Paulo Coelho (2000) dalam bukunya “The Devil and Miss Prym” percaya bahwa pada dasarnya sifat manusia itu adalah baik. Karakter iblis dalam buku itu berusaha membuktikan sebaliknya. Sifat dasar manusia adalah baik, dan semua agama berusaha mengatasi kejahatan dengan memurnikan suara hati, menjaganya agar suara hati selalu nyaring terdengar dan tidak salah dalam menyuarakan kebaikan. Suara hati meminta kita dengan tulus untuk menyebarkan kebaikan dalam bentuk pesan agar kebaikan terus disuarakan agar kejahatan atau ketidakbenaran jangan sampai timbul.

Di tengah keriuhan teknologi saat ini, suara hati menghadapi tantangan baru. Di saat kita dihadapkan pada berbagai fasilitas dan teknologi, diperlukan metode yang murni dan etis untuk mewujudkan kebaikan yang disuarakan oleh suara hati. Kebaikan yang disuarakan oleh suara hati mewujud melalui metode tertentu untuk membuatnya benar-benar baik dalam perilaku sehari-hari.

Kedangkalan pengetahuan kita dan kompetensi yang kurang, membuat kebaikan hati kita meneruskan dan memahami informasi bisa saja berubah menjadi sebaliknya. Ambil contoh berita dari Kompas (edisi cetak) tanggal 4 Februari 2011. Di Kabupaten Gowa dua orang laki-laki dianiaya, seorang sampai mati dan seorang sampai luka berat hanya gara-gara keduanya mengendarai sebuah mobil dengan ciri-ciri seperti “milik penculik” anak-anak. Masyarakat menghentikan mereka, mengeluarkan mereka dari mobil, menganiayanya dan menjadikan seorang perempuan dan seorang remaja yang berkendara bersama mereka mungkin menderita trauma psikologis.

Mengapa masyarakat bisa sedemikian kejam? Apa hubungannya dengan suara hati?

Masyarakat daerah itu selama beberapa hari terakhir ini menerima SMS berantai tentang penculik anak yang kebetulan ciri-cirinya sama dengan orang yang dianiaya itu. Setiap orang yang meneruskan SMS berantai ini tentu orang yang baik. Mereka ingin setiap orang waspada dengan cara menyebarluaskan informasi tersebut. Mereka merasa informasi tersebut baik dan bermanfaat, sehingga tidak secara bijak menggunakan logika kebenaran untuk membuatnya menjadi perilaku yang benar-benar baik.

Demikian juga di kalangan pengguna internet. Informasi-informasi yang kita kenal sebagai hoax beredar luas. Informasi ini beredar dari alamat surel (email) yang satu ke yang lain, dari halaman facebook yang satu ke yang lain. Demikian berulang sehingga dalam satu tahun, seorang pengguna internet yang aktif dan mempunyai banyak relasi bisa mendapatkannya berulang kali. Seorang teman bahkan mengatakan bahwa sudah ada kebiasaan forward bagi dia ketika menerima informasi ini tanpa mengecek kebenarannya. Bahkan ada kecenderungan orang yang meneruskan hoax ini merasa tidak perlu memeriksa kebenarannya karena di dalam isi hoax tersebut sudah ada alasan pembenarannya.

Hoax adalah sebutan singkat untuk hocus. Hocus sendiri adalah singkatan hocus pocus untuk sebuah kutipan terkenal Hocus pocus, tontus talontus, vade celeriter jubeo dari sebuah buku terbitan tahun 1656. Hoax mempunyai beberapa ciri, namun ada sedikitnya tiga ciri yang dominan. Pertama, sebuah hoax selalu memuat informasi terkait kehidupan manusia, entah kesehatan, teknologi, atau tragedi. Informasi ini selalu dibuat bertutur dengan cerita menarik, kemungkinan agak kacau pada struktur akibat penerjemahan yang kurang akurat, dan dilengkapi dengan ciri kedua dan ketiga.

Ciri kedua adalah adanya telaah secara “ilmiah” dengan menyebutkan nama-nama atau organisasi-organisasi yang dibikin seolah-olah kredibel dalam hal tersebut. Telaah ini membuat  hoax ini seolah-olah mempunyai dasar ilmiah yang kuat. Bagian inilah yang sering membuat para penerima hoax meneruskan pesan tanpa memeriksa dulu kebenaran informasi tersebut. Ciri ketiga sangat terkait dengan suara hati, yaitu ajakan untuk menyebarluaskan informasi mengenai informasi tadi kepada sebanyak mungkin orang dengan dalih untuk menyelamatkan orang. Ketiga ciri tersebut sebenarnya sangat mudah dikenali.

Mengapa orang meneruskan informasi yang tidak jelas kebenarannya ini? Karena mereka pada dasarnya adalah orang baik. Suara hati mereka mengatakan untuk meneruskan informasi ini dengan harapan semakin banyak orang akan diselamatkan. Siapa yang tidak takut membaca informasi bahwa udang bila dimakan bersama dengan vitamin C bisa membuat mati? Atau siapa tidak gentar menggunakan komputer bila ada virus “life is beautiful”? Kedua informasi terakhir ini mungkin pernah ada dapatkan di email anda, dan saya perlu sampaikan di sini, keduanya adalah hoax.

Saat ini semakin banyak orang yang menggunakan internet. Semakin banyak informasi yang masuk dan diolah. Semakin banyak pula kesempatan menyebarluaskan informasi. Untuk itulah diperlukan information literacy, atau keberinformasian (Sudarsono, 2007). Dalam kaitan hoax dan SMS berantai (belakangan juga BBM berantai, YM berantai, dll), penulis ingin menggarisbawahi pendapat Sudarsono (2007) bahwa individu yang mempunyai keberinformasian harus dapat mengevaluasi, menggunakan, dan mengkomunikasikan informasi tersebut secara etis. Dengan demikian, berpikir kritis atas informasi tersebut menjadi kendali atas suara hati dalam mengambil sikap.

Berpikir kritis inilah yang saya tawarkan menjadi metode untuk mewujudkan kebaikan suara hati. Untuk dapat berpikir kritis, kita memerlukan suatu kemampuan dalam mengenali kapan, mengapa, dan di mana kita mencari informasi. Kita juga memerlukan kemampuan dalam melakukan evaluasi terhadap informasi, mempergunakannya, dan mengkomunikasikannya. Dengan memahami dan dapat melakukannya, setiap kali kita mendapatkan suatu informasi, dengan terampil kita bisa melacak kebenarannya, relevansinya dengan permasalahan, dan keperluan yang akan kita lakukan terhadap informasi tersebut. (Robertus Arian D. – Hospitalist)

 

Referensi

Coelho, P., 2000, Iblis dan Miss Prym – The Devil and Miss Prym, Gramedia, Jakarta

http://hoaxhariini.blogspot.com

http://en.wikipedia.org/wiki/Hoax

Sudarsono, B., 2007, Keberinformasian: Sebuah Pemahaman Awal dalam Pustakawan, Cinta, dan Teknologi (2009), Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII), Jakarta