Alumni Kursus PFCCS Pertama di Indonesia Bersama Para Instruktur

Pediatric Fundamental Critical Care Support (PFCCS) adalah salah satu kursus yang ditawarkan oleh Society of Critical Care Medicine (SCCM). PFCCS adalah “adik” kandung dari kursus Fundamental Critical Care Support (FCCS) yang telah diajarkan sejak pertengahan tahun 1990 dan telah mencapai edisi yang keempat. PFCCS menekankan prinsip penanganan sesuai motto SCCM: Right Care, Right Now khusus untuk pasien-pasien pediatri. PFCCS edisi pertama diluncurkan tahun 2008 dan Indonesia adalah negara ketiga yang telah menyelenggarakan kursus ini.

Sebelum menjalani dua hari kursus, para peserta diharapkan telah membaca dan mengerti buku panduan PFCCS yang terdiri dari 17 modul dasar, 7 modul lanjutan, dan 16 apendiks. Buku teks hadir hanya dalam bahasa Inggris-Amerika dan tebalnya 615 halaman.

PFCCS dimaksudkan bagi para praktisi klinis: dokter, perawat, ahli bedah, anestesiolog, atau siapapun yang tidak familiar dengan penanganan pasien anak-anak. Walau demikian, dalam kursus kemarin hampir separuhnya diisi oleh SpA.

Saya beruntung karena dapat turut serta dalam kursus pertama yang diselenggarakan di Indonesia, sekaligus ketiga di luar USA. Sepanjang pengetahuan saya, hanya ada dua dokter umum yang ikut kursus ini. Sisanya adalah SpAn, Spa, dan satu SpAn-KIC. Karena ini adalah kursus pertama, maka ada tiga orang asing  yang hadir sebagai  instruktur. Instruktur ini mengajari para calon instruktur Indonesia dan juga mengajar langsung kursusnya. Mereka adalah Rodrigo Mejia (course director, USA), Maureen Madden (USA), dan Osama Kentab (Arab Saudi).

Alumni PFCCS diharapkan mampu melakukan penilaian pasien sakit kritis (critically ill) pada anak-anak, memberikan intervensi yang perlu, melakukan penilaian ulang, sampai dengan melakukan transport supaya pasien ini mendapatkan pelayanan definitif oleh pediatric intensivist, intensivist, pediatric cardiologist, ahli bedah, atau pusat pelayanan pasien kritis pediatri lain.

Sama seperti kursus-kursus yang lain, pada kursus PFCCS ini juga terdapat berbagai akronim yang memudahkan praktisi untuk mengambil keputusan. Salah satu akronim penting yang menjadi dasar manajemen a-la PFCCS adalah DIRECT. Pendekatan DIRECT ini pada aplikasinya mirip dengan pendekatan ABCDE pada primary dan secondary survey pada kursus advanced life support. Direct adalah kepanjangan dari:

D etection
I ntervention
R eassessment
E

C

ffective-

ommunication

T eamwork/transport

Dari sekian banyak modul dan apendiks tadi, SCCM menggarisbawahi perlunya peserta kursus menguasai dengan sangat detil bab-bab berikut ini:

  1. Assessment of Critically Ill Child
  2. Airway Management
  3. Cardiopulmonary/Cerebral Resuscitation
  4. Mechanical Ventilation
  5. Diagnosis and Management of Shock
  6. Acute Infection
  7. Fluids and Electrolytes
  8. Traumatic Injury in Children
  9. Non-Accidental Injuries: Diagnosis and Management
  10. Sedation, Analgesia, and Neuromuscular Blockade

Pendekatan kasus nampaknya masih dianggap sangat efisien. Oleh karena itu, kasus-kasus banyak sekali dipaparkan untuk menekankan penggunaan konsep DIRECT.

Lesson Learned

  1. Ada beberapa perbedaan penanganan antara yang di-ideal-kan oleh SCCM dengan apa yang bisa dilakukan di Indonesia. Hampir semuanya terkait dengan obat-obatan yang ada di Indonesia. Misalnya Lorazepam hanya ada sediaan intramuskuler di Indonesia, sementara di USA, lorazepam dipakai seperti kita memakai diazepam di sini. Atau albuterol yang dipakai di USA sama seperti kita memakai salbutamol di Indonesia.
  2. Dalam PFCCS, tidak disebutkan moda transportasi selain ambulans, pesawat, dan helikopter. Di Indonesia, kita memakai hampir semua moda transportasi untuk melakukan transportasi pasien, misal kapal dan perahu, sampai dengan sepeda dan kendaraan pribadi keluarga pasien. Yang penting dalam menjembatani perbedaan-perbedaan ini adalah konsep dasarnya.
  3. Di negara-negara maju, komunikasi antar dokter tetap tidak dapat se-optimal yang diharuskan di dalam buku. Walau demikian, pemahaman konsep komunikasi efektif harus terus dilakukan untuk memperbaiki keselamatan pasien.
  4. Seorang intensivis di USA, walaupun tahu bagaimana cara melakukan setting terhadap ventilator, tidak diperkenankan menyentuh ventilator untuk melakukan setting. Itu adalah tugas respiration therapist. Bagaimana dengan di tempat kita? Mana sajakah yang terbalik?
  5. Walaupun ada yang skeptis terhadap kursus-kursus dari SCCM, saya rasa ini juga akan menjadi standar bagi para dokter umum yang bertanggung jawab jaga bangsal dan ICU, sama seperti ATLS dan/atau ACLS menjadi standar bagi para dokter jaga IGD. Suatu saat nanti. So, prepare or beware
  6. Tulisan saya tentang FCCS ada di sini.

dr. Robertus Arian D. (Alumni FCCS & PFCCS)