Janin Hasil Aborsi (Sudah disamarkan biar gak terlalu ngeri) 

 

Janin Hasil Aborsi (Sudah disamarkan biar gak terlalu ngeri)

Angka dua juta aborsi setiap tahun di Indonesia tentu mengejutkan kita. Lebih dari separuhnya dilakukan oleh permpuan muda yang berusia kurang dari 24 tahun. Tentu hal ini membangkitkan pertanyaan pada diri kita mengenai apa, bagaimana, dan mengapa hal ini terjadi di negara kita yang katanya religius ini.   

Aborsi dalam dimensi moral dan hukum berarti pengeluaran janin sejak dari konsepsi atau pembuahan sampai dengan kelahirannya (Kusmaryanto, 2005). Aborsi dari dimensi medis bisa digolongkan menjadi abortus spontan dan abortus provocatus (disengaja). Abortus provocatus dibagi menjadi dua, abortus provocatus medicinalis (ada indikasi medis demi keselamatan ibu) dan abortus provocatus kriminalis (tidak ada indikasi medis). Jenis aborsi terakhir inilah yang kita pandang sebagai pokok permasalahan dari dimensi moral dan hukum.

Ada berbagai macam alasan melakukan aborsi, yaitu tidak ingin memiliki anak karena khawatir mengganggu karir, sekolah atau tanggung jawab lain, tidak memiliki cukup uang untuk merawat anak, tidak ingin memiliki anak tanpa ayah, masih terlalu muda (terutama mereka yang hamil di luar nikah), aib keluarga, atau sudah memiliki banyak anak (karena gagal kontrasepsi). Alasan-alasan ini bertanggung jawab terhadap 93% kasus aborsi. Sisanya melakukan aborsi karena korban inses atau perkosaan (1%), membahayakan nyawa calon ibu (3%), dan janin akan tumbuh dengan cacat yang sangat serius (3%)

Gereja Katolik jelas menolak aborsi. Gereja Katolik, Vatikan, bersama negara-negara Asia, dan beberapa negara Amerika Latin berada pada sisi yang menolak aborsi (pro life), sedangkan beberapa negara di Eropa berada pada sisi yang mengijinkan aborsi (pro choice). Pendapat yang terakhir ini berdasarkan pemikiran utama bahwa seorang perempuan mempunyai hak untuk menentukan apa yang akan terjadi dengan tubuhnya.

Indonesia termasuk negara yang menolak aborsi. Hal mengenai aborsi ini diatur dalam KUHP dan juga diucapkan dalam lafal sumpah dokter. Walau begitu, masih ada kebijakan pemerintah dan masyarakat kita yang secara langsung mendorong terjadinya aborsi. Siswi yang diketahui hamil dikeluarkan dari sekolah. Mahasiswi yang hamil di luar nikah diberi sanksi akademis. Hal-hal ini secara tidak langsung turut berperan dalam memperbesar angka aborsi di Indonesia. Belum lagi pandangan di masyarakat bahwa janin yang tumbuh akibat hubungan di luar nikah adalah anak haram, aib, dan lain-lain. Sisi kemanusiaan dan adanya rencana Allah yang indah atas tumbuhnya janin dilupakan.

Kusmaryanto (2005) mengusulkan suatu aksi bersama untuk meningkatkan mutu kehidupan, suatu kerangka besar menolak praktek aborsi di Indonesia. Aksi pertama adalah dengan pendidikan seksualitas. Pendidikan ini diarahkan untuk penghargaan atas martabat seksualitas manusia agar bisa dipergunakan sebagaimana dimaksudkan oleh sang Pencipta. Kesucian seksualitas, hubungan seksual suami-istri dalam perkawinan hendaknya menjadi penting, agar kaum muda sungguh menjaga perilaku dan tidak masa bodoh. Sampai saat ini, pendidikan seksualitas di negara ini masih berupa fisiologi dan pengenalan alat-alat reproduksi, sangat sedikit yang membahas perilaku seksual.

Kedua, penghargaan hidup manusia mulai dari fertilisasi (pembuahan) sampai dengan kematian naturalnya. Proses yang terjadi dalam rahim seorang perempuan perlu dipahami, sebab embriologi modern dengan jelas menyangkal anggapan bahwa nyawa baru masuk ke janin beberapa lama setelah pembuahan.

Ketiga, pendidikan masyarakat. Penting sekali agar masyarakat tidak menjadi permisif (mengijinkan segala sesuatu) tetapi juga tidak mudah menghukum.  Keempat, perlunya tanggung jawab untuk melihat bahwa permasalahan janin yang tumbuh dalam rahim perempuan adalah hasil perbuatan laki-laki dan perempuan. Sehingga hendaknya bukan perempuan saja yang menanggung akibat fisik dan mental kehamilannya.

Kelima, kita sebagai anggota gereja tidak cukup hanya melarang aborsi, namun juga harus melakukan tindakan konkret untuk mendukung mereka yang berada dalam kesulitan atau dilema tersebut. Ini adalah identitas kekristenan kita, membantu sesama yang kesulitan, agar dapat keluar dari permasalahan tersebut dengan cara yang bermartabat. Bagaimana caranya? Antara lain dengan pendampingan perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak dikehendaki, mencarikan dan menunjukkan alternatif selain aborsi, penyuluhan masyarakat, lapangan kerja bagi perempuan yang membutuhkannya, memberdayakan dan advokasi perempuan, mengembalikan kepercayaan diri perempuan yang mengalami goncangan harga diri, dan mencarikan orang tua bagi bayi-bayi yang orang tuanya tidak mau memeliharanya.

Nah, siapkah kita sebagai orang Katolik untuk melakukannya? Siapkah kita menggugat ketidakadilan seperti yang dirasakan perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak dikehendaki itu?

Note: Tulisan ini dibuat atas pesanan seorang teman untuk buletin majalah parokinya, namun urung diterbitkan. 

 

Referensi

http://www.aborsi.org

http://www.abortionfacts.com

Kusmaryanto CB, Tolak Aborsi, Budaya Kehidupan Versus Budaya Kematian, 2005, Kanisius, Yogyakarta