pakdhe saya dari pihak ibu tadi pagi berkata pada saya di meja makan, “saya takut sekali karena sekarang materialisme sungguh muncul bahkan ketika kita ke gereja.”

kamus bawaan macbook saya mendefinisikan materialisme sebagai “tendensi untuk menganggap bahwa materi dan kenyamanan fisik lebih penting daripada nilai-nilai spiritualitas”. sementara itu, oom wiki di sini menyatakan kepada khalayak ramai mengenai definisi materiaisme dari segi filosofis.

mas herbowo sampurno pernah menulis mengenai materialisme dan premanisme di indonesia di sini. tidak terlalu jauh, saya akan menulis mengenai bagaimana sebuah cita-cita yang pernah diperjuangkan bisa luntur dalam waktu yang relatif singkat hanya karena materi, dalam hal ini uang,

akhir tahun 2006 kami pernah menggagas suatu ide: satu seminar untuk setiap angkatan kelulusan. sederhana saja, kami ingin budaya sebagai ilmuwan dalam profesi kami terus dipertahankan. selain itu juga sebagai penghormatan kepada guru-guru kami di fakultas dan kepada fakultas itu sendiri. dua tahun lebih berjalan, dan di sinilah saya, merasa bodoh mengikuti seminar dengan maksud untuk menghargai apa yang kami cita-citakan dulu. semuanya berubah. seminar dipakai sebagai ajang mencari keuntungan dengan mengatasnamakan kepanitiaan kelulusan. keuntungan kemudian dibagi dua, satu untuk panitia yang merupakan kelompok kecil di dalam kelompok besar angkatan lulus, dan angkatan lulus itu sendiri.

saya mengirimkan surat pribadi kepada beberapa teman yang terlibat langsung dengan ide awalnya, berikut kutipannya:

“….. di sinilah segala sesuatunya jadi menjengkelkan. pada perbincangan dengan salah seorang panitia, saya
akhirnya tahu bahwa seminar ini sama sekali sudah jauh melenceng dari apa yang kita cita-citakan waktu merintisnya dulu, dua setengah tahun yang lalu. saya jadi merasa sangat bodoh. awalnya saya tidak pikir panjang langsung daftar karena merasa ikut memiliki “tradisi” ini, dan saya merasa harus menghormati adik-adik yang meneruskannya ….”

dokter ratna dewi puspita memberikan kometar berikut ini (nb. maaf ya ratna, aku edit dengan penambahan huruf vokal supaya memudahkan sidang pembaca):

“arian, ak malah ga gitu ngerti kalau tujuan seminar angkatan di bawah kita jadi melenceng begitu. tapi kalo memang kaya gitu aku juga kecewa berat. speechless nih…”

dokter hanggoro tri rinonce memberikan komentar sekaligus memberikan janji. beliau ini sering nyek-nyekan dengan saya, tapi sebenarnya kami sepakat dalam banyak hal, termasuk yang beginian. berikut komentar beliau yang menyejukkan:

“ri… kita sudah sama2 tau sejak pelantikan dokter angkatan di bawah kita… saya juga kecewa… tapi… saya tidak bisa berbuat banyak… saya cuma merasa wajib berjanji… untuk meluruskan keadaan ini ketika kelak saya punya “tangan-tangan”… “suara” di fakultas untuk merubahnya… ri… dulu sekali saya sudah tau kalau mendidik, menanamkan sesuatu itu suatu perkara yang sulit… Setelah saya mulai mendidik saya tau kalau itu memang perkara yang luar biasa sulit…”

dokter risalia reni arisanti dan dokter ishak yunanto suryawan juga memberikan komentar. namun karena keduanya langsung berkomunikasi lewat messenger, saya tidak punya arsip yang bisa saya pertanggungjawabkan untuk dikutip di sini.

saya pernah mengajak sejawat saya sekalian ketika kami disumpah, untuk tidak melakukan korupsi. aslinya, korupsi itu berkaitan dengan penyalahgunaan wewenang untuk kepentingan diri sendiri (silakan baca tulisan orang yang berkompeten di sini). sedangkan korupsi di era modern ini mengandung tiga unsur, yaitu memperkaya diri sendiri atau orang lain, melanggar hukum, dan merugikan negara. definisi aslinya ini bisa dikonfirmasi kembali di situs resmi ini.

adakah yang diperbuat adek-adek saya ini korupsi? menyalahgunakan wewenang untuk memperkaya diri sendiri… saya tidak berani menjawabnya.