dinihari tanggal 6 saya dan direktur berjumpa dengan seorang sopir truk yang bawa apel dari jakarta ke jambi. kami sama-sama makan mie rebus di pangkalan balai, banyuasin, sumsel. kopir itu bercerita tentang banyaknya pungli yang selalu menderanya di timbangan llaj. Sekali lewat bisa 50 sampai 500 ribu melayang untuk oknum yang bekerja di timbangan itu.
ketika mendengar ada janji berobat gratis oleh gubernur sumsel terpilih, h. alex noerdin, dia dengan ringannya berkomentar, “pak, saya ini punya delapan anak. saya menyekolahkan anak saya sampai kuliah. saya dan anak-anak saya pernah sakit. Tidak mungkin itu ada sekolah dan berobat gratis. kalaupun ada berobat gratis, itu pastilah uangnya dari hasil pungutan di timbangan itu…”
spontan dalam hati kami ketawa ngakak. tapi demi kesopanan, direktur berusaha menjelaskan dengan hati-hati megenai pembiayaan kesehatan dan pendidikan.
mengutip ketua pengurus pusat idi, hati-hatilah menggunakan istilah berobat gratis, karena sulit dimengerti, dan menimbulkan salah persepsi. beliau menganjurkan istilah pembiayaan kesehatan. saya sependapat. tapi saya juga merasa bahwa kabupaten musi banyuasin yang baru saja ditinggalkan h. alex noerdin bisa sukses menyelenggarakan berobat gratis yang sebenarnya adalah pergeseran pembiayaan kesehatan (baca: berobat ke puskesmas dan rsud) dari out of pocket (mengutip laksono trisnantoro) kepada pembiayaan oleh pemerintah kabupaten lewat dinas kesehatan. bahkan sampai saat ini, kepada pasien di poli saya sering sekali bilang, “urus ktp dan kk, pak! supaya bisa berobat gratis ke rumah sakit”
tanggal 7 november ini h. alex noerdin dilantik menjadi gubernur sumsel. satu tahun yang ditargetkannya untuk melaksanakan sekolah dan berobat gratis. kita tunggu.
dan kepada sopir truk yang tadi, kami sempat bilang, “pak, berobat gratis bisa sukses dilakukan di musi banyuasin. kami tahu karena kami inilah yang melakukan. dan dananya bukan dari timbangan…”

actually written at 07.35, nov 7th, salemba satu hospital