Saya membagikan pikiran dan renungan saya ini kepada para dokter (belum spesialis), baik yang baru lulus maupun yang masih mencari tempat untuk berkarya. Saat ini ada banyak tempat untuk berkarya sebagai dokter. Ada Puskesmas, rumah sakit, klinik bersalin, klinik 24 jam, dan klinik praktek lain. Di jalur lain, ada pula program dokter keluarga, dokter kesehatan kerja di perusahaan, dan dokter di perusahaan asuransi. Praktek sendiri pun saat ini regulasinya sudah tidak terlalu rumit, namun tidak banyak lagi diminati. Selain tempat-tempat ini, masih ada universitas dan perguruan tinggi sebagai tempat berkarya.

Saya adalah seorang hospitalist. Saya bekerja di rumah sakit, dan belum pernah merasakan kompleksitas kerja Puskesmas maupun ketegangan di klinik 24 jam. Jaga malam saya terbatas di instalasi gawat darurat, bangsal perawatan biasa, dan perawatan intensif (ICU/ICCU). Semuanya di dalam rumah sakit. Saya tidak terlalu mengerti program DOTS dan PHBS, tapi saya bisa membedakan mana penderita sesak nafas yang akan membutuhkan ventilator dan mana yang tidak. Ini adalah masalah konsekuensi peran saja. Dan dari sinilah saya mulai mencari, dan menemukan sesuatu. Ada beberapa keterampilan dasar dokter yang diperlukan untuk bisa menjadi seorang hospitalist yang baik.

Pertama, dia haruslah orang yang bisa tidur di manapun, pada situasi apapun, sesingkat apapun, dapat bangun seketika dan dengan segera dapat bekerja dengan ketajaman seperti saat terbaiknya. Rumah sakit menjadi senyaman rumah sendiri. Tidak mungkin? Memang. Tapi semakin dekat seseorang dengan kriteria itu, semakin baik pula dia menjadi seorang hospitalist.

Kedua, dia haruslah dokter yang tekun membaca status pasien dari waktu ke waktu dan bisa menarik fakta dari kumpulan angka dan segelondong pemeriksaan yang mengandalkan subjektivitas beberapa pemeriksa yang berbeda. Setiap dokter tahu bahwa pada volume urin tertentu dan jangka waktu tertentu, seseorang bisa dikatakan mengalami gangguan perfusi ginjal. Namun melihat catatan jumlah urin pasien dari waktu ke waktu dan bisa menemukannya sendiri hanya bisa dilakukan oleh tidak banyak dokter.

Ketiga, dia haruslah dokter yang menguasai komunikasi dua arah yang efisien, baik kepada pasien, keluarga pasien, perawat, dokter jaga di unit lain, dan dokter spesialis. Kadang kala kemampuan komunikasi efektif kepada pasien dan keluarga diperlukan untuk menenangkan kecemasan, mempersiapkan situasi buruk yang tidak diharapkan, maupun untuk mengajak bekerja sama. Instruksi kepada perawat perlu diberikan dengan teknik komunikasi yang baik pula, karena seorang hospitalist akan sering berpindah tempat, sehingga pengawasan kepada pasien didelegasikan kewenangannya kepada perawat. Pesan yang baik dan efisien memainkan peranan penting di sini. Demikian pula masalah komunikasi dengan dokter spesialis. Semua pasien rumah sakit idealnya mempunyai dokter penanggung jawab pelayanan yang hampir semuanya adalah spesialis atau spesialis konsultan. Laporan mengenai kondisi pasien haruslah sesingkat mungkin, sistematis mulai dari identitas, menekankan pada urgensi saat itu, dan ditutup dengan usulan.

Keempat, dia haruslah seorang praktisi yang tidak melupakan aspek-aspek ilmiah. Rumah sakit yang baik mengembangkan pengetahuan dan kompetensi hospitalist lewat serangkaian kegiatan ilmiah yang berorientasi pelayanan. Kegiatan-kegiatan itu meliputi pertemuan kasus sulit, konferensi kasus kematian, audit medis, dan presentasi kasus menarik. Seorang hospitalist yang baik mampu merencanakan, merangkum, dan mempresentasikan kasus dengan baik sehingga tujuan pertemuan tersebut tercapai.

Kelima, dia haruslah orang yang mau belajar mengenai kompleksitas rumah sakit yang dipenuhi orang-orang pintar, padat teknologi, dan mengandung resiko pada tiap sudutnya. Komite medis rumah sakit tidak selalu bisa mengatur perilaku para dokter. Standar pelayanan medis dan standar prosedur operasional dapat berubah sewaktu-waktu dan setiap hospitalist harus dapat berkompromi dengan perubahan-perubahan cepat tersebut. Kadang, hospitalist harus berperan sebagai penghubung, mediator, dan problem solver. Konflik selalu berkeliaran di sekeliling dan tuduhan tak beralasan selalu menggantung di atas setiap bed.

Keenam, dia haruslah dokter dengan sensitivitas tinggi dalam mengenali kegawatan, menanganinya dengan sempurna dan paripurna, dan melaporkannya pada saat kegawatan telah terlampaui. Kegawatan medis yang terjadi di instalasi gawat darurat berbeda dengan kegawatan medis di bangsal dan di perawatan intensif (ICU/ICCU). Cara penanganan kegawatan juga berbeda di tiap unit kerja karena fasilitas yang tersedia juga berbeda.

Ketujuh, dia haruslah dokter yang memilih sepatu terbaik karena harus bergerak dengan kecepatan yang menakjubkan. Bisa berada dalam dua atau lebih tempat dalam waktu yang hampir bersamaan tanpa merasa lelah dan kekurangan ketajaman berpikir dan analisis. Seorang hospitalist melayani laporan dan panggilan. Terkadang perlu mendampingi pemeriksaan radiologi tertentu, atau “tiba-tiba” terjadi kegawatan di unit lain. Saya sering berpikir bahwa dari bentuk sepatunya, kita bisa melihat hospitalist mana yang paling cepat bisa merespon panggilan kegawatan.

Kedelapan, dia haruslah bisa menyaksikan kematian dengan hati sekeras batu namun menyampaikannya dengan ketulusan merpati. Tidaklah bijaksana untuk larut dalam kesedihan karena “kegagalan” menyelamatkan seseorang, tetapi bersimpati kepada keluarga yang kehilangan adalah tindakan terpuji yang dampaknya sangat luar biasa menenangkan bagi kedua belah pihak.

Setiap dokter bisa mempertimbangkan untuk bekerja sebagai hospitalist. Dengan membaca uraian saya di atas, gambaran kerja sebagai hospitalist bisa didapatkan. Saya mengundang hospitalist lain untuk menambahkan keterampilan-keterampilan dasar lain yang diperlukan untuk menjadi seorang hospitalist yang baik. Saya belum dapat menjadi hopitalist yang seratus persen baik dan ideal. Saya berusaha. Anda?

dr. Robertus Arian D. (Hospitalist, Yogyakarta)