robertusariandotcomAkibat pertanyaan dari dr. A.Y. Haryanto sore tadi, saya jadi ingat bahwa saya punya janji pada diri sendiri (dan terutama untuk menandingi momon yang skeptis) bahwa saya akan rajin menulis di sini. Jadi, marilah kita bicara tentang babi. Maksud saya, flu babi.

Secara internasional, flu babi disebut sebagai swine flu. Jadi jangan sepolos saya yang mencari di search engine dengan keyword: pig flu. Duh, bodohnya saya. Beranjak dari kebodohan itu, mari kita bahas satu-satu mengenai flu ini, dan mengapa kita tidak perlu panik menghadapinya.

Pandemi Spanish Flu tahun 1918 membuat para ahli kesehatan masyarakat selalu waspada atas potensi pandemi yang sama. Setelah SARS dan avian influenza (flu burung, walau lebih tepat disebut flu unggas), kini ada ancaman serupa yang disebut sebagai flu babi atau swine flu. Potensi pandemi ini telah menyalakan alarm kewaspadaan di seluruh perbatasan negara di dunia termasuk Indonesia. Total kematian akibat flu ini dalam beberapa minggu ini telah melampaui seluruh korban meninggal akibat flu burung di Indonesia selama beberapa tahun terakhir.

Flu babi disebabkan oleh virus influenza A H1N1. Bedakan dengan flu burung yang H5N1. Sama dengan flu burung, ada tiga tingkatan diagnosis flu babi, yaitu kasus suspect, probable, dan confirmed. Seseorang dikatakan suspect flu babi bila menderita suatu penyakit saluran nafas dengan demam yang tiba-tiba dengan salah satu kondisi berikut:

1.  Kontak dengan penderita kasus flu babi confirmed dalam 7 hari terakhir, atau

2. Melakukan perjalanan ke Amerika Serikat atau daerah lain di mana terdapat minimal satu kasus confirmed flu babi, atau

3.  Tinggal di tempat di mana ada minimal satu kasus confirmed flu babi.

Seseorang dikatakan probable flu babi bila menderita suatu penyakit saluran nafas dengan demam yang tiba-tiba dan memenuhi salah satu kriteria berikut ini:

1.  Positif untuk influenza A namun negatif untuk H1 atau H3 dengan RT PCR.

2.  Positif untuk influenza A dengan influenza rapid test atau immunofluorescent assay ditambah memenuhi kriteria suspect.

Seseorang dikonfirmasi sebagai penderita flu babi bila menderita suatu penyakit saluran nafas dengan demam yang tiba-tiba dengan konfirmasi virus influenza H1N1 yang diperiksa dengan real time PCR atau kultur virus.

Mari kita tidak usah pusing dengan klasifikasi tersebut. Mari kita fokus pada bagaimana gaya hidup kita bisa menghindarkan kita dari resiko penularan flu babi.

Tidak ada literatur yang saya baca di CDC menyebutkan keterlibatan babi dalam penularan virus flu ini. Virus ini memang menular dengan sangat cepat di antara babi-babi di peternakan, tapi sedikit sekali kasus manusia tertular dari babi, apalagi dari dagingnya. Itulah sebabnya saya heran kenapa Indonesia serta merta menghentikan impor daging babi. Manajemen emosional khas Indonesia. Walau demikian, babi memang menjadi tempat yang potensial perkembangan strain virus baru yang berbahaya bagi manusia mengingat tingginya kompatibilitas manusia dengan babi.

Flu babi menular melalui droplets bersin orang sakit. CDC menggarisbawahi bahwa tidak mungkin satu perilaku dapat mencegah penularan flu babi. Perlu beberapa perilaku, yaitu cuci tangan (dengan sabun atau bahan yang mengandung alkohol), menutup mulut dan hidung saat batuk, tinggal di rumah saja selama sakit (kecuali untuk memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan), dan meminimalkan kontak dengan anggota rumah tangga yang lain. Apabila memerlukan diri untuk keluar dari rumah, orang sakit diharapkan mengenakan masker atau respirator (bentuknya seperti yang biasa dipakai para pekerja sampah). Bila keduanya tidak ada, boleh memakai sapu tangan atau sleyer saja. Membatasi kontak sosial juga merupakan langkah yang penting. Kontak sosial sementara lewat sini saja dulu. CDC menetapkan jarak 6 kaki (WHO menulis kira-kira satu meter) sebagai jarak yang bisa diterima bila harus melakukan kontak sosial bagi penderita sakit saluran pernafasan.

Nah, kapan anda harus mencari pertolongan medis berkaitan dengan gejala infeksi saluran nafas? Pertama, bila ada sesak nafas atau nyeri dada. Selanjutnya apabila ada warna biru atau ungu pada bibir, muntah dan tidak bisa minum, ada gejala kekurangan cairan (pusing bila berdiri, kencing sedikit atau tidak ada, atau pada bayi tidak ada air mata waktu menangis).  Pada keadaan yang lebih serius mungkin ada kejang atau penurunan reaksi ketika dipanggil atau orang sakit menjadi bingung (gelisah).

Nah, semoga informasi ini bisa membantu. Anda tidak usah takut makan daging babi asal dibersihkan dan dimasak dengan teliti (virus mati pada suhu 70 derajat Celcius). Tetap kembangkan kebiasaan hidup bersih dan sehat, karena inilah yang akan menyelamatkan hidup anda, bukannya melarang orang berdagang karena ketakutan yang tidak berdasar.