Seorang suami bertanya pada saya setelah istrinya saya periksa, “Jadi Dok, istri saya indikasinya apa?” Walau pertamanya bengong, saya bisa mengerti maksudnya, jadi saya jawab, “Infeksi saluran pernafasan, Pak.” Ternyata kejadian serupa ini tidak hanya sering terjadi pada saya. Beberapa rekan sejawat saya cukup sering menjumpai kisah serupa. Semakin banyak orang sekarang merasa lebih keren kalau bisa mempergunakan istilah yang asing yang maknanya mungkin tidak dikuasai dengan baik sehingga membingungkan lawan bicara.

Tulisan ini tidak akan mengkritik perilaku itu, namun akan memberikan beberapa informasi istilah yang sering dipakai di dunia medis. Dalam pendidikan dokter, istilah-istilah ini diperkenalkan sejak awal sehingga semua dokter sangat konsisten menggunakannya untuk berkomunikasi dan berpikir. Tidak heran, dalam menjelaskan kepada pasien atau keluarga pasien pun istilah ini tanpa sengaja terbawa. Berikut adalah beberapa istilah penting yang perlu diketahui.

Anamnesis. Anamnesis adalah wawancara yang dilakukan dokter kepada pasien atau keluarga pasien atau saksi yang mengetahui riwayat penyakit pasien. Wawancara ini tidak melulu menggali kronologi penyakit. Proses ini sangat penting karena pada proses ini seluruh perasaan subjektif pasien dapat digali, didalami, dipelajari sifatnya, dan dipakai sebagai dasar seorang dokter dalam berpikir untuk mencari diagnosis. Gejala yang ditemukan pada anamnesis akan dilengkapi dengan tanda (dan kalau perlu pemeriksaan penunjang) untuk mencari diagnosis.

Gejala. Gejala adalah perasaan subjektif pasien. Singkatnya, apa yang dirasakan pasien adalah merupakan gejala, misalnya: panas badan (demam), nyeri, sakit kepala, dan lain-lain. Gejala selalu ditanyakan paling awal oleh dokter untuk mencari keluhan utama. Keluhan utama adalah gejala yang membawa pasien untuk mencari pertolongan dokter. Terlepas dari berat ringannya gejala dan alasan menjumpai dokter, keluhan utama (gejala) membantu dokter dalam melayani pasien secara paripurna. Pemahaman keliru yang sering dijumpai adalah pasien mengatakan gejala demam berdarah sebagai “nyaris”. “Gejala demam berdarah” dipersepsi dan dikatakan sebagai “nyaris kena demam berdarah tapi belum”. Gejala umum (keluhan utama) demam berdarah adalah demam tinggi mendadak. Berdasarkan kekerapan penyakit timbul di daerah tertentu, demam tinggi mendadak dapat saja dikatakan dokter sebagai gejala demam berdarah, walaupun demam tinggi mendadak tidak hanya milik demam berdarah dan gejala demam berdarah tidak hanya demam tinggi mendadak.

Tanda. Tanda adalah temuan objektif yang diketahui dari pemeriksaan oleh dokter. Gejala panas badan, apabila terbukti dengan pembacaan termometer berubah menjadi tanda. Nyeri sendi yang dikeluhkan dapat saja menjadi tanda setelah dokter berupaya menggerakkan sendi tersebut secara aktif maupun pasif. Tidak semua gejala bisa menjadi tanda, misalnya nyeri kepala. Tidak semua tanda juga dapat ditemukan berdasarkan gejala, karena ada tanda-tanda penyakit yang tidak menimbulkan keluhan, misalnya nyeri menjalar pada tungkai yang muncul dengan gerakan tertentu oleh tangan dokter. Gejala dan tanda seharusnya sudah dapat membantu dokter menyempitkan kemungkinan-kemungkinan penyebab penyakit.

Diagnosis. Diagnosis adalah nama penyakit. Diagnosis juga adalah kesimpulan dari seluruh proses berpikir mulai dari analisis terhadap gejala, tanda, dan hasil-hasil pemeriksaan penunjang. Diagnosis berasal dari bahasa Yunani, yang berarti mencari satu kesimpulan dari beberapa kemungkinan penyakit. Dalam ilmu kedokteran saat ini, proses ini lebih dekat pada apa yang disebut sebagai diagnosis diferensial atau diagnosis banding. Pasien atau keluarga sering sekali menganggap bahwa diagnosis bisa semata ditentukan dari hasil Rontgen atau hasil laboratorium. Ini tidak benar.

Pemeriksaan Penunjang. Pemeriksaan penunjang adalah pemeriksaan lanjutan yang perlu dilakukan untuk membantu mencari diagnosis. Pemeriksaan lanjutan dilakukan di luar pemeriksaan fisik oleh dokter dan dikerjakan oleh unit kerja lain. Pemeriksaan penunjang yang sering dijumpai adalah pemeriksaan darah dan pencitraan menggunakan ultrasonografi (USG) ataupun sinar X (sering disebut Rontgen). Pemeriksaan penunjang selalu dilaporkan kepada dokter dengan parameter-parameter objektif, dan dengan demikian menjadi salah satu tanda. Pemeriksaan penunjang tidak pernah memberi tahu diagnosis pasien apabila tidak digabungkan dengan tanda lain dan gejala.

Indikasi. Indikasi adalah kondisi yang menyebabkan dilakukannya sebuah terapi, tindakan, atau pemeriksaan penunjang. Indikasi dapat juga merupakan sebuah tanda yang membawa pada kesimpulan klinis, atau diagnosis tertentu. Sebagai contoh, suhu tubuh di atas 39 derajat Celcius adalah indikasi diberikannya Parasetamol sebagai terapi.

Kontra Indikasi. Kontra indikasi (indikasi kontra) adalah kondisi yang menyebabkan sebuah terapi, tindakan, atau pemeriksaan penunjang tidak dapat atau tidak boleh dilakukan. Sebagai contoh, alergi terhadap penisilin adalah kontra indikasi (indikasi kontra) terapi dengan obat turunan penisilin.

Terapi. Terapi adalah perlakuan terhadap suatu diagnosis tertentu, dengan target tertentu yang terukur dan bisa dievaluasi. Tidak ada terapi yang bisa diberikan TANPA diagnosis. Oleh karena itu pada fase-fase awal hubungan dokter pasien, seorang dokter akan berkonsentrasi penuh menentukan diagnosis. Tidak semua terapi bertujuan menghilangkan penyakit. Menurut modalitasnya, ada beberapa macam terapi yang kita kenal, misalnya kemoterapi, fisioterapi, farmakoterapi, radioterapi, terapi wicara, terapi operatif, dan lain-lain. Sebagian terapi yang diberikan oleh dokter adalah farmakoterapi, yaitu terapi dengan pemberian bahan-bahan farmakologis (obat).

Tindakan. Tindakan yang dimaksud dalam konteks hubungan dokter dan pasien dapat dipersempit sebagai dilakukannya terapi non farmakologis kepada pasien. Ini dapat berupa penjahitan luka, pengangkatan appendix, operasi, pencucian luka atau borok, dan lain-lain. Hampir sebagian besar tindakan kedokteran adalah bagian dari ilmu bedah, seperti halnya farmakoterapi adalah bagian besar dari terapi ilmu medis.

Rehabilitasi. Rehabilitasi adalah serangkaian terapi yang dilakukan sebagai jembatan agar pasien yang dalam proses pemulihan penyakit dapat berfungsi kembali dalam masyarakat dan hubungan interpersonal. Rehabilitasi dalam bentuk yang sederhana dapat saja berupa latihan duduk dan berdiri setelah terbaring sakit selama beberapa waktu. Di Indonesia, ilmu rehabilitasi medis dikuasai oleh pada dokter spesialis rehabilitasi medis yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai physiatrist. Fisioterapi adalah bagian dari rehabilitasi medis, sama seperti terapi wicara, terapi okupasi, dan beberapa modalitas lain. Jumlah dokter rehabilitasi medis di Indonesia masih sangat sedikit dan merupakan cabang ilmu kedokteran klinis yang paling langka.

Dengan memahami beberapa istilah di atas, diharapkan pengetahuan masyarakat mengenai proses hubungan dokter dengan pasien dapat menjadi lebih baik. Semoga bermanfaat. (dr. Robertus Arian D. – hospitalist).