Bernadeta Sumini tak pernah menyangka bahwa perjalanan pulang dari melayat di hari Sabtu siang itu akan membuatnya menjadi pembuka pintu rahmat Tuhan. Seorang siswa SMK menabraknya, menabrak suaminya, dan mematahkan tungkai bawahnya. Abai dengan nyeri pada tungkainya, Bernadeta Sumini berteriak memanggil mbah lanang yang seketika itu pingsan. Kedua orang tua ini ditolong dan dibawa ke Rumah Sakit Panti Rapih.

Suaminya tidak apa-apa, namun tungkai bawahnya sendiri patah. Penabraknya kalut tak alang kepalang. Enam tahun lalu, tepat pada hari itu, seseorang menabrak ayahnya sampai lumpuh dan melarikan diri. Rasa takut dan khawatir bahwa nenek dan kakek yang baru saja ditabraknya akan menjadi lumpuh seumur hidup seperti ayahnya membuatnya menangis, menggigil, dan ketakutan luar biasa. Guru-gurunya yang lalu datang pun tak kuasa menenangkan anak ini.

Ibu si anak bersikap lain. Ditenangkannya si anak, lalu sebagai sesama perempuan yang hidup pas-pasan dengan kerja keras, berkatalah dia pada Bernadeta Sumini, “Saya dan anak saya akan mencoba bertanggung jawab. Sesuai kemampuan, saya akan membantu biaya pengobatan. Tapi saya ini juga bukan orang berpunya, utuslah putra Ibu untuk melihat rumah saya!”

Berangkatlah anak dan menantu Bernadeta Sumini ke rumah orang tua penabrak ibu bapaknya. Bertanyalah mereka kepada para tetangga yang mengamini kelumpuhan suami si ibu enam tahun terakhir ini. Rumah kontrakan mereka jauh lebih sederhana dibanding rumah mereka sendiri yang juga bukan istana. Pulanglah mereka menemui Bernadeta Sumini yang kemudian berkata, “Ya sudah, kita jadikan saja mereka itu saudara baru kita. Saya yakin ada banyak saudara yang menyayangi saya. Mereka akan membantu biaya pengobatan supaya saya bisa berdiri dan bekerja lagi.”

Demikian Bernadeta Sumini, perempuan tua kurus yang sejak saya belajar naik sepeda selalu tersenyum, tertawa, dan bersepeda ke mana-mana. Kesederhanaan dan ketulusan sapaannya menjadikan dia sebagai orang istimewa milik semua orang. Lewat kesederhanaan dan sikap positifnya, dia membukakan pintu rahmat Tuhan. Dirinya sendiri sudah pasti akan dibantu orang-orang yang menganggapnya istimewa dan menyayanginya, sama seperti keyakinannya sendiri. Bernadeta Sumini mendapatkan berkat.

Si anak SMK akan mengingat peristiwa ini. Peristiwa di mana dia dimaafkan dan diterima sebagai saudara oleh orang yang dicelakainya tanpa sengaja. Rasa syukur dari peristiwa ini akan membuatnya lebih berhati-hati di jalan. Si anak mendapatkan berkat.

Ibu si anak akan juga mengingat peristiwa ini. Anaknya nyaris mencelakai orang seperti dulu ada orang yang mencelakai suaminya sampai lumpuh. Si Ibu bersyukur, sebab anaknya bukan pengecut seperti penabrak suaminya. Anaknya adalah ksatria. Anaknya bertanggung jawab walaupun dia direpotkan karenanya. Ibu ini tersenyum karena anaknya menarik pelajaran sangat bermakna dari peristiwa ini. Ibu ini mendapatkan berkat.

Saat saya mengunjungi Bernadeta Sumini di bangsal Elisabet I RS Panti Rapih, saya menjumpai keceriaan yang sama seperti biasa. Tak sedikitpun ada rasa sedih, takut, khawatir, atau sakit yang tercermin di wajahnya. Seperti biasa dia tetap bercanda dan tetap tersipu waktu saya singgung soal telpon genggam baru yang berhasil dibelinya awal bulan ini, beberapa waktu sebelum kecelakaan. Diceritakannya semua peristiwa ini, apa yang dirasakannya, dan mengapa dia melakukannya. Saya tersenyum, malu untuk berkaca-kaca, tapi saya juga mendapat berkat sore itu.

Berkat juga menghampiri Ibu saya yang mengunjunginya keesokan harinya. Ibu dapat pelukan mesra seperti biasa dari Bernadeta Sumini, dapat cerita lengkap, dan mendapatkan senyum dan parikan seperti biasa. Lingkungan, gereja, dan komunitas lain tanpa setahu Bernadeta Sumini sudah bergerak. Dana terkumpul, beberapa dokter dilobi dan memberikan pembebasan jasa. Semua senang, semua bersyukur, dan semua mendapatkan berkat.

Tidak banyak orang seperti Bernadeta Sumini. Celaka diubahnya menjadi berkat. Dan berkat itu bukan hanya untuk dia, tapi untuk semua orang yang ada di sekelilingnya. Semua orang merasakan geliat cinta kasih, semua orang tahu Tuhan hadir dalam hatinya. Hanya karena seorang perempuan tua sederhana bernama Bernadeta Sumini. Apa lagi yang kita minta dari Tuhan? (RAD – Pringwulung, Januari 2011)