Tidak sulit menemukan referensi dan sumber informasi mengenai leptospirosis. Sumber informasi dan referensi ini bisa dibaca di koran, tabloid, buku, dan beberapa media edukasi dari dinas kesehatan. Informasi juga bisa didapatkan dari radio, televisi, dan penyuluhan-penyuluhan. Volume dan penetrasi media edukasi tersebut nampak telah cukup. Namun benarkah usaha-usaha ini telah bermanfaat maksimal bagi kualitas hidup orang Jogja?

Kita akan mulai dengan pertanyaan mengapa Jogja mendapatkan prioritas dalam penanganan leptospirosis. Jawabannya sederhana. Karena Jogja mempunyai kualitas yang diperlukan untuk endemisitas dan tingkat penularan yang tinggi. Selain itu, saya meragukan bahwa media-media edukasi itu dapat dipahami dengan baik oleh sasaran media itu. Dengan tidak atau kurang dipahaminya media-media tersebut, dapat dipastikan bahwa masyarakat yang menjadi sasaran menjadi rentan terhadap resiko.

Baik. Sebelum diprotes, saya sampaikan dulu bahwa tulisan di sini juga tidak menambah penetrasi informasi ini. Saya berharap bahwa dengan tulisan ini ada diskusi bagaimana memperdalam penetrasi dan ide baru memperluas upaya perubahan perilaku masyarakat yang rentan terhadap leptospirosis. Oh ya, Jakarta juga pernah kena leptospirosis tahun 2002 yang lalu, namun Jakarta mempunyai karakteristik endemisitas yang berbeda dengan di Jogja, jadi tulisan ini tidak mencakup kondisi Jakarta dan sekitarnya walau terbuka kemungkinan ada informasi yang bisa saling dibagi.

Leptospirosis adalah penyakit pada manusia, diperantarai dan ditularkan oleh hewan, dan disebabkan oleh kuman leptospira. Kita tidak perlu terjebak pada diskusi apakah leptospira itu bakteri atau bukan, karena itu hampir tidak relevan dalam konteks klinis-epidemiologis (karena itu saya cukup sebut “kuman”). Kuman leptospira terdapat pada air kemih mamalia yang menjadi pembawa. Mamalia yang paling sering disebut membawa leptospira adalah tikus, karena tikus dapat menyimpan kuman ini selama hidupnya dalam ginjal. Mamalia yang lain juga berpotensi membawa, namun yang paling sering terkait dengan penularan ini adalah tikus. Hewan lain dapat membawa kuman leptospira tanpa terjangkit penyakit. Hewan tersebut meliputi anjing, sapi, kambing, dan domba. Semua hewan ini tinggal dekat dengan manusia.

Air kemih yang terkontamintasi kuman leptopsira masuk ke media lain, misal air di got, selokan, sawah, air sungai, atau berhenti sebagai kencing tikus yang nampak menggenang di lantai. Kuman leptospira dapat bertahan di perairan bebas selama kurang lebih 30 (tiga puluh) hari. Kuman masuk ke dalam tubuh manusia lewat selaput lendir, luka, lecet, robekan mikro, atau kelupasan mikro kulit manusia dan menimbulkan penyakit yang kita sebut leptospirosis. Secara teori, leptospirosis dapat menular dari manusia ke manusia. Namun ini jarang terjadi, sejarang kita melihat ada penderita leptospirosis yang mengencingi luka di kaki kawannya.

Leptospirosis menyerang sel ginjal maupun sel hati (lever) dan mempengaruhi sistem pembekuan darah manusia. Sebagian besar penderita leptospirosis akan sembuh sendiri. Sekitar sepuluh persen menjadi kuning, menderita gagal ginjal, dan menderita perdarahan di tubuhnya. Keberadaan ketiga tanda ini mengindikasikan adanya leptospirosis berat yang disebut sebagai Weil’s disease.

Kembali ke Jogja. Daerah penyumbang leptospirosis tinggi adalah di Jogja bagian barat dan daerah di selatannya. Secara administratif, daerah ini masuk ke Kabupaten Sleman, Kabupaten Kulon Progo, dan Kabupaten Bantul. Karena air bebas menjadi media penularan yang baik, maka penyebaran penyakit harus ditelusuri juga sesuai dengan arus sungai. Semua sungai di Jogja mengalir dari utara ke selatan. Adanya penderita leptospirosis di suatu daerah harus diikuti dengan pencarian sesuai arah aliran sungai sampai sejauh mungkin. Dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota sudah mengerjakannya secara rutin.

Jogja bagian barat adalah salah satu kantong pertanian tanaman pokok di Jogja. Banyak beras baik berasal dari sini. Sayang, dalam sepuluh tahun terakhir ini para petani di daerah ini didera hama tikus yang sangat sulit dibasmi. Para petani di kecamatan Moyudan, Minggir, dan sekitarnya bisa bicara banyak soal ini. Berbagai upaya pernah dilakukan. Mulai dari gropyokan, menumbuk cabe dan mengalirkannya di sawah, PST (pemberantasan sarang tikus – istilah bikinan sendiri), pembelian bangkai tikus, sampai menebar ular. Semuanya tidak ada yang efektif. Saking dekatnya keprihatinan mereka dengan tikus, sampai ada semacam dugaan bahwa leptospirosis yang mendera mereka saat ini adalah akibat perbuatan mereka memburu tikus dengan berbagai usaha tadi.

Bencana erupsi merapi ternyata juga berkontribusi pada penyebaran penyakit ini. Bangkai binatang yang masuk ke dalam aliran sungai menyebabkan adanya kuman leptospira ini di sungai-sungai yang menjadi terusan alirannya. Kami menemukan beberapa kasus terjadi di Jogja bagian utara yang sebelumnya jarang menjadi kontributor kasus. Daerah utara ini dekat dengan gunung Merapi. Belakangan, Kotamadya Yogyakarta juga menyumbang kasus leptospirosis lewat penduduk di sepanjang aliran sungai Code yang meluap sambil membawa kuman leptospira dari utara.

Sebenarnya pengambil kebijakan di Jogja sudah berpikir cukup panjang dengan tidak mengumumkan kejadian leptospirosis ini sebagai kejadian luar biasa (KLB). Sebagai provinsi kecil yang menyandarkan kehidupannya pada sektor pariwisata dan pendidikan, pengumuman KLB akan semakin memperpuruk perekonomian paska erupsi Gunung Merapi. Untunglah tidak demikian dengan sektor kesehatan. Peran dinas kesehatan dan para guru di FK UGM membuat kewaspadaan sektor kesehatan meningkat menghadapi leptospirosis.

Pencegahan leptospirosis sebenarnya tidak sulit. Kesulitannya adalah menaati pedoman pencegahan. Para petani, pekerja perkebunan, peternakan, dan mereka yang beresiko terpapar diminta untuk mempergunakan alat perlindungan diri. Inilah yang setengah mati sulit dikerjakan oleh para pekerja tersebut. Mereka merasa keterampilan mereka agak menurun dengan adanya alat perlindungan diri tersebut. Selain itu, mereka juga menjadi tidak nyaman saat bekerja. Karena itu ada kebijakan untuk memberikan profilaksi dengan obat yang cukup diminum satu minggu sekali. Ini juga sulit. Tidak sakit kok minum obat.

Saya mengusulkan peran pemuka agama. Daerah Sleman barat dan utara itu masih merupakan daerah tradisional yang taat pada pemuka agama. Agama Islam dan Katolik tumbuh bersama dan saling menguatkan dalam harmoni yang baik di kedua daerah itu. Peran serta pemuka agama saya rasa akan baik dan berkontribusi positif dalam mengurangi insidensi terjadinya leptospirosis di kedua kantong itu. Selain itu, para pemuka agama yang secara umum tingkat pendidikannya lebih baik sebenarnya dapat pula berkontribusi dalam mempercepat laju penetrasi dan pemahaman informasi, sehingga pencegahan lebih efektif dikerjakan.

Mengingat leptospirosis sebagian besar dapat berakhir dengan baik, perlu juga para dokter dan tenaga kesehatan untuk bisa mengenali di fase awal penyakit ini. Bagaimana mengenalinya? Ada indeks Faine yang bisa digunakan sebagai panduan. Gunakan indeks ini secara bertanggung jawab di Puskesmas atau primary health care lain dan di rumah sakit sebagai panduan memberikan antibiotik sehingga memperbesar potensi kesembuhan. Merujuk ke rumah sakit dengan fasilitas cuci darah (hemodialisis) yang sesuai dengan perekonomian pasien juga merupakan langkah yang bijaksana.

Tingkat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Jogja disebut-sebut paling tinggi di Indonesia. Kalau dilihat dari indikator kematian ibu dan bayi memang iya. Lain ceritanya kalau dilihat dari kematian akibat demam berdarah dengue dan leptospirosis. Prevalensi penyakit degeneratif (non infeksi, terkait usia) juga disebut lebih tinggi di Jogja dibanding dengan rata-rata Indonesia. Semoga dengan berbagai upaya, leptospirosis tidak berpengaruh banyak pada kualitas hidup orang Jogja. Salam!

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Anastasia Septia yang telah membantu mengumpulkan referensi untuk tulisan ini.

Robertus Arian D. (hospitalist, bekerja di IGD, ICU, dan ruang perawatan dewasa dan anak)