anda bisa membaca posting sebelumnya di sini.

orang singapura ini sibuk-sibuk. berjalan dengan cepat dan dengan pandangan lurus ke depan. adek-adek abg-nya pakai pakaian seadanya. celana super pendek ketat dan tank top yang longgar. lumayanlah, sekali-sekali curi-curi pandang, hehehehe…

pertama, kami menuju toko buku. titipannya nia adalah “developmental biology 7th edition”. setelah mengamati bagaimana toko buku ini menyusun buku-buku koleksinya, mulailah saya mencari satu demi satu di deretan rak yang tepat. gak ada. bertanyalah saya pada mbak-mbak yang melayani informasi. memang gak ada. direktur beli dua buku. satu tentang referensi nama-nama spesialis di singapura beserta tempat prakteknya, satu lagi buku tentang anjing.

setelah agak puas memanfaatkan jasa baca gratis, kami keluar dan minum sambil ngobrol di kafe yang menyatu dengan toko buku. kami sempat berpikir untuk pulang dengan kereta ke kuala lumpur lalu ngebis lagi ke melaka. kami juga memikirkan bagaimana caranya dapat penginapan murah. akhirnya, direktur menelpon penasehat spiritual di jakarta.

perjalanan dengan kereta api terlalu mahal. mau balik ke kovan sudah mepet. penasehat spiritual menyarankan cari penginapan murah di dekat mount elizabeth hospital. maka kami menuju bangunan yang dimaksud. ternyata itu adalah sebuah pusat perbelanjaan yang bernama lucky plaza. kata seorang teknisinya, kami bisa bertanya kepada seorang security officer di tandas (toilet) lantai 1 tentang penginapan ini. kami ikuti petunjuknya. si security bilang bahwa kami harus naik ke lantai 2, cari lift no 5, 6, 7, atau 8 dan naik ke lantai 9-30 tergantung apartemen mana yang mau kami cari.

bingung.

tapi kami ikuti dulu petunjuknya. berkat dua orang laki-laki indonesia yang kebetulan kami “tangkap”, mengertilah kami bahwa ternyata ada orang yang punya apartemen di sini dan menawarkannya sebagai tempat untuk menginap. hanya saja dia gak tahu siapa namanya dan nomor kontaknya. maka kami memutuskan untuk mengikuti petunjuk security tadi. naiklah kami ke lantai 9. sepi. kosong. ke lantai 10. sepi. kosong. kebetulan di lift depan kami sempat dengar ada orang indonesia juga bilang, “enam belas” untuk maksud yang gak jelas. karena tidak ada pilihan yang jelas, angka 16 itu kami pilih sebagai tujuan lift.

pintu sebelah kiri lift terbuka, dan seorang pria tampak duduk nonton tivi. golkar kami minta bertanya. si bapak ini namanya joko, dan dia bilang bahwa kami bisa menemui ibu *r*** di lantai 20. ketemulah kami dengan alamat yang dimaksud, dan kami dapat satu kamar semalam untuk berempat dengan seratus dolar singapura (= 2 malam di hotel terbaik di sekayu). kami dapat kunci sendiri, tapi harus bayar di muka.

maka dimulailah petualangan malam kami di orchard road. mulai dari memata-matai cewek-cewek berpakaian mini berdandan tebal yang bisa disewa itu, sampai ke berbagai gaya berpakaian orang singapura. tapi tetap saja, perjalanan kami berakhir di mcdonald yang ada di trotoar (buka 24 jam) dan mengobrolkan banyak hal di situ, sampai akhirnya kami merasa lelah dan memutuskan untuk pulang ke penginapan.

masalah menghadang. pintu terkunci. harus pakai main entrance di lantai 1. kamipun ke sana. tapi akses ke lift no 5, 6, 7, dan 8 tetap terkunci. kami bolak-balik ke atas, bawah, mencari jalan. akhirnya kembali golkar kami korbankan untuk bertanya. ternyata ada pintu khusus di belakang gedung yang bisa diakses lewat trotoar sebelahnya. untuk masuk, kami harus memakai interkom yang ada di depan pintu.

akhirnya bisa tidur.

jam enam pagi kami berangkat. ke stasiun mrt, naik mrt ke dhoby ghaut lagi, lalu ke kovan, dan beli tiket dari si ibu yang tetap ngotot memakai tarif imleknya. bisnya sama seperti kemarin. bis yang sama dengan driver yang sama.

dan dengan demikian, berakhirlah petualangan 19 jam di singapura yang tak terlupakan.

foto-foto perjalanan kami hasil jepretan mas arif the journalist bisa dilihat di sini.