natalie-dylanSeseorang merasa prihatin dengan penderitaan rekannya yang terkena kanker leher rahim. Beliau bertanya pada saya, apakah kanker leher rahim yang diderita kawannya itu berkaitan dengan kebiasaan suami kawan tersebut yang sering “main perempuan”. Mengatakan bahwa ada hubungannya berarti menimpakan kesalahan secara tidak langsung pada suaminya sekaligus mengesampingkan fakta bahwa penyebab kanker adalah polifaktorial.

Saya langsung teringat pada standing banner yang pernah saya lihat di Rumah Sakit Panti Rapih. Alat komunikasi visual itu mendorong para ibu untuk membantu melindungi anak perempuan mereka dari kanker leher rahim. Mengingat penyebab kanker yang tidak pernah tunggal, mungkin orang akan bertanya-tanya mengapa dorongan itu dirasakan signifikan sampai harus dikampanyekan.

Leher rahim atau cervix uteri adalah bagian terbawah rahim (uterus) yang menghubungkan liang vagina dengan rongga rahim (cavum uteri). Bagian terbawah cervix uteri adalah ujung dalam liang vagina. Kanker pada cervix uteri ini sering disebut kalangan medis dan paramedis dengan istilah “C A Cervix” yang sebenarnya kurang lengkap karena “cervix” artinya adalah leher.

Kanker menurut kamus milik Apple, Inc. berarti suatu penyakit yang disebabkan oleh pembelahan sel yang tidak terkendali. Wikipedia mendefinisikan secara lebih lengkap dengan menambahkan “perusakan jaringan sekitar oleh sel kanker dan penyebaran melewati darah atau pembuluh getah bening” atas definisi sebelumnya.

Seberapa banyak orang yang terkena penyakit ini? Saya belum menemukan datanya di Indonesia. Sebuah sumber menyebutkan bahwa kanker leher rahim adalah penyebab kedua terbanyak kematian perempuan akibat kanker. Orang-orang kulit hitam lebih sering terkena daripada orang kulit putih, dan orang Asia dikatakan mempunyai kemungkinan terkena penyakit ini hampir sama besarnya dengan orang kulit putih. Status sosial ekonomi berbanding terbalik dengan kemungkinan terkena penyakit ini. Ini menjelaskan mengapa orang kulit hitam (terutama di Afrika) lebih beresiko terkena penyakit ini daripada orang kulit putih.

Resiko terkena penyakit ini meningkat dengan beberapa hal yang menyangkut perilaku. Merokok adalah salah satu faktor yang meningkatkan resiko kanker leher rahim. Perilaku seksual yang beresiko juga merupakan faktor resiko. Perilaku ini meliputi inisiasi hubungan seksual yang terlalu dini, hubungan seksual tanpa alat pelindung yang berupa barrier, pasangan yang berganti-ganti, dan riwayat infeksi menular seksual. Satu lagi resiko juga berkaitan dengan perilaku, yaitu supresi sistem kekebalan tubuh, misalnya pada infeksi HIV.

Virus yang disebut Human Papilloma Virus (HPV) ditemukan pada lebih dari 99% kasus kanker leher rahim. HPV, seperti namanya, dapat menyebabkan kutil pada kulit. Telah ada lebih dari 130 tipe HPV yang sudah diidentifikasi. Sebagian, 30-40 tipe, ditularkan lewat hubungan seksual. HPV tipe 16 dan 18 diketahui berhubungan dengan dua tipe kanker leher rahim ganas. Selain kedua tipe di atas, diketahui bahwa tipe 31, 33, 35, 45, 52, dan 58 juga berkaitan dengan kanker leher rahim. Diperlukan waktu kurang lebih 12 tahun sejak infeksi sampai terjadi perubahan jaringan menjadi sel kanker.

Nah, dua paragraf di atas telah terjawab. Khusus mengenai paragraf kedua, memang benar bahwa seorang ibu bisa membantu anaknya untuk menghindari kanker leher rahim. Menunda hubungan seksual dini, mencegah berganti-ganti pasangan seksual, dan menghindari rokok.
Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah, dengan mengetahui resikonya, apakah telah ditemukan upaya pencegahan yang bisa dilakukan?

Skrining adalah jawaban para ahli kesehatan masyarakat. Skrining adalah pemeriksaan pada orang yang tidak mengeluhkan gejala penyakit, namun berada dalam resiko terkena penyakit. Skrining ini disarankan untuk semua perempuan yang telah aktif secara seksual guna mengetahui sejak dini apakah ada kelainan di tingkat sel pada leher rahim.
Teknik skrining yang paling populer adalah teknik yang ditemukan oleh Papanicolaou. Teknik yang kemudian dinamakan sesuai penemunya, pap smear, mengambil apusan dari leher rahim untuk kemudian diperiksa di bawah mikroskop. Teknik skrining yang sekarang sedang dikembangkan adalah dengan mencari langsung keberadaan virus tersebut dalam tubuh seseorang.

Kalau berkaitan dengan virus, apa tidak bisa dengan vaksinasi saja?

Pertanyaan yang bagus. Memang ada vaksinasi HPV. Kemanfaatan vaksinasi ini juga cukup baik. Namun sampai saat ini, vaksinasi ini lebih diarahkan kepada populasi yang sulit atau bermasalah dengan skrining terutama di negara berkembang. Vaksinasi bermanfaat apabila diberikan sebelum seorang perempuan terpapar dengan virus tersebut, yang berarti sebelum aktif secara seksual. Literatur menganjurkan pemberian vaksinasi seperti disebutkan ditambah dengan skrining rutin.

Bagi anda para dokter, berikut ini ada guidelines yang bisa diunduh dari sini dan di sini.

Catatan: Walau gambar di atas diambil dari sini, namun ide untuk mengambilnya berasal dari sini.

Referensi
Goodrich K, Daaz-Montez TP. Cervical Cancer dalam Fortner KB, Szymanski LM, Fox HE, et al (Ed.). Johns Hopkins Manual of Gynecology and Obstetrics, The, 3rd Edition. Lippincott Williams & Wilkins. 2007

Safaeian M, Solomon D, Castle PE. Cervical Cancer Prevention–Cervical Screening: Science in Evolution. Obstet Gynecol Clin N Am 34 (2007) 739–760

Saslow D, Castle PE, Cox JT, et al. American Cancer Society Guideline for Human Papillomavirus (HPV) Vaccine Use to Prevent Cervical Cancer and Its Precursors. CA Cancer J Clin 2007;57:7–28

Standring S (Ed). Gray’s Anatomy 39th Edition. Elsevier Inc.. 2005

Waxman AG, Zsemlye MM. Preventing Cervical Cancer: The Pap Test and the HPV Vaccine. Med Clin N Am 92 (2008) 1059–1082