini. Salah satu masalah misalnya mengenai bidang miring (ramp) pada gedung bertingkat yang dipakai untuk melayani pasien. Banyak rumah sakit belum memiliki bidang miring tersebut, sehingga berbagai cara evakuasi pasien dari lantai atas harus direncanakan, dilatih, dan dievaluasi secara rutin.

Masalah lain yang juga menjadi perhatian banyak tim akreditasi adalah mengenai kewaspadaan terhadap kebakaran. Gedung-gedung lama banyak yang telah terbangun tanpa sistem deteksi dini kebakaran (smoke detector), alarm, dan penyemprot air (sprinkler). Dengan demikian, perlu pengadaan alat pemadam api ringan (APAR) dengan jumlah dan bahan kimia yang tepat. Di samping itu, perlu juga satu seri pelatihan agar setiap staf mengerti bagaimana mempergunakan APAR tersebut untuk supresi kebakaran.

Pengalaman RS Panti Rapih dalam menyusun dan mensimulasikan RPBRS dapat menjadi pelajaran berharga bagi rumah sakit lain. Tentunya bukan demi keberhasilan akreditasi rumah sakit saja. Lebih penting untuk memastikan sistem keselamatan di rumah sakit dapat berjalan dengan baik lewat perencanaan yang matang. Ingat kata Benjamin Franklin, salah satu founding fathers negeri Paman Sam yang pernah menasihati kita, “By failing to prepare, you are preparing to fail”. Gagal mematangkan rencana berarti kita merencanakan kegagalan. Salam keselamatan!

 

Robertus Arian Datusanantyo. Kepala Instalasi Gawat Darurat RS Panti Rapih. Tulisan ini merupakan opini pribadi.

Berikut ini adalah keempat materi yang saya sampaikan pada penyegaran PPGD untuk perawat di RS Panti Rapih. Silakan diunduh dan dipergunakan sebaik-baiknya. Bila akan dipakai dalam presentasi lain, mohon cantumkan sumbernya. Salam!

Saya sangat gusar karena program statistik yang diajarkan di Kampus Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM) adalah SPSS. Ini agak mengingkari filosofi biostatistika karena SPSS aslinya sebenarnya adalah Statistical Package for the Sosial Science yang memungkinkan para peneliti ilmu sosial untuk melakukan analisis statistiknya sendiri. Sekarang SPSS dikenal sebagai Statistical Product and Service Solutions. Versi-versi original yang tersedia sangat mahal harganya.

Keheranan saya yang lain adalah mengapa para staf di FK UGM tidak mencoba mengajarkan mahasiswa untuk mempergunakan program statistik yang bebas dan gratis karena program-program semacam itu tersedia secara luas. 

Setelah memakai Mac OS X, kendala ini kian terasa. Karena prinsip-prinsip statistika diajarkan bersama-sama dengan SPSS, agak sulit bagi saya untuk mempelajari program statistik lain yang tersedia gratis untuk Mac OS X. Kenapa harus gratis? Karena saya sudah tidak mau mengeluarkan uang menginstal Windows di MacBook Pro dan tidak mau ilegal dengan menginstal SPSS bajakan.

Nah, idealisme memang harganya mahal. Dalam pengalaman ini, mahal berarti waktu yang terpakai untuk membaca berbagai review dan blog disambung dengan waktu yang terpakai untuk mengunduh program gratis.

Saya memutuskan memakai PSPP. Anekdotal karena PSPP merupakan kebalikan dari SPSS. Antar muka yang dipakai mirip sekali dengan SPSS. Review di sini membawa saya ke halaman ini dan saya memutuskan mengunduh dari sediaan yang sudah lengkap disediakan oleh Jeremy Lavergne di sini. Mas Jeremy Lavergne bahkan sudah memikirkan untuk mengemas program ini sesuai Mac OS X yang dipakai. Versi untuk Maverick seperti yang saya pakai juga sudah ada.

Tampilan PSPP mirip sekali dengan SPSS versi yang lama. Memang program ini gratis dan menyenangkan untuk dipakai. Namun besok ketika saya pakai untuk menganalisis data thesis, pastilah muncul pertanyaan dari pembimbing maupun penguji, kenapa saya tidak memakai program standar. Pertanyaan ini akan memusingkan saya bila dilanjutkan dengan apakah PSPP memang menghitung seakurat SPSS.

Baiklah, itu kita pikirkan nanti. Sekarang, mari kita belajar statistika lagi.

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.846 pengikut lainnya.