Setiap kali terbang dari Jogja, ketika di runway, saya selalu merasa bahwa pesawat ini tak akan berhasil terbang. Tidak seperti di bandara lain, di Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang sekalipun. Dan syukurlah saya selalu salah selama lima tahun terakhir ini. Ketika akhirnya pesawat ada di atas kota Yogyakarta, saya selalu sadar bahwa di bawah sana –di bandar udara internasional Adi Sutjipto– ada sekumpulan orang yang bekerja sama dengan beberapa kumpulan orang lain lagi dari tiap maskapai yang bekerja keras, untuk mewujudkan safety dalam penerbangan. Kita belajar dari orang-orang ini, karena mereka mungkin adalah orang-orang yang paling konsisten di negeri ini dalam menjaga keamanan.

Sebenarnya seberapa aman yang diperlukan? Kapten Lim menggarisbawahi pertanyaan ini dalam majalan Three Sixty di dalam kabin AirAsia. Beliau menulis bahwa murah bukan berarti tidak aman. Setiap kali naik AirAsia, saya merasa setuju dengan pendapat Kapten Lim ini. AirAsia terasa murah bukan karena murahan tapi jelas terasa karena efisiensinya yang tinggi. Prosedur-prosedur safety pun dikerjakan secara efisien. Ketika maskapai lain belum memulai prosedur safety-nya, kru AirAsia telah hampir selesai melakukannya. On board, saya belum pernah menjumpai maskapai lain yang menghentikan demonstrasi keselamatannya ketika ada penumpang yang berdiri (dan demikian menginterupsi demonstrasi).

Pengalaman dengan airline ini membuka pemikiran saya mengenai safety di rumah sakit. Tidak semua (saya rasa lebih tepat: TIDAK ADA) rumah sakit di Indonesia membuka data mengenai keamanan pasien (patient safety). Patient Safety juga jarang (tidak pernah) menjadi alasan seorang pasien atau keluarganya memilih perawatan di suatu rumah sakit. Alasannya lebih kepada: keberadaan dokter, fasilitas, harga, dan kualitas perawatan.

Persatuan rumah sakit di Indonesia sebenarnya sudah lama menaruh kepedulian pada masalah ini. Bahkan di situsnya, mereka pernah merilis mengenai sembilan solusi yang ditawarkan oleh WHO dalam mengurangi kejadian tidak diharapkan di rumah sakit. Setiap rumah sakit pasti mempunyai sistem pelaporan dalam hal ini, namun tidak semuanya terbuka melaporkan hasilnya pada masyarakat.

Saya tidak terlalu menguasai masalah patient safety ini, tapi setiap kali selesai kontak dengan pasien, saya selalu berpikir apakah saya telah mengusahakan keamanan bagi mereka dengan sebaik-baiknya? Tidak terlalu sulit sebenarnya membiasakan diri untuk mengusahakan keamanan pasien bahkan pada praktek sehari-hari yang hanya melibatkan dokter dan pasien, tanpa sistem kompleks seperti di rumah sakit. Tindakan tersebut antara lain: selalu mengusahakan tulisan yang jelas dan mudah terbaca pada lembar rekam medis dan pada resep; selalu mencuci tangan dengan bahan alcohol-based; membiasakan menyapa pasien dengan namanya untuk menghindari kesalahan; pada waktu anamnesis, tanyakanlah beberapa hal yang menjadi ciri di rekam medis, misalnya usia, pekerjaan, dll untuk mencegah rekam medis yang salah; membicarakan kepada pasien tentang rencana terapi dan apa yang harus dilakukan bila ada perubahan pada tubuhnya; menanyakan riwayat alergi sebelum memutuskan terapi; dan menjelaskan satu demi satu nama obat beserta indikasinya.

Tidak semua dokter merasa mempunyai cukup waktu bahkan untuk mencuci tangan. Tiap kali harus mengunjungi lebih dari satu pasien, saya kadang juga luput tidak mencuci tangan setiap kali akan menyentuh pasien. Repot kalau harus kembali ke nurse station untuk cuci tangan lalu kembali lagi ke kamar pasien. Kadang ada tempat cuci tangan di sekitar pasien, sehingga waktu bisa dihemat.

Mengenakan sarung tangan yang baik juga sering luput dikerjakan. Ketika sarung tangan steril untuk mengganti verband telah terpasang, kadang tanpa sadar kita pakai juga untuk menuangkan obat. Tanpa sadar kita telah membawa langsung bakteri itu ke luka pasien.

Banyak hal, sebagian besar adalah hal sepele yang sering tidak kita pikirkan yang bisa berdampak besar bagi keselamatan pasien. Mulai dengan menyapa pasien menggunakan nama yang tertera di rekam medis bisa menjadi awal yang baik. Pengalaman saya belum banyak, mari kita bersama-sama belajar untuk bisa melayani pasien lebih baik lagi. Salam!