rsud-sekayuBeberapa rekan, saudara, dan sahabat bertanya alasan kenapa saya pergi dari Rumah Sakit Sekayu. Rumah sakit yang membesarkan saya dan memberikan kepada saya banyak kesempatan baik. Tulisan ini tidak akan membahas hal itu. Saya akan mencoba membagikan sesuatu yang rasanya tidak semua pernah saya bagikan pada banyak orang secara lengkap.

Tidak seperti perkiraan banyak orang di dalam rumah sakit, saya belum pernah kenal dengan dr. Makson yang waktu itu menjadi direktur di sana. Ada tempat bernama Sekayu di Kabupaten Musi Banyuasin saja baru saya tahu dua bulan sebelum bekerja. Saya melihat ada lowongan kerja sebagai dokter umum dengan gaji 2,5juta sebulan di rumah sakit. Penelitian yang saya pimpin atas perintah peneliti utama sudah akan berakhir. Saya mencoba bertanya kepada pemberi lowongan via email tanggal 9 Mei 2007 dan dijawab lengkap. Saya baru mengirimkan lamaran tanggal 8 Juni 2007 karena saya menunggu tes dan wawancara di salah satu yayasan Kristen. Di samping itu, orang tua tidak terlalu sependapat dengan keputusan bekerja di Sumatera Selatan.

Sore hari Minggu tanggal 25 Juni sepulang dari luar kota (pernikahan teman sesama dokter) saya ditelpon dan diminta bertemu dengan dr. Makson (direktur RSUD Sekayu) Senin malam tanggal 26 di Solo karena beliau sedang ada pertemuan di sana. Kebetulan hari itu saya harus melayat ke Semarang. Jadi saya berangkat pagi-pagi dengan bus, lalu dari Semarang langsung ke Solo, menginap di rumah Oom saya. Malam hari tanggal 26 saya bersama dengan seorang kawan seangkatan diterima wawancara dengan dr. Makson di sebuah warung lesehan. Hasilnya saya diskusikan dengan Oom saya dan kedua orang tua serta tidak lupa dengan Nana.

Belakangan saya baru tahu bahwa kami berdua menarik minat dr. Makson karena dalam surat lamaran kami berusaha secara maksimal mengemukakan apa yang bisa kami tawarkan kepada rumah sakit. Belakangan juga saya baru tahu bahwa dr. Makson lebih condong meminati kawan saya karena berbagai kelebihan yang dia miliki. Kawan saya tidak jadi ikut berangkat ke Sekayu karena alasan pribadi. Jadilah saya segera memesan tiket pesawat dan berangkat hari Minggu tanggal 1 Juli 2007. Sore saya sampai di Palembang dan siang berikutnya langsung berangkat ke Sekayu tanpa ada seorang pun yang saya kenal di sana.

Total saya bekerja selama kurang lebih satu setengah tahun di Sekayu. Dalam kurun waktu tersebut, saya enam kali pulang ke Jogja untuk berbagai keperluan. Saya merasakan penghiburan dari Tuhan mengingat saya pernah berada dalam keadaan yang tidak stabil karena gagal dalam PPDS. Ujian pertama saya di Sekayu datang  pada hari kerja ketiga. Ada undangan dari IDI Musi Banyuasin. Di dalam pertemuan itu, salah seorang kepala Puskesmas bertanya kepada direktur RSUD Sekayu, mengenai kebijakan direktur RSUD yang mempekerjakan dokter-dokter baru yang non muslim. Dia berbicara “atas nama” dokter-dokter muslim lain yang merasa “tersinggung” karena itu. Pada forum itu, di depan dr. Makson, di depan ibu Kepala Dinas Kesehatan yang belum pernah saya jumpai sebelumnya, saya menjawab, “Kalau saya tidak diterima bekerja di sini karena saya dianggap tidak mampu, saya akan terima. Tapi kalau saya tidak diterima bekerja di sini karena saya Katolik, saya akan perjuangkan itu walaupun sampai darah saya habis.”

Saya sungguh heran. Di pertemuan organisasi profesi yang sudah saling mengangkat sumpah, orang bisa mengangkat topik yang demikian. Tapi ternyata itu tidak berhenti sampai di situ. Direktur yang Kristen dan Batak ternyata menjadi tantangan selama sisa pekerjaan saya di sana. Semua orang tahu bahwa rumah sakit tidak akan pernah bisa berkembang tanpa peran serta dr. Makson yang sebesar itu, namun masih saja orang mengaitkan itu dengan isu bahwa dr. Makson melakukan itu dengan pertimbangan misi keagamaan. Suatu pandangan yang saya anggap sudah ketinggalan jaman di tengah Indonesia yang seperti ini.

Akhir tahun triwulan keempat 2007 sampai dengan triwulan ketiga tahun 2008 adalah saat-saat yang paling menggairahkan selama saya di Sekayu. Haji Alex Noerdin (bupati) yang hendak mencalonkan diri menjadi gubernur sungguh mengoptimalkan segala potensi yang ada di kabupaten untuk diperkenalkan sebagai realisasi dari visinya. Sebagian kecil dari visi itu terwujud dalam berobat dan sekolah gratis.

Saya tidak mengenal Pak Alex secara pribadi. Namun saya mengagumi beliau atas keberpihakannya pada rakyat kecil dan keadilan. Saya mendukung beliau bukan karena saya bekerja di Sekayu. Saya melihat bahwa beliau benar-benar berusaha menyejahterakan rakyat yang dipimpinnya. Hampir semua yang dilakukannya visioner, berpihak pada rakyat dan detil. Cara beliau memotivasi orang-orang di sekitarnya (belakangan) saya tahu juga luar biasa, sehingga orang mau melakukan apa saja untuk dia bukan karena menghormati Pak Alex, tapi karena menghormati ide dasar dan kerja keras mewujudkan ide dasar tersebut.

Rumah sakit berbenah. Kerja sama dengan Putra Specialist Hospital Melaka diintensifkan dengan pengiriman tiga pasien hidrosefalus yang tidak dapat kesempatan operasi di Palembang. Ketiganya diantar oleh saya, dr. Makson, dan satu perawat. Kami belajar sekalian mengenai banyak aspek pelayanan pasien di sana dan pulang membawa banyak ide. Saya bersyukur karena kesempatan ini, karena saya bisa masuk ke dalam kamar operasi, suatu hal yang sangat jarang bisa dilakukan di negara-negara persemakmuran seperti Malaysia.

Belum cukup, rumah sakit lalu menjalin kerja sama dengan RSUD Cengkareng. Pasien-pasien yang bisa dikirim ke Cengkareng, beserta dengan paket pendampingan untuk perawat, jadi punya harapan. Selain untuk kerja sama tata laksana pasien, RSUD Cengkareng juga membantu masalah pendampingan RSUD Sekayu menjadi Badan Layanan Umum Daerah.

Kegiatan lain yang saya kerjakan di Sekayu adalah bikin seminar. Seminar-seminar ini walaupun dilakukan di Palembang, tujuan utamanya satu. Memperkenalkan RSUD Sekayu sebagai salah satu pusat rujukan dengan fasilitas dan pelayanan yang baik. Sambutan baik sekali. Walaupun difitnah (tetep) sebagai kegiatan Kristenisasi oleh orang-orang yang bisanya banyak bicara sedikit kerja, kami jalan terus. Fitnah tak kalah serius adalah bahwa kegiatan ini mengambil dana rumah sakit sedemikian hingga para pegawai kontrak tidak terbayar gajinya. Fitnah yang sungguh keji karena sampai saat saya keluar, kami sebagai penyelenggara masih menanggung utang beberapa puluh juta dari kantong pribadi dr. Makson. Tidak ada uang sepeser pun yang dikeluarkan bendahara rumah sakit untuk seminar-seminar tersebut kecuali uang jalan yang dipakai oleh para perawat yang kami ikutkan dalam seminar itu untuk menambah pengetahuan. Oya, dengan beberapa puluh ribu rekening telpon dan fax.

Tekanan demi tekanan terus berlangsung. Kelicikan dan kelicinan silih berganti. Tapi saya maju terus. Apalagi saya ditempatkan di poli bedah mulai pertengahan tahun 2008. Datang paling pagi dan pulang paling siang. Jasa medis mulai terasa naik karena memang anggaran ikut naik. Sempat dapat cibiran juga dari dokter umum lain yang pembagian jasa medis interennya memakai sistem lain. Padahal ya sebenarnya sama saja. Kalau memang malas bertanya pada yang menghitung jasa medis, ya terima saja dengan rasa syukur. Gak usah selalu mempertanyakan kenapa yang ini dapat segitu dan aku dapat segini.

Saya dan keluarga mulai membicarakan untuk mencoba mencari kesempatan kerja yang lain waktu saya pulang Lebaran 2008. Mulai saat itu saya mencoba memasukkan lamaran ke berbagai tempat. Sampai akhirnya saya benar-benar angkat kaki satu hari sebelum hari Natal 2008 tanpa sempat berpamitan pada banyak orang yang saya hormati.

Saya sangat menyesal untuk hal itu.

Banyak pelajaran yang saya petik selama bekerja di Sekayu. Pelajaran pertama adalah: Jangan sekali-sekali mengejar uangnya pasien. Sebagian besar pasien yang ke Sekayu adalah orang miskin. Bukan karena miskin lalu uangnya tidak dikejar. Walaupun miskin, mereka dibayar oleh asuransi ataupun oleh program Jamkesmas Muba Semesta. Justru dengan mengesampingkan pikiran mengenai uang, saya bisa fokus mengelola mana yang perlu dan mana yang tidak. Tindakan apa yang harus dilakukan sekarang, mana yang tidak.

Pelajaran kedua adalah: Mengupayakan sekuat-kuatnya yang terbaik bagi pasien. Banyak pasien bedah plastik dan bedah orthopaedi yang benar-benar “rusak” secara fisik. Mengusahakan operasi dan penyembuhan bertahap bagi mereka benar-benar usaha yang keras dan penuh ketidakpastian. Bahkan membawa sendiri pasien dengan ambulans sampai ke Jakarta pun pernah saya lakoni untuk tujuan itu.

Pelajaran ketiga adalah: Jangan menolak pekerjaan apapun, karena dengan melakukan itu, banyak pelajaran bisa didapat. Paling banyak adalah mendapatkan relasi. Dengan relasi, pengetahuan saya berkembang. Rantai manfaatnya sangat panjang sampai tidak terbayangkan.

Saya menjadi orang yang lebih baik setelah dari Sekayu. Lebih terampil, lebih fokus, dan lebih tertata orientasinya. Total, saya pernah melakoni pekerjaan sebagai sopir ambulans pasien, sopir ambulans jenasah, sopir pengangkut mesin rontgen, sekretaris, bendahara, humas, tukang publikasi, tukang jemput dokter spesialis, tukang desain, tukang ketik, sopir pribadi, pengantar pasien, juru bayar, juru masak, guru, dokter bangsal, dokter IGD, asisten operasi, operator bedah minor, dan lain-lain termasuk jadi oom yang baik buat satu anak pintar dan satu anak lucu menggemaskan.

Jadi ada empat sebab saya tidak melanjutkan bekerja di Sekayu. Sebab nomor satu sampai tiga adalah yang terpenting. Sebab keempatnya adalah karena saya memprediksi bahwa kondisi perpolitikan lokal akan sangat tidak kondusif bagi perkembangan rumah sakit. Masuknya ibu-ibu yang (maaf) terlalu sering bicara tanpa hasil kerja yang jelas sudah mengindikasikan hal itu.

Perkiraan saya terbukti.

Rumah sakit adalah institusi yang sangat rumit. Sangat kompleks, karena di dalamnya melibatkan orang dengan kecerdasan dan keterampilan yang tinggi. Independensi dokter yang tinggi lambat laun akan berbenturan dengan manajemen yang orientasinya keteraturan dan kemajuan. Memegang kuasa memang enak. Tapi tunggu sampai saat konflik itu datang. Rasakan sendiri orang-orang bisa dengan cepat meninggalkan loyalitasnya. Mempercayakan rumah sakit sebesar itu pada orang-orang yang kurang mampu bukanlah tindakan yang bijaksana. Cenderung bodoh. Hanya sebesar itukah, kemampuan pemimpin Muba?

Tapi kalau orientasi manajemen bukan untuk keteraturan dan kemajuan, mungkin konflik itu tidak akan ada. Awasi saja kemundurannya pelan-pelan!

Di balik itu semua, saya merindukan beberapa orang. Saya merindukan mas Anto yang selalu menyapa saya dengan bahasa Jawa tingkat terendah. Sesuatu yang dalam budaya kami menampakkan penerimaan sebagai teman dalam (justru) tingkat paling tinggi.  Saya merindukan Bu Rosimah, yang dengan standarnya sendiri yang tinggi berusaha mengatur supaya klinik bedah bisa jalan lancar tanpa harus kekurangan ini dan itu di tengah pekerjaan. Juga karena prinsipnya yang menjamin pasien selesai tanpa harus banyak repot mengurus ini dan itu. Saya menghormati beliau yang dalam keterbatasannya berupaya sekuat mungkin membuat semua pekerjaan menjadi efisien. Saya merindukan bercanda bersama anak-anak farmasi ditambah Wiwid. Juga kru IGD yang sampai saya keluar sungguh seragam dalam standar kerjanya.

Saya tidak bercerita pada banyak orang bahwa saya pernah mengalami pelecehan yang sungguh keji. Dimarahi oleh dokter senior di depan seluruh pasien bangsal. Apalagi dimarahi dengan alasan yang tidak benar dan tidak pernah saya lakukan. Saya selalu merujuk kepada beliau semua pasien saya yang kiranya memerlukan perawatan sesuai dengan bidang ilmunya. Saya selalu mengatakan hal positif tentang beliau kepada para perawat. Saya sangat terluka waktu itu dan berharap itu tidak menimpa dokter umum yunior lain di sana di masa depan. Beberapa hari sebelum saya keluar, tepatnya itu terjadi. Jangan menghubungkan hal itu dengan keluarnya saya karena memang tidak berhubungan. Di depan kepala dinas saja saya berani bicara seperti di atas tadi, apalagi sama dokter senior itu. Hanya saja, memang akhir-akhir ini saya sering memikirkan kematian para pasien akibat dispepsia fungsional di bangsal RSUD Sekayu.

Tulisan ini opini. Karena fakta yang “sebenarnya” adalah apa yang anda percayai. Anda bisa membandingkan penuturan saya ini dengan penuturan mbakyu saya di sini.

Semoga ramalan saya tidak terjadi dan semoga motivasi politik jangka pendek tidak mengorbankan RSUD ke tangan orang-orang yang kurang mampu.