direktur ngajak jalan-jalan ke singapura, sekalian survei untuk mematangkan rencana bikin travel agent khusus health tourism. maka, jumat sore itu bertanyalah saya ke bagian informasi putra specialist hospital tentang bis (bas) ke singapura. katanya, “pergilah ke melaka sentral dan beli tiketnya. segera karena dekat-dekat dengan imlek ini pasti penuh.”

maka pergilah kami ke sana, ke konter “jebat express” dan membeli empat tiket ke singapura untuk sabtu pagi tanggal 2 februari 2008. masing-masing harganya 17 ringgit malaysia. untuk saya, direktur, golkar perangin-angin, dan mas arif the journalist.

kami berangkat jam 8 pagi. keluar dari malaysia lancar. masuk ke singapura ternyata lebih rumit daripada keluar dari malaysia. gila, ni negara kelihatannya sudah paranoid banget. direktur dan golkar perangin-angin langsung lolos masuk singapura. saya ditanya sama mbak-mbak imigrasi yang masih muda, manis, dan berkulit kuning, “first time to singapore?” saya jawab, “yes.” “where are you going to stay?” “i dont. i’ll come back to malaysia tonight” “but still you have to fill the address that you’re going to.” busyet, ni mbak maksa betul… akhirnya kujawab, “alexandra hospital.” lancar. si mbak langsung memproses dll, tapi kok layar komputernya menghitam dan dia sibuk ngetik-ngetik dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari yang biasa kulakukan? eh, ternyata dia bilang, “please wait here, sir!” sambil menahan paspor dan kartu kunjunganku. beberapa saat kemudian ada mbak-mbak berambut cepak yang menjemputku dan menempatkanku di sebuah ruangan, penuh orang yang tampaknya juga bermasalah untuk masuk ke singapura ini. leganya, ada mas arif the journalist di situ, yang dengan banyak senyum menceritakan percakapannya (a) dengan petugas imigrasi (i) sebagai berikut:

i: “first time to singapore?”
a: “yes”
i: ” are you a moslem?”
a: “yes”
i: “wait here, sir, you need to go inside for clearance…”
a: “nnnah………”

singkat kata, kami berdua berhasil lolos dari kantor imigrasi tanpa disiksa, ditelanjangi, dan diinterogasi dengan cermin satu arah…

sampailah kami berempat di kovan hub. sebuah tempat seperti terminal di belakang sebuah mal yang dulu bernama hougang south bus interchange. langsung kami mencari tiket pulang malam itu. sialnya, ibu-ibu yang jaga konter bilang harga tiketnya 40 dolar singapura. gile… melaka-singapura aja 17 ringgit, kok bisa-bisanya singapura-melaka 40 dolar? itungan orang waras manapun gak akan sampai pada sistem penarifan seperti itu. 1 ringgit itu sekitar 2800 rupiah, sementara 1 dolar singapura itu sekitar 6500 rupiah. bagaimana mungkin kami berangkat ke singapura dengan modal 47600an rupiah dan harus pulang dengan 260000an rupiah untuk moda transportasi dengan kualitas serupa? alasannya: imlek.

direktur gak mau. kita pulang besok pagi aja. kalau perlu kita semalaman jalan terus, gak usah nginep. hotel di sini tiga kali lipat harganya. busyet… dengan logika bahwa, “jika energi penuh, kita bisa berpikir lebih jernih”, kami pergi cari makan yang halal dulu karena mas arif the journalist gak bisa makan haram. nasi+sayur+ayam goreng+kering tempe-ikan bilis/teri = 2 dolar. (lebih murah daripada di sekayu, nih… dan jelas lebih tasty daripada makanan malaysia yang hambar semua).

kamipun menuju orchard road setelah mengamalkan peribahasa “malu bertanya sesat di jalan” beberapa kali. tidak ada bis ke orchard road. keputusannya: dari kovan naik mrt (subway) ke dhoby ghaut lalu ganti ke arah orchard. harga tiketnya 2,5 dolar. wajar. (bersambung)

foto-foto perjalanan kami hasil jepretan mas arif the journalist ada di sini.