Nokia E51

Duh, moga-moga uneg-uneg ini tidak berakhir di pengadilan. Saya kecewa dengan pelayanan Nokia di Jalan Mangkubumi Yogyakarta. Mbak-mbak cantik di lantai dua gagal memahami kekhawatiran saya, dan justru terkesan berusaha supaya saya tidak berusaha memasukkan hp saya untuk diservis di situ.

Begini cerita lengkapnya.

Tanggal 24 Oktober siang hari, saya dan 7 orang teman naik mobil berangkat dari Padang menuju kota Padang Panjang. Hujan deras di Lembah Anai menghentikan kami karena ada resiko longsor, sehingga kami kembali berbalik arah menuju kota Padang. Pada perjalanan memutar itulah HP Nokia E51 saya terjatuh di rerumputan tanpa saya ketahui. Sudah lewat setengah jam ketika akhirnya HP itu saya temukan kembali, dalam kondisi basah karena hujan namun hidup normal dan sempat menerima sms. Tanpa buru-buru, saya langsung matikan, lepas baterenya, saya buka chasing belakangnya dan saya angin-anginkan.

HP itu tidak saya pakai dan hanya saya taruh di dalam tissu kering tebal yang empuk, terpisah dari baterenya. Saya pikir, batere adalah sumber listrik, sementara hubungan arus pendek karena basah bisa terjadi kalau ada sumber listrik saja.

Sampai di Jogja, tanggal 28 Oktober pagi saya bawa HP itu ke tempat servis Nokia di Jalan Mangkubumi. Mbak-mbak yang tidak saya catat namanya itu bertanya apa masalahnya, dan saya ulang cerita di atas dengan lengkap. Saya tambahkan bahwa saya harap pusat servis ini bisa melakukan pengecekan kondisi di dalam E51 itu sebelum saya bisa dengan aman menghidupkannya kembali.

Sebelum melakukan apa-apa, mbak itu langsung bilang garansi hilang karena jatuh dan basah. Oke, saya terima karena itu memang ketelodoran saya sebagai user. Kemudian mbak itu bilang bahwa ada kemungkinan bila diservis data akan hilang dan ada resiko mati total. Data hilang oke, karena saya punya back-up data itu di MacBook saya. Tapi resiko mati total inilah yang membuat saya bertanya-tanya. Saya bertanya, ada berapa kejadian HP diservis di sini lalu mati total? Dia menjawab: fifty-fifty.

Buset, dah!

Nah, saya bertanya apakah ada pertanggungjawaban dari Nokia bila ternyata HP ini diservis kemudian mati total. Mbak-mbak itu menjawab, “Kami konfirmasi dulu ke Bapak, karena bisa saja sebelum diservis HP itu sudah mati total, sehingga itu bukan tanggung jawab kami.” Wah, kesannya jadi mulai tidak enak ini. Saya pancing lagi, dengan pernyataan bahwa saya kan pengen HP ini dicek, sehingga kalau memang tidak apa-apa saya bisa menghidupkan lagi dan memakainya dengan aman.

Si mbak ini ternyata tidak bisa menerima konsep bahwa saya hendak berlaku aman pada handset saya. Dalam pikiran si mbak ini, tugasnya adalah menerima barang rusak, diservis dengan resiko fifty-fifty mati total, sudah selesai. Tidak ada dalam kamus si mbak ini bahwa ada orang-orang dengan kebutuhan seperti saya. Ini tergambar jelas pada kejadian berikut ini.

Si mbak bilang bahwa HP ini belum tentu rusak, dan untuk mendukung argumennya, dia meminta teknisinya untuk MENCOBA dulu apakah HP saya itu baik-baik saja atau rusak. Saya mulai berdoa, karena dengan keterangan si mbak tadi, saya beranggapan bahwa kalau di dalam body handset saya tadi masih ada airnya sedikit, maka pastilah ketika dihubungkan dengan sumber tenaga, bisa konslet, dan mati total tanpa saya bisa mendapatkan pertanggungjawaban apa-apa.

HP saya menyala dengan normal, dan berfungsi juga dengan normal.

Saya masih berusaha membuat si mbak yakin bahwa saya ingin hardware ini dicek, sehingga saya bisa pakai tanpa was-was. Tapi si mbak ini menyepelekan saya dengan mengatakan bahwa HP saya tidak apa-apa kok, buktinya ini bisa menyala. “BESOK SAJA KALAU ADA APA-APA, MATI ATAU KENAPA, BARU DISERVIS LAGI, PAK!”

Kesabaran saya habis, dan saya pindah ke tukang servis di sebelahnya, bengkel Honda, untuk menservis karburator motor saya.

Lesson learned:

1. Sebenarnya saya sadar bahwa keteledoran sayalah yang menyebabkan saya berada dalam situasi ini.

2. Walau demikian, sah-sah saja dong, bagi saya untuk meminta kepada badan servis terpercaya untuk memeriksa alat yang saya punya, dan menyatakan bahwa alat ini aman dipakai lagi atau tidak (atau memerlukan treatment tertentu supaya sehat lagi).

3. Si mbak ini menyelepekan saya, yang notabene pengguna E51, dari seri communicator Nokia (walau paling murah). Seorang pengguna seri E tentunya tahu persis, kejadian apa yang menyebabkan handsetnya perlu diservis atau tidak. Dan kalau seorang pengguna seri E datang ke tempat servis, mestinya pengguna itu tahu persis, bahwa ada yang salah dengan handsetnya dan itu perlu diakomodasi dengan semestinya.

4. E51 saya baik-baik saja sampai saat ini. Assessment si mbak mengenai HP saya mungkin benar, tapi dia gagal membuat saya loyal pada Nokia dan jaringan servisnya dengan mengatakan bahwa 1 dari dua handset yang mereka tangani mati total ketika diservis (fifty-fifty tadi dia bilang).

5. Kapan-kapan, kalau si mbak datang periksa ke saya, mau saya tanya, “Mbak, kalau dokter anda mengatakan bahwa fifty-fifty kemungkinan anda hidup atau mati setelah ketemu dengan dokter, kira-kira anda masih mau berobat, gak?”

6. Fifty-fifty itu peluang. Memang cuma ada dua, pilihannya: hidup atau mati. Tapi bukan itu yang saya tanyakan sebenarnya. Seberapa sering hal itu terjadi, sehingga saya bisa mengkalkulasi seberapa besar resiko saya mempercayakan handset communicator paling murah ini ke tangan mereka. Dan si mbak jelas gagal. Dan saya kecewa.

nb. Gambar diambil tanpa ijin dari sini.