Baru saja seorang ibu muda yang seumuran dengan saya meminta supaya saya tidak meresepkan antibiotik untuk anaknya yang sakit infeksi saluran nafas akut dan diare. Anaknya perempuan dan usianya tiga belas bulan. Saya tidak akan membahas mengenai penyakit anak itu dan indikasi antibiotik, tapi saya ingin membagikan pengalaman saya berdiskusi dengan ibu itu tentang antibiotik.

Singkat kata, ibu yang tingkat pendidikannya lumayan ini menolak antibiotik diberikan pada anaknya dengan alasan, “Menurut teman-teman saya, anak kecil tidak baik diberi antibiotik, nanti jadi resisten.” Si ibu dengan buru-buru menyahut, “sakitnya anaknya,” ketika saya tanya apanya yang resisten. Ketika saya tanya definisi antibiotik, si ibu tidak tahu. Ketika saya tanya apakah ada kemungkinan yang disampaikan teman-temannya itu benar, si ibu juga tidak tahu. Saya bertanya bila si anak benar-benar membutuhkan antibiotik, apakah juga ditolak, si ibu mengatakan, “Sebagai ibu saya tidak ingin anak saya sakit. Tapi ya bagaimana, dia kan harus sekolah, dia ikut daycare.” Tidak menjawab pertanyaan, cenderung menghindar.

Pengalaman di atas sangat menggambarkan kalangan muda dari kelas menengah-bawah, menengah-menengah, maupun mengenah-atas di Indonesia. Paling tidak sepengamatan saya. Kalangan ini konsumtif, berpenghasilan, mampu membiayai anaknya untuk ikut sekolah atau kelompok bermain dengan tarif cukup tinggi, tapi tidak kritis dan cenderung mengikuti peer group.

Harian Kompas beberapa waktu yang lalu menulis beberapa artikel mengenai perilaku kelas menengah di Indonesia yang sulit diharapkan bisa membawa perubahan walau sebenarnya jumlahnya cukup besar. Keluarga-keluarga muda ini beredar ke mana-mana, menenteng BlackBerry tapi tidak bijak memanfaatkan informasi. Mereka meneruskan hoax, menuliskan informasi yang dia tahu dari Twitter tanpa memahami esensi permasalahan, dan merasa sudah melakukan sesuatu bagi kemanusiaan dan kebaikan nurani. Pendek kata, informasi bagi mereka adalah entitas tunggal yang tidak terbantahkan.

Kembali ke masalah antibiotik, saya jadi menjelaskan beberapa hal kepada ibu itu. Pertama mengenai resistensi antibiotik. Ada suatu senjang antara apa yang ada di kepala dokter dan di kepala pasien atau keluarga pasien (selanjutnya akan disebut sebagai “pasien” saja). Sebagian besar pasien terganggu penyakit karena bakteri oleh karena gejala yang timbul dan akibatnya terhadap tubuh. Antibiotik adalah obat yang diharapkan membunuh penyebab penyakit (dalam hal ini bakteri) namun diharapkan sesedikit mungkin mempengaruhi tubuh pasien. Itu pikiran dokter. Pikiran pasien adalah, sakit saya diharapkan sembuh dengan antibiotik. Karena itu sebenarnya cukup wajar bila pasien memaklumi resistensi itu sebagai ketidaksembuhan penyakit yang diderita setelah berulang diberikan antibiotik. Fakta yang benar adalah, bakteri penyebab penyakit akan menjadi resisten terhadap serangan antibiotik, apabila antibiotik diberikan dengan jumlah, frekuensi, dan alasan yang tidak tepat. Bakteri penyebab radang tenggorokan bisa resisten dengan antibiotik tertentu, tapi radang tenggorokan tidak bisa dikatakan resisten dengan antibiotik tertentu.

Kedua, saya mengatakan bahwa saya menghormati permintaannya untuk tidak meresepkan antibiotik. Saya menambahkan bahwa pasien berhak untuk berperan serta pada terapi yang direncanakan, tetapi hanya bila pasien dan dokter berbicara dalam konsep yang sama mengenai penyakit dan rencana terapi. Apabila dalam benak pasien sudah ada informasi yang mengakar mengenai suatu modalitas terapi yang tidak bisa diubah, maka kerja sama untuk mengusahakan perbaikan atas penyakit ini menjadi mustahil. Setiap pihak harus bersama-sama terbuka dengan kemungkinan-kemungkinan, juga terhadap kemungkinan bahwa anggapannya selama ini bisa saja tidak benar. Setelah saya menjelaskan tentang antibiotik di atas, saya tanya apakah si ibu mengerti. Dia mengangguk, tapi dari mimik mukanya (semakin lama kita bekerja, semakin banyak kita bisa merasakan perasaan pasien) saya yakin bahwa dia sebenarnya mendengarkan saya untuk alasan kesopanan saja dan dia tetap bersikukuh pada pandangan teman-teman yang disampaikan padanya bahwa anaknya tidak boleh kena antibiotik sedikit pun.

Ketiga, saya menjelaskan hal-hal standar mengenai penularan kuman penyebab diare yang sangat mungkin sebenarnya berasal dari dalam rumah. Fakta ini saya sebenarnya tidak temukan di referensi. Pengamatan saya saja bahwa anggota keluarga justru paling sering abai terhadap kedisiplinan cuci tangan dan menjaga kebersihan alat makan si kecil karena kebiasaan sehari-hari. Saya memang tidak suka daycare si anak disalahkan sebagai penyebab penyakitnya karena di saat ini lebih mungkin si anak menjadi penular utama penyakit di daycare yang diikutinya. Saya menjelaskan juga kapan dia harus kembali ke pelayanan kesehatan.

Keempat, karena si ibu menderita infeksi saluran pernafasan selama empat hari lebih lama dari si anak, saya berusaha mengatakan secara tidak langsung bahwa kemungkinan utama penyakit si anak justru dari si ibu itu sendiri. Teman-temannya pasti dengan suka hati mengatakan bahwa si anak pasti tertular dari teman-temannya di daycare.

Karena saya menjelaskan hal-hal yang berbeda dengan yang dikatakan teman-temannya, saya tidak sepenuhnya berhasil. Walau begitu, dalam hati kecil, saya menduga saya tidak berhasil karena satu hal lain. Saya mengatakan sesuatu yang dia tidak sukai. Sama seperti orang menyukai sensasi ketika membaca hoax yang seolah-olah ilmiah, dan tidak suka ketika ada orang yang benar-benar secara ilmiah menyanggahnya. Saya tidak menyukai kesimpulan sementara saya. Ibu itu tidak yakin akan kebenarannya, tapi memegang kepercayaan tinggi pada apa yang dikatakan teman-temannya daripada fakta-fakta yang disampaikan seorang yang secara sengaja mempelajari hal tersebut dan mempraktekkannya secara profesional.

dr. Robertus Arian D. (Hospitalist)