Latar Belakang.  Permenkes no. 755/MENKES/PER/IV/2011 mengenai Penyelenggaraan Komite Medik di Rumah Sakit baru saja terbit. Tulisan ini akan membahas dan memberikan sedikit pandangan mengenai peraturan baru ini. Tulisan ini dibuat dalam latar belakang rumah sakit swasta non pendidikan.

Pendahuluan. Sungguh mengesalkan bila sebuah peraturan yang mengubah prinsip dasar datang ketika peraturan sebelumnya baru saja diimplementasi dengan investasi tidak sedikit. Menjadi sedikit menghibur, apabila lahirnya permenkes baru ini adalah bukti kinerja kementerian kesehatan dalam mengusahakan perlindungan dan keselamatan masyarakat atas kinerja staf medis. Hanya saja, perubahan mendadak mengesankan kurang matangnya regulasi sebelumnya, dan memberatkan rumah sakit. Rumah sakit besar serupa kapal besar dan berat. Konsekuensinya adalah pergerakan menjadi sangat lambat. Tiap perubahan mendasar dibuat dengan investasi tenaga dan waktu yang besar. Peraturan menteri ini datang tiba-tiba dan walaupun dengan judul “Penyelenggaraan Komite Medik di Rumah Sakit”, namun isinya mengubah berbagai hal penting dalam penyelenggaraan organisasi rumah sakit secara mendasar. Mengapa demikian? Mari kita telaah satu demi satu.

Menganulir Tiga Keputusan Menteri Kesehatan. Peraturan menteri kesehatan ini terkesan “hanya” mengurus komite medik. Ternyata tidak. Pasal 20 yang menyatakan bahwa ada tiga keputusan menteri kesehatan yang dinyatakan tidak berlaku seiring berlakunya peraturan menteri ini. Keputusan yang dinyatakan tidak berlaku adalah Kepmenkes 772/2002 mengenai pedoman internal rumah sakit (hospital bylaws/HBL) sepanjang mengenai pengaturan staf medis, Kepmenkes 496/2005 tentang pedoman audit medis, dan Kepmenkes 631/2005 mengenai pedoman penyusunan peraturan internal staf medis. Kepmenkes yang disebut terakhir saja isinya sangat panjang, kompleks, dan dianggap sebagai buku manual penyusunan komite medis di tiap rumah sakit. Kita akan melihat seberapa besar perubahan yang terjadi pada komite medis pada bagian-bagian lain tulisan ini.

Hospital Bylaws (HBL) dan Medical Staff Bylaws (MSBL). Hospital bylaws (HBL) mendapatkan definisi yang sama dengan keputusan menteri yang sebelumnya. HBL adalah aturan dasar mengenai penyelenggaraan rumah sakit dan meliputi peraturan internal korporasi (corporate bylaws/CBL) dan peraturan internal staf medis (medical staff bylaws/MSBL). Pada CBL terletak penjelasan mengenai konsep three-legged stool (tiga tungku sejerangan/tungku berkaki tiga) mengenai hubungan pemilik, pengelola, dan komite medik rumah sakit. MSBL, menurut permenkes baru, disusun komite medik dan disahkan direktur utama rumah sakit, bukan pemilik rumah sakit seperti pada kepmenkes sebelumnya. MSBL mengacu kepada CBL. Dalam permenkes baru ini, MSBL sekurang-kurangnya mencakup pendahuluan dan dua belas bab berikutnya. Dalam kepmenkes yang lalu penyusunan MSBL juga dipilah ke dalam dua belas bab, namun lebih banyak mekanisme teknis dan mengatur mengenai staf medis. Dalam permenkes baru, MSBL bisa menjadi lebih ramping namun berbobot karena pembagian bab langsung mengacu kepada fungsi komite medis.

Definisi Komite Medis. Komite medis menurut pasal 5 permenkes baru merupakan organisasi non struktural yang dibentuk di rumah sakit oleh direktur utama dan bukan merupakan wadah perwakilan dari staf medis. Definisi ini bertolak belakang dengan definisi komite medis pada kepmenkes sebelumnya yang menyatakan bahwa komite medis adalah wadah profesional medis yang keanggotaannya berasal dari ketua kelompok staf medis atau yang mewakili. Menilik definisi, siapakah anggota komite medik? Menurut pasal 6, 7, dan 8, komite medis dibentuk oleh direktur rumah sakit, sekurang-kurangnya terdiri dari ketua, sekretaris, dan subkomite. Keanggotaan ditunjuk langsung oleh direktur utama, baik persona maupun jumlahnya. Ketua komite medik langsung ditunjuk direktur utama dengan memperhatikan masukan dari staf medis. Sekretaris dan ketua-ketua subkomite ditetapkan direktur utama menurut rekomendasi ketua komite medik dengan memperhatikan masukan staf medik.

Subkomite. Lain dengan kepmenkes sebelumnya, keanggotaan komite medik seperti diatur pada permenkes baru ini langsung dimasukkan ke dalam tiga subkomite, yaitu kredensial, mutu profesi, dan etika dan disiplin profesi. Pembagian ini benar-benar langsung merujuk pada tugas komite medik seperti dijelaskan pada pasal 11, yaitu melakukan kredensial, memelihara mutu profesi staf medis, dan menjaga disiplin, etika, dan perilaku profesi staf medis. Ketiga tugas tersebut diimplementasikan lebih konkret dalam beberapa fungsi.

Kelompok Staf Medis. Berbeda dengan Kepmenkes 631/2005 yang memberikan fungsi besar pada kelompok staf medis (KSM), pada permenkes baru ini KSM hanya disebut satu kali pada saat pembahasan mengenai kredensial dan satu kali lagi pada lampiran bab kedua permenkes mengenai organisasi komite medik. Tertulis jelas bahwa kelompok staf medis (atau departemen klinis) diorganisasi langsung oleh direktur rumah sakit. Dengan ini, ditegaskan kembali bahwa komite medis bukan wadah perwakilan kelompok staf medis seperti definisi pada Kepmenkes 631/2005. Pada kepmenkes yang lalu, pengorganisasian staf medis dalam kelompok staf medis mendapatkan porsi panduan yang besar.

Subkomite. Pada dasarnya, tidak ada perubahan bermakna pada tugas subkomite. Hanya saja, pada Kepmenkes 631/2005 terdapat subkomite audit medis dan subkomite peningkatan mutu profesi medis. Dalam permenkes baru ini, audit medis adalah salah satu fungsi subkomite mutu profesi medis. Terdapat panduan bagaimana memilih topik audit medis dan semacam panduan kerja dalam lampiran permenkes ini. Beberapa peran subkomite juga memiliki titik berat berbeda dengan pedoman survei akreditasi rumah sakit versi yang sekarang masih berlaku. Misalnya mengenai kredensial. Kredensial dalam pedoman survei akreditasi rumah sakit menitikberatkan pada “memasukkan” staf medis ke dalam kelompoknya, namun pada kepmenkes yang lama dan permenkes yang baru, kredensial menitikberatkan pada penilaian dan pemberian kewenangan klinis yang khas. Kewenangan klinis pada permenkes baru ini terkesan sama dengan buku pedoman kredensial yang ditetapkan oleh PERSI.

Lain-lain. Permenkes baru ini mencegah terlalu banyaknya campur tangan komite medis dalam manajemen rumah sakit secara umum. Salah satu peran yang tidak direkomendasikan adalah pembuatan panitia-panitia dalam lingkup rumah sakit di bawah struktur komite medis, misalnya panitia keselamatan pasien, panitia rekam medis, dan panitia pengendalian infeksi rumah sakit. Permenkes baru ini mengatur bahwa panitia-panitia ini hendaknya dibentuk langsung oleh direktur utama dan bertanggung jawab langsung pada direktur utama.

Dampak pada rumah sakit swasta besar. Uraian sepanjang apapun tidak bermanfaat bila tidak kita refleksikan untuk rumah sakit. Berikut adalah beberapa hal yang saya catat berpengaruh untuk rumah sakit, khususnya rumah sakit swasta besar non pendidikan.

  1. Perlu penyusunan HBL, CBL, dan MSBL yang baru untuk menyesuaikan dengan peraturan menteri kesehatan ini.
  2. Regulasi baru ini membuat direktur utama lebih mudah “mengendalikan” komite medik. Ini dalam pengertian bahwa anggota dan pimpinan komite medik dipilih langsung oleh direktur dan ketua komite medik. Namun, pengendalian ini akan menjadi kekuatan semu apabila para staf medis yang dipilih oleh direktur utama bukanlah staf medis yang mempunyai “status terpandang” di antara staf-staf medis yang lain. Komite medik rawan menjadi boneka dalam keadaan seperti ini. Penetapan anggota dan pengurus komite medik harus sangat hati-hati dan memperhatikan masukan staf medis yang lain.
  3. Organisasi komite medik menjadi lebih ramping, lebih manageable. Tidak besar, berat, dan nggedibel. Ini akibat komite medik tidak perlu lagi mengurus kelompok staf medis dan segala konflik yang terjadi di antaranya, kecuali sudah masuk ke ranah etika dan disiplin profesi medis.
  4. Pengelompokan staf medis (kelompok staf medis) dengan keahlian serupa atau berkelompok dalam satu unit kerja dapat diintegrasikan pada kedua bidang di bawah direktur pelayanan medis. Misalnya, seluruh dokter IGD dan dokter jaga bangsal berada di bawah koordinasi bidang pelayanan medik. Contoh lain misalnya seluruh dokter radiologi dapat berada di bawah koordinasi bidang penunjang medik. Integrasi semacam ini memudahkan organisasi, pembinaan mutu, dan pendidikan berkelanjutan. Komite medik tidak perlu lagi membuatkan rencana pendidikan berkelanjutan, karena sudah direncanakan oleh kepala instalasi atau unit kerja terkait. Fungsi instalasi sebagai penyedia fasilitas dapat menjadi lebih nyata karena expert atau ahli dalam pemanfaatan fasilitas tersebut berada di bawah koordinator yang sama.
  5. Tumpang tindih antara komite medik, kelompok staf medis, dan panitia-panitia dalam rumah sakit dapat terhindarkan. Misalnya, audit medis, mortality review, dan keselamatan pasien. Ketiganya kadang saling berkaitan. Hasil audit medis dan mortality review dapat menjadi bahan laporan insiden. Contoh lain adalah kebijakan antibiotika benar-benar dapat menjadi wewenang panitia pengendalian infeksi (PPI). Dalam penentuan kebijakan antibiotika, PPI dapat mengangkat staf medis dengan keahlian di bidang tersebut untuk menjadi tim ahli tanpa harus merepotkan kerja sama di antara kelompok-kelompok staf medis.

Kesimpulan. Goyangan pada tungku berkaki tiga memang cukup banyak dengan adanya permenkes baru ini. Namun banyak hal terlihat lebih efisien. Pemilik, pengelola, dan staf medis harus diupayakan sinergis dalam CBL. Pelayanan medis sebagai core business atau pelayanan inti rumah sakit semakin nampak dalam hal pemberian kewenangan klinis, pengawasan mutu, dan pembinaan etika. Rumah sakit juga tidak terlalu repot dengan banyaknya struktur dan percabangan dalam struktur.

Disusun oleh dr. Robertus Arian D., dokter jaga IGD dan ruang perawatan sekaligus sekretaris komite medis RS Panti Rapih Yogyakarta.

Dalam sebuah sesi presentasi internal, saya pernah mengajukan pertanyaan, “Apakah rumah sakit kita adalah rumah sakit yang baik?” kepada peserta yang hadir. Jawabannya cukup bervariasi. Sebagian kecil menganggap baik, sebagian kecil menganggap belum, dan sisanya menjawab baik namun perlu ditingkatkan di berbagai aspek. Kepada mereka semua, saya membuka diskusi dengan pertanyaan lanjutan, “Kalau demikian, apakah buktinya?”

Terdapat perbedaan yang cukup nyata mengenai bagaimana pelanggan rumah sakit dan manajemen rumah sakit menilai mutu rumah sakit. Pelanggan rumah sakit jelas berorientasi pada kepentingan mereka dalam berurusan dengan rumah sakit. Sehingga, harapan mereka terhadap mutu yang baik pada sebuah rumah sakit biasanya terbatas pada kecepatan layanan, staf yang ramah dan cekatan, kesembuhan, dan pembiayaan yang efisien. Sementara itu, rumah sakit mengukur mutu dengan cara yang tidak sama. Sebagian akan saya sampaikan pada beberapa bagian tulisan ini.

Rumah sakit yang serius mengukur mutu, dari sudut pandang pasien, akan terasa menerapkan pembiayaan yang lebih tinggi. Ini wajar. Tentu dengan kontrol mutu yang ketat, rumah sakit tersebut harus dinamis memperbaiki mutu yang sekarang sudah dicapai. Ini tidak mudah pada institusi yang padat modal, padat teknologi, dan padat sumber daya manusia. Salah satunya adalah konsekuensi pada pembiayaan, walaupun tidak selalu demikian. Sebaliknya, rumah sakit yang menurut pasien pelayanannya excellent, biayanya murah, dan memuaskan pasien, bila diukur mempergunakan indikator-indikator tersebut dapat saja biasa-biasa saja. Bahkan ada kemungkinan rumah sakit tersebut tidak melakukan pengukuran mutu. Berikut adalah tiga dari macam-macam cara pengukuran mutu yang dikenal di Indonesia.

Indikator Klinis

Indikator mempunyai beberapa definisi yang tertulis di buku teks. Saya sendiri lebih senang menyebut indikator sebagai sebuah penanda objektif yang bisa dipakai sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan. Indikator bukan lagi data. Indikator adalah informasi. Indikator mempunyai lima karakter utama yang sering disingkat dengan “SMART”. Simple, measurable, accurate, reliable, timely. Indikator haruslah cukup mudah dipahami, dihitung, dikumpulkan data dasarnya, dan dikerjakan tepat waktu oleh pelaksana. Selain itu, indikator harus dipilih sehingga akurat dan bisa dipercaya. Indikator klinis yang sangat populer diukur di banyak rumah sakit adalah waktu respon, infeksi terkait pemasangan infus, infeksi luka operasi, angka kejadian dekubitus (pressure sore), dan kematian ibu akibat perdarahan. Angka-angka indikator ini diukur dari waktu ke waktu dengan metode yang baku dan dikembangkan akurasinya. Indikator-indikator ini bersumber dari buku yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan mengenai indikator klinis. Saat ini, manual yang dipakai lebih luas adalah standar pelayanan minimal rumah sakit yang juga diterbitkan oleh Departemen Kesehatan.

Audit Medis

Audit medis merupakan proses evaluasi mutu pelayanan medis melalui telaah rekam medis oleh profesi medis sendiri. Tujuan dilakukan audit medis adalah pelayanan medis prima yang bersumber pada evaluasi mutu pelayanan, penerapan standar, dan perbaikan pelayanan berdasarkan kebutuhan pasien dan standar yang telah ada. Audit medis di Indonesia diatur oleh Keputusan Menteri Kesehatan no. 496 tahun 2005. Pembahasan kasus kematian, kasus sulit, kasus langka, dan lain-lain adalah bentuk audit medis yang paling sederhana. Audit medis paripurna menyertakan review, assessment, dan surveillance. Audit medis adalah proses yang terus menerus karena merupakan upaya yang terus menerus. Proses inti audit medis adalah menetapkan kasus yang akan diaudit, mengumpulkan berkas kasus tersebut, dan membandingkan pelayanan medis yang diberikan dengan standar, untuk selanjutnya mengambil tindakan korektif. Audit medis dapat dilakukan mulai dari kelompok staf medis (organisasi dokter dengan kemampuan atau kompetensi klinis yang sama) sampai ke tingkat komite medis di tingkat rumah sakit.

Mortality Review

Mortality review adalah bagian dari audit medis. Lewat mortality review, rumah sakit bersama dengan manajemen rumah sakit dapat mencari faktor-faktor yang berkontribusi pada kematian di rumah sakit. Untuk mencari faktor-faktor tersebut, digunakan sebuah check list yang bernama global trigger tools. Global trigger tools memuat puluhan entry point ke arah resiko tindakan, kesalahan, kelalaian, maupun kemungkinan gagal komunikasi. Titik berat mortality review adalah kematian-kematian yang terjadi pada pasien non terminal, baik kematian tersebut terjadi di intensive care unit / ICU / unit perawatan intensif maupun di ruang rawat inap biasa. Seluruh kematian non terminal ini didaftar, dipelajari rekam medisnya, dan dibahas pada pertemuan mortality review. Menggunakan global trigger tools dalam melakukan mortality review biasanya berupaya menemukan apakah ada kegagalan, terutama dalam mengenali perburukan atau masuknya pasien kepada keadaan kritis, merencanakan penegakan diagnosis dan rencana pengobatan, dan mengkomunikasikan keadaan pasien baik antar dokter, dokter kepada perawat, perawat kepada dokter, dan antar profesi kesehatan yang lain. Data mortality review dapat dipakai juga oleh rumah sakit dalam rangka pengembangan layanan. Misalnya, jumlah kematian yang tinggi pada pasien terminal mengindikasikan perlunya rumah sakit memikirkan layanan perawatan paliatif.

Penutup

Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa apapun metode pengukuran mutu yang dilakukan rumah sakit, hendaknya berdampak langsung pada apa yang dirasakan oleh pasien dan keluarganya. Mengingat akses ke rumah sakit bagi sebagian besar orang masih dibatasi oleh biaya, hendaknya pengukuran-pengukuran tersebut juga mempertimbangkan efisiensi sehingga kualitas baik tidak selalu linear dengan pembiayaan yang tinggi. Salam!

Penulis: dr. Robertus Arian D. (Dokter jaga IGD-ICU-rawat inap dan pengurus komite medis)

Saya adalah dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada pada akhir 2006. Sejak itu, saya mengelola sebuah penelitian kesehatan masyarakat di sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Saya tidak menghitungnya sebagai pelayanan kedokteran klinis. Pelayanan kedokteran klinis sebagai klinisi saya hitung sejak hari pertama saya ditempatkan di salah satu klinik spesialis di RSUD Sekayu. Rumah sakit ini adalah sebuah rumah sakit daerah di kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Saya melayani rumah sakit tersebut sejak tanggal 3 Juli 2007 sampai dengan akhir tahun 2008. Tahun berikutnya, sampai dengan hari ini, saya melayani secara purna waktu di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.

Dalam rangka membuat dokumentasi, maka saya memutuskan merenungkan sejenak empat tahun terakhir sebagai klinisi. Seperti pernah ditulis di beberapa tempat, seorang dokter tidak selalu menjadi klinisi. Ada yang berkonsentrasi pada penelitian, sebagai manajer pelayanan kesehatan maupun program kesehatan masyarakat, menekuni pengajaran ilmu kedokteran dasar, dan lain-lain. Saya akan membagi beberapa hal penting yang saya dapatkan dan pelajari selama empat tahun terakhir ini menjadi beberapa bagian dalam tulisan ini.

Diskriminasi

Sayangnya, hal pertama yang muncul dalam ingatan adalah diskriminasi. Di tengah perdebatan mengenai persebaran tenaga dokter, ternyata ada daerah-daerah yang resisten dengan dokter yang ditempatkan atau memilih penempatan di daerah tersebut dengan alasan agama yang berbeda. Begitu juga dengan yang saya alami. Pada hari ketiga saya bekerja, saya telah mengobarkan perang di forum rapat IDI kabupaten di dinas kesehatan kabupaten karena keberadaan saya dan beberapa dokter lain dianggap tidak sesuai karena masalah agama. Satu hal yang membuat saya sedih adalah: bahkan di organisasi profesi yang memegang tinggi sumpah jabatan, diskriminasi agama seperti ini masih terjadi dan dibahas dalam forum. Saya yakin ini tidak terjadi di semua tempat, tapi fakta bahwa ada paling tidak satu saja sudah cukup membuat saya sedih.

Kerja Fisik vs Kerja Otak

Tidak banyak orang yang paham bahwa pekerjaan sebagai dokter itu mempunyai porsi pekerjaan fisik yang besar. Sebagian besar orang mengetahui pekerjaan dokter di belakang meja klinik praktek saja, yang nampak melulu kerja otak. Sebenarnya tidak. Selain tenaga dan waktu yang dihabiskan untuk memeriksa pasien di klinik, seorang dokter mempunyai tanggung jawab juga untuk mengelola pasien di ruang rawat inap, gawat darurat, kamar operasi, dan lain-lain. Sebagian pekerjaan tersebut mempunyai syarat-syarat administratif yang sangat rumit dan panjang sehingga dokter harus menghabiskan waktu banyak dan melelahkan untuk melengkapi berkas-berkas administrasi dan dokumentasi. Selain itu, banyak tindakan kedokteran yang dilakukan dengan tenaga fisik yang tinggi, misalnya operasi. Kami, para dokter yang belum spesialis mendapatkan tugas jaga di luar pekerjaan klinis pagi hari, dan dengan demikian terkadang harus mengubah pola tidur dan istirahat dengan resiko kesehatan kami sendiri yang terganggu. Belum lagi pada tugas jaga, porsi waktu dan tenaga yang dihabiskan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain bisa jauh melebihi waktu dan tenaga yang dipakai untuk mengelola pasien. Karena itu, pekerjaan dokter memang melelahkan secara fisik, pikiran, maupun perasaan. Mengapa? Karena sehari-hari kami selalu berhadapan dengan orang yang mengeluh, yang sakit, yang menderita, dan yang menghadapi kematian. Sungguh tidak mudah menghadapi semua itu kalau persepsi yang dikembangkan mengenai pekerjaan dokter adalah pekerjaan di balik meja dengan suasana yang selalu nyaman dan bersih.

Mutu

Rumah sakit mengukur mutu dengan ukuran-ukuran yang berbeda dengan ukuran keberhasilan yang dikehendaki pasien. Pasien mengukur mutu pelayanan rumah sakit dengan kesembuhan, solusi total dari penderitaan, dan pelayanan secara fisik dari para staf rumah sakit. Sementara itu, rumah sakit mengukur mutu dengan cara yang berbeda. Ukuran mutu tersebut dapat berupa indikator klinis, indikator kepuasan pasien, penerapan pedoman keselamatan pasien, dan lain-lain. Sebuah rumah sakit yang nampak sangat memuaskan di mata pasien bisa biasa-biasa bila diukur dengan indikator-indikator tersebut, dan demikian juga sebaliknya. Hmmm, nampaknya tulisan khusus tentang ini diperlukan. Akan dipikirkan dan disusun.

Komitmen Pemerintah Daerah

Bupati/Walikota dan Gubernur sangat berperan dalam meningkatkan derajat kesehatan warganya. Di era desentralisasi ini, Bupati/Walikota sebenarnya lebih mempunyai wewenang dalam hal ini. Saya beruntung karena saya mendapatkan teladan dari Bapak Alex Noerdin (Bupati Musi Banyuasin – Gubernur Sumatera Selatan) dan Bapak Don Bosco M. Wangge (Bupati Ende). Keduanya mempunyai komitmen yang sangat kuat dalam meningkatkan derajat kesehatan dan pendidikan. Sudah lazim sebenarnya bahwa pendidikan dan kesehatan menjadi bahasa seragam saat kampanye. Namun kedua pimpinan daerah ini saya tidak ragu bahwa komitmen mereka memang bisa dibuktikan dari sudut pandang manapun. Orang tidak akan lupa bahwa Alex Noerdin adalah bupati pertama yang mengasuransikan warga kabupaten Musi Banyuasin (selain pemegang Askes PNS dan Jamkesmas – waktu itu masih Askeskin) pada tahun 2007. Barulah Gorontalo menyusul setelah itu. Lewat kerja sama sister hospital antara RSUD Ende dan RS Panti Rapih, saya juga mengenal Bapak Don Bosco M. Wangge yang rendah hati namun keras dan tegas soal kualitas pendidikan dan aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Wajah RSUD Ende berubah banyak pada saat kepemimpinan beliau.

Komite Medis

Di Indonesia, komite medis rumah sakit tidak ada yang berjalan dengan baik. Mengapa? Salah satunya karena dalam pendidikan dokter, peran komite medis tidak pernah disinggung dan dibahas. Demikian pula dokter sebagai manajer dan pemimpin juga hanya diungkapkan namun tidak dioperasionalkan dalam pendidikan sikap dan karakter dalam pendidikan dokter. Akibatnya ketika masuk ke rumah sakit, dokter merasa gamang dalam mengatur diri dan badannya sendiri. Pemerintah sendiri mendorong peran komite medis dalam konsep tiga tungku sejerangan yang sering disampaikan oleh salah satu surveyor akreditasi dr. Nico A. Lumenta. Walau demikian, keengganan manajemen rumah sakit ikut membagi porsi arahan perkembangan rumah sakit dengan komite medis ditambah kendala dari dalam komite medis sendiri menjadikan konsep ini hampir tidak mungkin dilakukan di Indonesia, paling tidak sampai beberapa tahun ke depan.

Bakti Sosial Berbentuk Mobile Clinic

Pandangan saya dalam bagian ini khusus berlaku untuk pulau Jawa. Kepedulian kepada kelompok yang lemah, miskin, dan tersingkir sering diwujudkan dalam kegiatan-kegiatan bakti sosial kesehatan. Umumnya, yang dipakai adalah pemeriksaan gratis dan obat gratis (atau murah). Saya sebenarnya tidak sepenuhnya setuju dengan konsep ini. Pertama, ini mengesankan bahwa masalah kesehatan adalah murni masalah medis-kuratif. Proyek-proyek ini semakin menegaskan bahwa kendala kesehatan di Indonesia adalah melulu soal biaya. Kedua, kegiatan ini biasanya dilakukan satu kali di satu tempat, diulang dengan periode tertentu (selama masih ada penyandang dana) dengan rutin namun di tempat yang berbeda. Melihat bahwa Indonesia mulai menghadapi double burden penyakit menular dan penyakit degeneratif, maka satu kali kunjungan sama sekali tidak punya pengaruh dalam meningkatkan derajat kesehatan. Ketiga, kegiatan-kegiatan ini melemahkan penetrasi Puskesmas di daerah yang dituju. Masyarakat menjadi resisten terhadap Puskesmas, karena ada pihak yang mau dan sengaja mendatangi mereka untuk memberikan pengobatan. Puskesmas mempunyai program peningkatan kesehatan yang kontinyu dan bisa diandalkan karena berbasis kebijakan. Saya usulkan supaya sumber daya yang terlibat dalam kegiatan mobile clinic ini digeser menjadi kegiatan pendidikan kesehatan masyarakat yang melibatkan Puskesmas.

Peningkatan Kompetensi

Peningkatan kompetensi adalah salah satu kewajiban dokter. Bagi dokter yang bekerja di rumah sakit, kompetensi yang dituntut tentu berbeda dengan dokter yang bekerja di tempat lain. Di rumah sakit, ada peralatan dan fasilitas pendukung tertentu yang memungkinkan dokter memainkan peran-peran tertentu dalam memafaatkannya demi kepentingan pasien. Masalah timbul ketika dokter membebankan peningkatan kompetensi ini pada rumah sakit dan rumah sakit merasa tidak mampu. Di sisi lain, rumah sakit memang mempunyai kewajiban dalam meningkatkan kompetensi dokter sesuai dengan tujuan dan pengembangan pelayanan yang diinginkan. Nah, ini perlu dibahas secara serius dengan mempertimbangkan tujuan peningkatan kompetensi tersebut dan sumber daya yang tersedia.

Uang

“Jangan pernah mengejar uangnya pasien!” Itu adalah nasehat penting yang saya dapat dari pimpinan saya di RSUD Sekayu. Pesan ini sampai sekarang masih saya pegang kuat-kuat. Jangan hanya karena pasien tidak mampu membayar lalu pelayanan tidak diberikan. Ini mudah saat kita bekerja sendiri atau dengan pemerintah. Tapi tidak mudah justru ketika kita berada dan bekerja di yayasan swasta seperti saat ini. Mengapa? Karena dana dari pasien memang diperlukan untuk operasional rumah sakit swasta. Rumah sakit swasta tidak mempunyai sumber dana lain untuk mendanai kegiatannya, sementara pemerintah juga tidak memberikan insentif pajak. Pajak yang dibayar oleh rumah sakit swasta non profit adalah SAMA dengan pajak industri. Lalu bagaimana menyikapi hal ini di rumah sakit swasta? Jawabannya satu. Kembalikan pada prinsip dasar para dokter: “primum non nocere”. Pertama-tama adalah tidak menimbulkan harm pada pasien. Saya lebih suka menerjemahkannya secara lugas sebagai: kalau tidak perlu dilakukan, ya tidak usah dilakukan. Kalau pasien memerlukan obat atau tindakan tertentu yang berorientasi pada penyelamatan nyawa atau mengurangi penderitaan, ya dikerjakan secukupnya. Kalau tidak diperlukan, ya tidak usah aneh-aneh dengan mencari-cari indikasi pemeriksaan itu. Pasien miskin yang datang dengan kolik renal akut yang sangat nyeri diberi analgetik, antispasmodik, dan diperiksa urin rutin saja. Ga usah ngotot memaksakan diagnosis banding macem-macem yang buntutnya diperiksa USG, foto polos abdomen, dan lain-lain.

Mencintai Profesi

Seorang sejawat pernah mengatakan begini, “Orang-orang yang bukan dokter, bahkan itu suami/istri/orang tua/anak, tidak akan pernah bisa memahami mengapa kita mencintai profesi dokter.” Ini pernyataan yang kurang lebih bisa mewakili apa yang terjadi pada sebagian besar dokter. Profesi ini rumit, penuh keruwetan, menuntut pikiran secara purna waktu, dan menuntut totalitas. Sejak masuk ke Fakultas Kedokteran, semua calon dokter ditekankan mengenai bagaimana mencintai profesi dokter dengan utuh dan paripurna. Maka, jangan salahkan kami kalau kami lebih memilih bekerja di malam hari mengerjakan kasus cito dibandingkan menghadiri pesta perkawinan.

Ditulis oleh: dr. Robertus Arian D. (Hospitalist)

Saya membagikan pikiran dan renungan saya ini kepada para dokter (belum spesialis), baik yang baru lulus maupun yang masih mencari tempat untuk berkarya. Saat ini ada banyak tempat untuk berkarya sebagai dokter. Ada Puskesmas, rumah sakit, klinik bersalin, klinik 24 jam, dan klinik praktek lain. Di jalur lain, ada pula program dokter keluarga, dokter kesehatan kerja di perusahaan, dan dokter di perusahaan asuransi. Praktek sendiri pun saat ini regulasinya sudah tidak terlalu rumit, namun tidak banyak lagi diminati. Selain tempat-tempat ini, masih ada universitas dan perguruan tinggi sebagai tempat berkarya.

Saya adalah seorang hospitalist. Saya bekerja di rumah sakit, dan belum pernah merasakan kompleksitas kerja Puskesmas maupun ketegangan di klinik 24 jam. Jaga malam saya terbatas di instalasi gawat darurat, bangsal perawatan biasa, dan perawatan intensif (ICU/ICCU). Semuanya di dalam rumah sakit. Saya tidak terlalu mengerti program DOTS dan PHBS, tapi saya bisa membedakan mana penderita sesak nafas yang akan membutuhkan ventilator dan mana yang tidak. Ini adalah masalah konsekuensi peran saja. Dan dari sinilah saya mulai mencari, dan menemukan sesuatu. Ada beberapa keterampilan dasar dokter yang diperlukan untuk bisa menjadi seorang hospitalist yang baik.

Pertama, dia haruslah orang yang bisa tidur di manapun, pada situasi apapun, sesingkat apapun, dapat bangun seketika dan dengan segera dapat bekerja dengan ketajaman seperti saat terbaiknya. Rumah sakit menjadi senyaman rumah sendiri. Tidak mungkin? Memang. Tapi semakin dekat seseorang dengan kriteria itu, semakin baik pula dia menjadi seorang hospitalist.

Kedua, dia haruslah dokter yang tekun membaca status pasien dari waktu ke waktu dan bisa menarik fakta dari kumpulan angka dan segelondong pemeriksaan yang mengandalkan subjektivitas beberapa pemeriksa yang berbeda. Setiap dokter tahu bahwa pada volume urin tertentu dan jangka waktu tertentu, seseorang bisa dikatakan mengalami gangguan perfusi ginjal. Namun melihat catatan jumlah urin pasien dari waktu ke waktu dan bisa menemukannya sendiri hanya bisa dilakukan oleh tidak banyak dokter.

Ketiga, dia haruslah dokter yang menguasai komunikasi dua arah yang efisien, baik kepada pasien, keluarga pasien, perawat, dokter jaga di unit lain, dan dokter spesialis. Kadang kala kemampuan komunikasi efektif kepada pasien dan keluarga diperlukan untuk menenangkan kecemasan, mempersiapkan situasi buruk yang tidak diharapkan, maupun untuk mengajak bekerja sama. Instruksi kepada perawat perlu diberikan dengan teknik komunikasi yang baik pula, karena seorang hospitalist akan sering berpindah tempat, sehingga pengawasan kepada pasien didelegasikan kewenangannya kepada perawat. Pesan yang baik dan efisien memainkan peranan penting di sini. Demikian pula masalah komunikasi dengan dokter spesialis. Semua pasien rumah sakit idealnya mempunyai dokter penanggung jawab pelayanan yang hampir semuanya adalah spesialis atau spesialis konsultan. Laporan mengenai kondisi pasien haruslah sesingkat mungkin, sistematis mulai dari identitas, menekankan pada urgensi saat itu, dan ditutup dengan usulan.

Keempat, dia haruslah seorang praktisi yang tidak melupakan aspek-aspek ilmiah. Rumah sakit yang baik mengembangkan pengetahuan dan kompetensi hospitalist lewat serangkaian kegiatan ilmiah yang berorientasi pelayanan. Kegiatan-kegiatan itu meliputi pertemuan kasus sulit, konferensi kasus kematian, audit medis, dan presentasi kasus menarik. Seorang hospitalist yang baik mampu merencanakan, merangkum, dan mempresentasikan kasus dengan baik sehingga tujuan pertemuan tersebut tercapai.

Kelima, dia haruslah orang yang mau belajar mengenai kompleksitas rumah sakit yang dipenuhi orang-orang pintar, padat teknologi, dan mengandung resiko pada tiap sudutnya. Komite medis rumah sakit tidak selalu bisa mengatur perilaku para dokter. Standar pelayanan medis dan standar prosedur operasional dapat berubah sewaktu-waktu dan setiap hospitalist harus dapat berkompromi dengan perubahan-perubahan cepat tersebut. Kadang, hospitalist harus berperan sebagai penghubung, mediator, dan problem solver. Konflik selalu berkeliaran di sekeliling dan tuduhan tak beralasan selalu menggantung di atas setiap bed.

Keenam, dia haruslah dokter dengan sensitivitas tinggi dalam mengenali kegawatan, menanganinya dengan sempurna dan paripurna, dan melaporkannya pada saat kegawatan telah terlampaui. Kegawatan medis yang terjadi di instalasi gawat darurat berbeda dengan kegawatan medis di bangsal dan di perawatan intensif (ICU/ICCU). Cara penanganan kegawatan juga berbeda di tiap unit kerja karena fasilitas yang tersedia juga berbeda.

Ketujuh, dia haruslah dokter yang memilih sepatu terbaik karena harus bergerak dengan kecepatan yang menakjubkan. Bisa berada dalam dua atau lebih tempat dalam waktu yang hampir bersamaan tanpa merasa lelah dan kekurangan ketajaman berpikir dan analisis. Seorang hospitalist melayani laporan dan panggilan. Terkadang perlu mendampingi pemeriksaan radiologi tertentu, atau “tiba-tiba” terjadi kegawatan di unit lain. Saya sering berpikir bahwa dari bentuk sepatunya, kita bisa melihat hospitalist mana yang paling cepat bisa merespon panggilan kegawatan.

Kedelapan, dia haruslah bisa menyaksikan kematian dengan hati sekeras batu namun menyampaikannya dengan ketulusan merpati. Tidaklah bijaksana untuk larut dalam kesedihan karena “kegagalan” menyelamatkan seseorang, tetapi bersimpati kepada keluarga yang kehilangan adalah tindakan terpuji yang dampaknya sangat luar biasa menenangkan bagi kedua belah pihak.

Setiap dokter bisa mempertimbangkan untuk bekerja sebagai hospitalist. Dengan membaca uraian saya di atas, gambaran kerja sebagai hospitalist bisa didapatkan. Saya mengundang hospitalist lain untuk menambahkan keterampilan-keterampilan dasar lain yang diperlukan untuk menjadi seorang hospitalist yang baik. Saya belum dapat menjadi hopitalist yang seratus persen baik dan ideal. Saya berusaha. Anda?

dr. Robertus Arian D. (Hospitalist, Yogyakarta)

rsud-sekayuBeberapa rekan, saudara, dan sahabat bertanya alasan kenapa saya pergi dari Rumah Sakit Sekayu. Rumah sakit yang membesarkan saya dan memberikan kepada saya banyak kesempatan baik. Tulisan ini tidak akan membahas hal itu. Saya akan mencoba membagikan sesuatu yang rasanya tidak semua pernah saya bagikan pada banyak orang secara lengkap.

Tidak seperti perkiraan banyak orang di dalam rumah sakit, saya belum pernah kenal dengan dr. Makson yang waktu itu menjadi direktur di sana. Ada tempat bernama Sekayu di Kabupaten Musi Banyuasin saja baru saya tahu dua bulan sebelum bekerja. Saya melihat ada lowongan kerja sebagai dokter umum dengan gaji 2,5juta sebulan di rumah sakit. Penelitian yang saya pimpin atas perintah peneliti utama sudah akan berakhir. Saya mencoba bertanya kepada pemberi lowongan via email tanggal 9 Mei 2007 dan dijawab lengkap. Saya baru mengirimkan lamaran tanggal 8 Juni 2007 karena saya menunggu tes dan wawancara di salah satu yayasan Kristen. Di samping itu, orang tua tidak terlalu sependapat dengan keputusan bekerja di Sumatera Selatan.

Sore hari Minggu tanggal 25 Juni sepulang dari luar kota (pernikahan teman sesama dokter) saya ditelpon dan diminta bertemu dengan dr. Makson (direktur RSUD Sekayu) Senin malam tanggal 26 di Solo karena beliau sedang ada pertemuan di sana. Kebetulan hari itu saya harus melayat ke Semarang. Jadi saya berangkat pagi-pagi dengan bus, lalu dari Semarang langsung ke Solo, menginap di rumah Oom saya. Malam hari tanggal 26 saya bersama dengan seorang kawan seangkatan diterima wawancara dengan dr. Makson di sebuah warung lesehan. Hasilnya saya diskusikan dengan Oom saya dan kedua orang tua serta tidak lupa dengan Nana.

Belakangan saya baru tahu bahwa kami berdua menarik minat dr. Makson karena dalam surat lamaran kami berusaha secara maksimal mengemukakan apa yang bisa kami tawarkan kepada rumah sakit. Belakangan juga saya baru tahu bahwa dr. Makson lebih condong meminati kawan saya karena berbagai kelebihan yang dia miliki. Kawan saya tidak jadi ikut berangkat ke Sekayu karena alasan pribadi. Jadilah saya segera memesan tiket pesawat dan berangkat hari Minggu tanggal 1 Juli 2007. Sore saya sampai di Palembang dan siang berikutnya langsung berangkat ke Sekayu tanpa ada seorang pun yang saya kenal di sana.

Total saya bekerja selama kurang lebih satu setengah tahun di Sekayu. Dalam kurun waktu tersebut, saya enam kali pulang ke Jogja untuk berbagai keperluan. Saya merasakan penghiburan dari Tuhan mengingat saya pernah berada dalam keadaan yang tidak stabil karena gagal dalam PPDS. Ujian pertama saya di Sekayu datang  pada hari kerja ketiga. Ada undangan dari IDI Musi Banyuasin. Di dalam pertemuan itu, salah seorang kepala Puskesmas bertanya kepada direktur RSUD Sekayu, mengenai kebijakan direktur RSUD yang mempekerjakan dokter-dokter baru yang non muslim. Dia berbicara “atas nama” dokter-dokter muslim lain yang merasa “tersinggung” karena itu. Pada forum itu, di depan dr. Makson, di depan ibu Kepala Dinas Kesehatan yang belum pernah saya jumpai sebelumnya, saya menjawab, “Kalau saya tidak diterima bekerja di sini karena saya dianggap tidak mampu, saya akan terima. Tapi kalau saya tidak diterima bekerja di sini karena saya Katolik, saya akan perjuangkan itu walaupun sampai darah saya habis.”

Saya sungguh heran. Di pertemuan organisasi profesi yang sudah saling mengangkat sumpah, orang bisa mengangkat topik yang demikian. Tapi ternyata itu tidak berhenti sampai di situ. Direktur yang Kristen dan Batak ternyata menjadi tantangan selama sisa pekerjaan saya di sana. Semua orang tahu bahwa rumah sakit tidak akan pernah bisa berkembang tanpa peran serta dr. Makson yang sebesar itu, namun masih saja orang mengaitkan itu dengan isu bahwa dr. Makson melakukan itu dengan pertimbangan misi keagamaan. Suatu pandangan yang saya anggap sudah ketinggalan jaman di tengah Indonesia yang seperti ini.

Akhir tahun triwulan keempat 2007 sampai dengan triwulan ketiga tahun 2008 adalah saat-saat yang paling menggairahkan selama saya di Sekayu. Haji Alex Noerdin (bupati) yang hendak mencalonkan diri menjadi gubernur sungguh mengoptimalkan segala potensi yang ada di kabupaten untuk diperkenalkan sebagai realisasi dari visinya. Sebagian kecil dari visi itu terwujud dalam berobat dan sekolah gratis.

Saya tidak mengenal Pak Alex secara pribadi. Namun saya mengagumi beliau atas keberpihakannya pada rakyat kecil dan keadilan. Saya mendukung beliau bukan karena saya bekerja di Sekayu. Saya melihat bahwa beliau benar-benar berusaha menyejahterakan rakyat yang dipimpinnya. Hampir semua yang dilakukannya visioner, berpihak pada rakyat dan detil. Cara beliau memotivasi orang-orang di sekitarnya (belakangan) saya tahu juga luar biasa, sehingga orang mau melakukan apa saja untuk dia bukan karena menghormati Pak Alex, tapi karena menghormati ide dasar dan kerja keras mewujudkan ide dasar tersebut.

Rumah sakit berbenah. Kerja sama dengan Putra Specialist Hospital Melaka diintensifkan dengan pengiriman tiga pasien hidrosefalus yang tidak dapat kesempatan operasi di Palembang. Ketiganya diantar oleh saya, dr. Makson, dan satu perawat. Kami belajar sekalian mengenai banyak aspek pelayanan pasien di sana dan pulang membawa banyak ide. Saya bersyukur karena kesempatan ini, karena saya bisa masuk ke dalam kamar operasi, suatu hal yang sangat jarang bisa dilakukan di negara-negara persemakmuran seperti Malaysia.

Belum cukup, rumah sakit lalu menjalin kerja sama dengan RSUD Cengkareng. Pasien-pasien yang bisa dikirim ke Cengkareng, beserta dengan paket pendampingan untuk perawat, jadi punya harapan. Selain untuk kerja sama tata laksana pasien, RSUD Cengkareng juga membantu masalah pendampingan RSUD Sekayu menjadi Badan Layanan Umum Daerah.

Kegiatan lain yang saya kerjakan di Sekayu adalah bikin seminar. Seminar-seminar ini walaupun dilakukan di Palembang, tujuan utamanya satu. Memperkenalkan RSUD Sekayu sebagai salah satu pusat rujukan dengan fasilitas dan pelayanan yang baik. Sambutan baik sekali. Walaupun difitnah (tetep) sebagai kegiatan Kristenisasi oleh orang-orang yang bisanya banyak bicara sedikit kerja, kami jalan terus. Fitnah tak kalah serius adalah bahwa kegiatan ini mengambil dana rumah sakit sedemikian hingga para pegawai kontrak tidak terbayar gajinya. Fitnah yang sungguh keji karena sampai saat saya keluar, kami sebagai penyelenggara masih menanggung utang beberapa puluh juta dari kantong pribadi dr. Makson. Tidak ada uang sepeser pun yang dikeluarkan bendahara rumah sakit untuk seminar-seminar tersebut kecuali uang jalan yang dipakai oleh para perawat yang kami ikutkan dalam seminar itu untuk menambah pengetahuan. Oya, dengan beberapa puluh ribu rekening telpon dan fax.

Tekanan demi tekanan terus berlangsung. Kelicikan dan kelicinan silih berganti. Tapi saya maju terus. Apalagi saya ditempatkan di poli bedah mulai pertengahan tahun 2008. Datang paling pagi dan pulang paling siang. Jasa medis mulai terasa naik karena memang anggaran ikut naik. Sempat dapat cibiran juga dari dokter umum lain yang pembagian jasa medis interennya memakai sistem lain. Padahal ya sebenarnya sama saja. Kalau memang malas bertanya pada yang menghitung jasa medis, ya terima saja dengan rasa syukur. Gak usah selalu mempertanyakan kenapa yang ini dapat segitu dan aku dapat segini.

Saya dan keluarga mulai membicarakan untuk mencoba mencari kesempatan kerja yang lain waktu saya pulang Lebaran 2008. Mulai saat itu saya mencoba memasukkan lamaran ke berbagai tempat. Sampai akhirnya saya benar-benar angkat kaki satu hari sebelum hari Natal 2008 tanpa sempat berpamitan pada banyak orang yang saya hormati.

Saya sangat menyesal untuk hal itu.

Banyak pelajaran yang saya petik selama bekerja di Sekayu. Pelajaran pertama adalah: Jangan sekali-sekali mengejar uangnya pasien. Sebagian besar pasien yang ke Sekayu adalah orang miskin. Bukan karena miskin lalu uangnya tidak dikejar. Walaupun miskin, mereka dibayar oleh asuransi ataupun oleh program Jamkesmas Muba Semesta. Justru dengan mengesampingkan pikiran mengenai uang, saya bisa fokus mengelola mana yang perlu dan mana yang tidak. Tindakan apa yang harus dilakukan sekarang, mana yang tidak.

Pelajaran kedua adalah: Mengupayakan sekuat-kuatnya yang terbaik bagi pasien. Banyak pasien bedah plastik dan bedah orthopaedi yang benar-benar “rusak” secara fisik. Mengusahakan operasi dan penyembuhan bertahap bagi mereka benar-benar usaha yang keras dan penuh ketidakpastian. Bahkan membawa sendiri pasien dengan ambulans sampai ke Jakarta pun pernah saya lakoni untuk tujuan itu.

Pelajaran ketiga adalah: Jangan menolak pekerjaan apapun, karena dengan melakukan itu, banyak pelajaran bisa didapat. Paling banyak adalah mendapatkan relasi. Dengan relasi, pengetahuan saya berkembang. Rantai manfaatnya sangat panjang sampai tidak terbayangkan.

Saya menjadi orang yang lebih baik setelah dari Sekayu. Lebih terampil, lebih fokus, dan lebih tertata orientasinya. Total, saya pernah melakoni pekerjaan sebagai sopir ambulans pasien, sopir ambulans jenasah, sopir pengangkut mesin rontgen, sekretaris, bendahara, humas, tukang publikasi, tukang jemput dokter spesialis, tukang desain, tukang ketik, sopir pribadi, pengantar pasien, juru bayar, juru masak, guru, dokter bangsal, dokter IGD, asisten operasi, operator bedah minor, dan lain-lain termasuk jadi oom yang baik buat satu anak pintar dan satu anak lucu menggemaskan.

Jadi ada empat sebab saya tidak melanjutkan bekerja di Sekayu. Sebab nomor satu sampai tiga adalah yang terpenting. Sebab keempatnya adalah karena saya memprediksi bahwa kondisi perpolitikan lokal akan sangat tidak kondusif bagi perkembangan rumah sakit. Masuknya ibu-ibu yang (maaf) terlalu sering bicara tanpa hasil kerja yang jelas sudah mengindikasikan hal itu.

Perkiraan saya terbukti.

Rumah sakit adalah institusi yang sangat rumit. Sangat kompleks, karena di dalamnya melibatkan orang dengan kecerdasan dan keterampilan yang tinggi. Independensi dokter yang tinggi lambat laun akan berbenturan dengan manajemen yang orientasinya keteraturan dan kemajuan. Memegang kuasa memang enak. Tapi tunggu sampai saat konflik itu datang. Rasakan sendiri orang-orang bisa dengan cepat meninggalkan loyalitasnya. Mempercayakan rumah sakit sebesar itu pada orang-orang yang kurang mampu bukanlah tindakan yang bijaksana. Cenderung bodoh. Hanya sebesar itukah, kemampuan pemimpin Muba?

Tapi kalau orientasi manajemen bukan untuk keteraturan dan kemajuan, mungkin konflik itu tidak akan ada. Awasi saja kemundurannya pelan-pelan!

Di balik itu semua, saya merindukan beberapa orang. Saya merindukan mas Anto yang selalu menyapa saya dengan bahasa Jawa tingkat terendah. Sesuatu yang dalam budaya kami menampakkan penerimaan sebagai teman dalam (justru) tingkat paling tinggi.  Saya merindukan Bu Rosimah, yang dengan standarnya sendiri yang tinggi berusaha mengatur supaya klinik bedah bisa jalan lancar tanpa harus kekurangan ini dan itu di tengah pekerjaan. Juga karena prinsipnya yang menjamin pasien selesai tanpa harus banyak repot mengurus ini dan itu. Saya menghormati beliau yang dalam keterbatasannya berupaya sekuat mungkin membuat semua pekerjaan menjadi efisien. Saya merindukan bercanda bersama anak-anak farmasi ditambah Wiwid. Juga kru IGD yang sampai saya keluar sungguh seragam dalam standar kerjanya.

Saya tidak bercerita pada banyak orang bahwa saya pernah mengalami pelecehan yang sungguh keji. Dimarahi oleh dokter senior di depan seluruh pasien bangsal. Apalagi dimarahi dengan alasan yang tidak benar dan tidak pernah saya lakukan. Saya selalu merujuk kepada beliau semua pasien saya yang kiranya memerlukan perawatan sesuai dengan bidang ilmunya. Saya selalu mengatakan hal positif tentang beliau kepada para perawat. Saya sangat terluka waktu itu dan berharap itu tidak menimpa dokter umum yunior lain di sana di masa depan. Beberapa hari sebelum saya keluar, tepatnya itu terjadi. Jangan menghubungkan hal itu dengan keluarnya saya karena memang tidak berhubungan. Di depan kepala dinas saja saya berani bicara seperti di atas tadi, apalagi sama dokter senior itu. Hanya saja, memang akhir-akhir ini saya sering memikirkan kematian para pasien akibat dispepsia fungsional di bangsal RSUD Sekayu.

Tulisan ini opini. Karena fakta yang “sebenarnya” adalah apa yang anda percayai. Anda bisa membandingkan penuturan saya ini dengan penuturan mbakyu saya di sini.

Semoga ramalan saya tidak terjadi dan semoga motivasi politik jangka pendek tidak mengorbankan RSUD ke tangan orang-orang yang kurang mampu. 

kesombongan selalu berbuah petaka. mungkin itu yang pengen disampaikan kera di sini ketika aku pernah menyombongkan diri beberapa waktu yang lalu. tapi kadang batas antara sombong dan pamer itu tipis sekali. baru sekarang kesadaran itu menghantamku, bahwa pamer itu artinya sombong…

muter-muter…

gini. lutung dan mas budi menghendaki supaya saya membuktikan ucapan pamer saya mengenai poliklinik rsud sekayu yang lebih keren daripada gbst rsup dr sardjito. jadi, inilah jawaban atas perkataan saya tempo hari.

foto di atas tadi adalah foto pilar-pilar di sebelah ruang tunggu poliklinik. jendela-jendela yang terbuka itu berada persis di samping kursi-kursi ruang tunggu di poliklinik. pilarnya tidak setinggi itu. itu pantulan ke bawah karena lantainya sedemikian berkilatnya.

foto berikut ini menggambarkan kondisi di dalam poliklinik mata. di belakang subjek yang sedang diperiksa nampak sebuah proyektor yang memungkinkan kami memeriksa visus tanpa harus menggantung kertas snellen (snellen chart).
trus gambar di bawah ini menunjukkan bupati kami yang hendak mencalonkan diri jadi gubernur sumsel sedang memberikan pengarahan di ruang tunggu pasien poliklinik.

nah, kalau yang di bawah ini gambar diskusi bupati muba dengan dokter smf tht…

trus yang di bawah ini adalah anggota komite medis rsud sekayu. sayang, ada beberapa yang gak ikut:

dari kiri ke kanan berdiri:
dr. kurniawan, spog
dr. christoph t. a. zega, spp
dr. asep zainudin, sppk
dr. sisca meilia, spm
dr. robertus arian
dr. meili andriani
dr. meiliza veronica
dr. siti chandra widjanantie, sprm
dr. adeline eva, sptht-kl
dr. amanda tiksnadi, sps
dr. gina sitorus

dari kiri ke kanan duduk:
drg. daisy risviany
drg. gatot kusmurdiyanto
dr. amir hamzah
dr. muslimin zen, spa
dr. herjuna hadiwiyatno, spb


gakpapa. cuman pamer aja… hehehe… foto diambil pada hari sabtu tanggal 12 januari 2008 ketika konferensi pers di ruang rapat rsud sekayu.

seperti diceritakan seorang spot:
… terdengar suara adzan … di tengah-tengah sebuah operasi
residen (r): dok, permisi sebentar saya mau sholat
konsulen (k): silakan… (sambil terheran-heran)

di sebuah bangsal rsud di kota tak ber-traffic light:
keluarga pasien (k): dok, ini ibu saya bagaimana kok nafasnya sesak sekali dan nggak sadar lagi
dokter spesialis (s): sebentar saya mau sholat dulu
k: tapi ibu saya gimana ini apa nggak ditolong dulu?
s: saya ini bukan tuhan…
dan akibatnya sebuah kaca di bangsal pecah kena pukul keluarga pasien

di sebuah bangsal rsud di kota tak ber-traffic light:
keluarga pasien (k): ini bagaimana, kata bu kepala dinas kami dapat jatah uang makan 50rb per orang
direktur rsud (d): bukan 50rb per orang, tapi maksimal 50rb untuk satu orang tergantung pengeluaran
k: tapi kami kan bertiga, masih harus beli rokok juga
d: saya aja nggak ngrokok. gini aja, kalian saya kasih 25rb masing-masing per hari, tapi kalian kerja di rs saya sementara
k: gak mau, ya sudah kami pulang saja
d: silakan…
akhirnya pasien yang sudah dilayani gratis itu ditinggal sendiri di rs

di sebuah bangsal rsud di kota tak ber-traffic light:
terjadi beberapa hari sebelum percakapan sebelum ini, pada pelaku yang sama
keluarga pasien (k): bisa nggak kami dapat uang makan. rumah kami jauh.
pengawas manajemen rs (p): saya atur saja supaya kalian bisa makan di dapur rs
k: oke
beberapa hari kemudian
k: pak, kami dah habis 250ribu dalam tiga hari ini untuk makan
p: kok bisa? bukannya kalian saya suruh makan di dapur rs? kan gratis…
k: yah, tapi mana enak, makanan rs…
p: lha maunya gimana (udah gondok banget)
k: kami bisa nggak dapat uang makan 50ribu per orang (ada tiga orang) selama keluarga kami dirawat di sini sesuai janji bu kepala dinas?
p: gila lu (dalam hati), saya ini pegawai negri. uang makan saya aja cuma sepuluh ribu per hari. itu pun dengan pekerjaan yang jelas. lha elu ngapain?
catatan: pasiennya dilayani dengan gratis tanpa biaya di rs…

di sebuah rsud di kota tak ber-traffic light:
keluarga pasien (k): pak, saya mau bawa anak saya pulang aja
dokter (d): lho, kenapa pak? (terkejut setengah mati)
k: lha anak aku itu dah disuruh puasa sejak pagi tapi sampai sekarang belum jadi operasi, aku ini lah (sudah) tersinggung
d: pak, kalau anak bapak ini tidak dioperasi, nanti pertumbuhannya akan terhambat, gak bisa makan dengan baik, dan lain-lain
k: sudahlah, aku ini lah tersinggung dari dulu bulan delapan gak jadi-jadi operasi, ini lah disuruh puasa tapi juga belum dioperasi, kalau memang idak (tidak) pacak (bisa) rumah sakit ini ngoperasi aku bawa pulang bae anak aku itu.
d: (mulai ngamuk dan tersinggung juga) pak, memang kami idak pacak ngoperasi. makanyo kami lah datangkan spesialis dari jakarta sebulan sekali untuk pasien-pasien yang perlu operasi plastik seperti ini. kami kumpulkan trus kami operasi satu-satu berurutan. ini lah kami rencanakan, enak aja bapak mau main pulang
… beberapa menit kemudian …
d: dok, keluarga pasien *** minta pulang, katanya telat dioperasi
spesialis bedah plastik (s): ya udah suruh pulang aja kalau gak mau ditolong. saya jauh-jauh naik pesawat dari jakarta buat nolong, kalau orangnya gak mau ditolong yang udah disuruh pulang aja
d: enak aja… kami yang rencanain udah lama mana bisa gagal gitu aja…
direktur (dk): iya, kalau emang gak mau ditolong yang udah, suruh pulang aja
d: gak mau, enak aja…
catatan: pasien memang terlambat dioperasi. bukan apa-apa, tapi ada kesulitan teknis intra operatif yang tidak bisa kami prediksi sebelumnya dengan pasien yang kami jadwalkan persis sebelum pasien ini. akhirnya pasien tidak pulang dan sudah dioperasi, sekarang dalam masa pemulihan

kata orang dan kata buku, jika ada trauma vaskuler maka daerah di bawah trauma tersebut akan kehilangan vaskularisasi. tidak ada perdarahan dan melalui serangkaian kejadian akan timbullah yang namanya mumifikasi. kulit menjadi keras, berwarna hitam seperti mumi. masalahnya adalah, tidak semua dokter di dunia ini apalagi yang di luar negeri pernah melihat yang namanya mumifikasi ini. bahkan ahli orthopaedi yang kami datangkan dari jakarta saja hendak pamerin foto mumifikasi itu ke khalayak orthopaedi di jakarta. nah, buat anda, para dokter dan mahasiswa kedokteran, silakan melihat fotonya di sini saja.



yah… sekarang sudah hilang tuh bagian yang item2 mumifikasi karena sudah kami amputasi. tidak ada keterangan lebih lanjut mengenai pasien dan identitasnya. pokoknya rahasia.

kata silvi: “jadi dokter umum membosankan?”

nggak kok, sil! aku sekarang sedang menikmati menjadi dokter umum. hahaha…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.622 pengikut lainnya.