Catatan: Tulisan ini merupakan ringkasan oleh Robertus Arian Datusanantyo dari tulisan berjudul Doctors’ Perspective on Clinical Leadership yang disusun oleh British Medical Association Health Policy and Economic Research Unit Juni 2012. Tulisan ini disusun untuk tugas summary jurnal pada blok 5 program studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat minat utama Magister Manajemen Rumah Sakit, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. 

 

 

Pendahuluan

Definisi kepemimpinan klinis memang masih belum disepakati secara luas. Di Inggris, secara nasional telah dicapai kesepahaman bahwa diperlukan visi yang koheren dan berjangka pajang antara pemimpin pelayanan kesehatan, manajer, dan dokter. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan peran kepemimpinan para dokter dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan pada pasien. Peran inilah yang mendasari berbagai kebijakan dan langkah strategis di Inggris untuk mengimplementasikan kepemimpinan klinis. Perubahan paradigma dokter menjadi pemimpin inilah yang menjadi pokok diskusi dalam tulisan ini, mencakup pengertian kepemimpinan klinis, keterampilan yang diperlukan, hambatan dan dukungan, dan peran pendidikan.

 

Desain Penelitian

Di empat lokasi berbeda: London, Leeds, Edinburgh, dan Cardiff dilakukan grup terarah dengan anggota para konsultan, dokter umum, dokter spesialis, staff grades dan associate spesialists. Di setiap tempat, dibuat diskusi terpisah antara dokter umum dan dokter pelayanan sekunder untk menjaga diskusi tetap berada serelevan mungkin dalam ranah pelayanan mereka. Secara umum, 70 dokter terlibat dalam diskusi kepempimpinan ini. Setiap diskusi berlangsung kurang lebih dua jam dan dipimpin satu atau dua fasilitator, dicatat, dan direkam untuk keperluan transkripsi.

 

Definisi Kepemimpinan Klinis

Sebagian besar dokter mengungkapkan perbedaan besar antara kepemimpinan dan manajemen. Terdapat juga kecenderungan pendapat bahwa kepemimpinan klinis bisa ditunjukkan oleh semua dokter dengan cara menjadi teladan dan berhubungan dengan senioritas. Diskusi juga menunjukkan persepsi bahwa posisi puncak dalam profesi ini tidak ada atau tidak menarik karena reward yang relatif lebih kecil. Para dokter memberikan kesan kuat bahwa posisi kepemimpinan klinis tidak boleh mengganggu peran dokter sebagai pembela pasien. Ini penting terhadap peran mereka sebagai dokter dan kepuasan profesional. Diskusi juga menemukan bahwa visi adalah hal penting dalam kepemimpinan klinis. Visi membedakan kepemimpinan dari manajemen, dan dipraktekkan lebih baik pada pemimpin senior.

Perspektif dari Dokter. Bagi sebagian dokter, kepemimpinan ditandai dengan pengalaman individual sebagai dokter dan kesadaran terhadap peran kepemimpinan dalam pelayanan kesehatan. Apabila manajemen lebih dekat pada tugas-tugas rutin, pemimpin klinis berbeda karena mempergunakan kemampuan dan bukti-bukti untuk menyelesaikan masalah klinis. Memberikan teladan juga penting dalam kepemimpinan klinis setiap tingkatan profesi. Kelompok diskusi percaya bahwa kualitas profesionalisme penting untuk kepemimpinan klinis, tapi tidak cukup. Pemimpin klinis juga harus mempunyai visi untuk perbaikan pelayanan, atau dapat mengidentifikasi keterbatasan dalam sistem pelayanan kesehatan, dan membagikan visi dengan para sejawatnya. Para pemimpin klinis yang tetap berpraktek dianggap lebih kredibel. Terakhir, seluruh peserta diskusi mempunyai rasa hormat yang tinggi bila pemimpin-pemimpin klinis ini dipilih dalam proses yang transparan.

 

Keterampilan yang Diperlukan

Diskusi mengenai keterampilan yang diperlukan sebagai pemimpin klinis ini sesuai dengan isi Medical Leadership Competency Framework terutama pada paradigma-paradigma yang terkait dengan “menunjukkan kualitas personal” dan “bekerja dengan orang lain”. Ada sedikit perbedaan antara dokter pelayanan primer dan sekunder, namun ini lebih terkait dengan konteks pelayanan klinis yang mereka lakukan. Berikut adalah nilai-nilai keterampilan yang diperlukan menjadi pemimpin klinis: kredibilitas klinis; tanggung jawab; memelihara praktek klinis; kemampuan komunikasi; keterampilan politis; dan nilai-nilai kepribadian, perilaku, dan moral. Para dokter lebih menyukai pemimpin klinis yang dapat mendengarkan dan berperilaku mengikuti penilaian berbasis informasi. Diakui juga oleh para peserta diskusi bahwa pemimpin klinis harus dapat meneruskan berbagai argumentasi rasional dengan jelas untuk dapat bekerja sama dan berkonsultasi dengan para profesional lain. Kredibilitas klinis penting juga bagi pemimpin klinis untuk dapat meraih rasa hormat dari sejawatnya dan untuk meneruskan mendukung pasien.

 

Hambatan dan Dukungan

Hambatan dan dukungan yang ditemukan sedikit berbeda mengikuti level senioritas dan pengalaman, juga pada dokter di pelayanan primer dan sekunder. Penelitian ini mengungkapkan lebih banyak hambatan dibandingkan dukungan, dan ini mungkin menunjukkan perasaan ketidakberdayaan di antara dokter. Menarik untuk disimak bahwa para peserta diskusi baik dari pelayanan primer maupun sekunder mengidentifikasi sejawatnya dapat berperan sebagai hambatan sekaligus dukungan tergantung pada situasi tertentu.

Hambatan. Hambatan yang ditemukan antara lain adalah keterbatasan waktu, tekanan klinis, dan alokasi sumber daya. Selain itu, otonomi, kemerdekaan, dan luasnya perbedaan profesi dan keterampilan juga dipandang sebagai salah satu hambatan. Peluang untuk menjadi pemimpin akibat pemimpin yang ada kurang mengakomodasi juga diungkapkan beberapa dokter umum di tingkat pelayanan primer. Terakhir, manajemen pelayanan klinis yang dibatasi oleh para manajer non klinis turut menjadi hambatan yang disebutkan.

Dukungan. Terutama di kalangan dokter pelayanan sekunder, sejawat dipandang sebagai pihak yang mendukung, terutama lewat dukungan yang menciptakan kepercayaan diri dan pemberdayaan. Peran sejawat senior diakui oleh dokter dari pelayanan primer maupun sekunder. Pengalaman mendukung dokter untuk menjadi pemimpin klinis karena pengalaman yang luas dipandang mampu untuk mengerti peran dokter-dokter lain. Menjadi dokter umum dipandang juga lebih merupakan dukungan daripada hambatan menjadi pemimpin klinis.

 

Peran Pendidikan

Secara umum, para dokter tidak dapat mengingat bahan pembelajaran dari pendidikan sarjana yang mendukung untuk menjadi pemimpin klinis. Kalaupun ada, itu terpusat pada kemampuan diagnosis klinis dan pemecahan masalah. Beberapa menggarisbawahi bahwa fakultas kedokteran merupakan tempat yang baik untuk memulai pentingnya bekerja kolaboratif, namun sebagian besar mengatakan bahwa kerja sama kolaboratif yang dekat baru mungkin terjadi setelah bersama-sama bekerja pada pendidikan di tingkat rumah sakit. Setelah lulus pendidikan, nampaknya faktor yang berperan lebih kepada pencarian pribadi para dokter terhadap keterampilan kepemimpinan dibandingkan dengan pendidikan formal.

 

Pembelajaran

Dokter rumah sakit di Indonesia selalu dibayangi dikotomi fungsional dan struktural. Seluruh aspek manajerial dan kepemimpinan selalu diasosiasikan pada dokter struktural, yang kadang tidak lagi berpraktek klinis. Sementara itu, dokter fungsional hampir selalu bersikap tidak mau tahu terhadap masalah manajemen dan kepemimpinan walaupun itu akan menyentuh urusan kesejahteraan pasien mereka. Para dokter senior yang berpengaruh semestinya mulai dikelola oleh rumah sakit menjadi pemimpin klinis sehingga dapat membawa perubahan positif di antara sejawat-sejawatnya. Bagaimana persepsi dokter terhadap pemimpin klinis pada penelitian ini dapat membantu banyak untuk hal tersebut.