Saya


Salah satu tantangan dalam pengelolaan rumah sakit menghadapi akreditasi sistem yang baru adalah masalah keselamatan. Gerakan keselamatan pasien menjadi urat nadi sistem akreditasi rumah sakit. Walau mengadopsi sistem dari Joint Comission International (JCI), nampak bahwa Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) ingin mengedepankan mutu dan keselamatan pasien sebagai panglima dalam akreditasi rumah sakit.

Selain keselamatan pasien, kewaspadaan terhadap kebakaran dan kebencanaan adalah bagian dari sistem akreditasi dan berkaitan langsung dengan keamanan, keselamatan, pengelolaan limbah, pengelolaan sistem utilitas (listrik, air, gas, pengatur suhu, dan lain-lain), dan pengelolaan alat medis.

Salah satu perencanaan yang komprehensif dalam hal kebencanaan sering disebut sebagai hospital disaster plan atau sering disingkat dengan HDP. Dokumen HDP sering hanya berhenti pada penyusunannya saja dan lupa diuji coba untuk melihat kelayakan penerapannya. Banyak yang lupa, bahwa perencanaan sering kali berbeda dengan kenyataan di lapangan. Simulasi bencana, dengan demikian, sebenarnya adalah bagian tidak terpisahkan dari penyusunan HDP.

Rumah Sakit Panti Rapih, tempat penulis berkarya, juga memiliki HDP. Kami menyebutnya rencana penanggulangan bencana rumah sakit, atau kami singkat sebagai RPBRS. Dokumen RPBRS ini merupakan kerja bersama seluruh unit kerja di RS Panti Rapih dikoordinasi oleh panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja (P2K3) dan tim manajemen risiko. Dalam penyusunannya, tim peningkatan mutu dan keselamatan pasien (PMKP) dan komite pengendalian infeksi rumah sakit (KPIRS) juga ikut berkiprah.

Dalam menyusun RPBRS, seluruh unit kerja diminta membuat perencanaan apa yang akan dilakukan ketika terjadi bencana. Setelah perencanaan unit terkumpul, dibantu suatu draft, dokumen disusun. Penyusunan dokumen diikuti dengan rapat dan diskusi. Rapat dan diskusi menghasilkan kesepakatan bersama. Salah satu contoh kesepakatan bersama yang dicapai lewat rapat dan diskusi adalah penetapan jalur evakuasi, pembukaan titik kumpul aman, dan zona pelayanan triase. Pendek kata, RPBRS kami merupakan pemberdayaan seluruh unit.

Dokumen RPBRS mengatur perencanan sistem komando saat bencana, evakuasi pasien rawat inap, kelanjutan perawatan pasien di titik kumpul aman, pengelolaan pengunjung dan keluarga pasien, prioritisasi penanganan korban dari luar rumah sakit, aktivasi sistem pendukung pelayanan, dan asesmen bangunan dan sistem utilitas. Rencana tersebut kemudian disosialisasikan ulang kepada seluruh unit kerja, dengan dua cara. Cara pertama dilakukan di unit kerja masing-masing. Tim RPBRS berkeliling ke seluruh unit kerja untuk bicara mengenai RPBRS dan tugas secara spesifik apa yang dibebankan pada unit kerja tersebut. Cara kedua adalah dengan cara klasikal. Cara klasikal diberikan kepada para kepala unit kerja saat pertemuan dan pada karyawan baru atau baru diangkat.

Setelah fase sosialisasi selesai, kami adakan simulasi. Simulasi besar yang diadakan 6 April 2014 yang lalu bekerja sama dengan Akademi Keperawatan Panti Rapih (memperagakan pasien internal dan eksternal) dan Detasemen Perbekalan dan Angkutan (Denbekang) IV-44-02 di bawah Pangdam IV Diponegoro. Simulasi ini bertujuan menguji RPBRS dan menetapkan perencanaan untuk perbaikan di masa depan. Pada simulasi ini, kami memilih bencana gempa dan memakai situasi gempa tahun 2006.

Dalam simulasi ini, tim manajemen risiko menempatkan evaluator-evaluator di berbagai titik penting di RS Panti Rapih dan membuat asesmen mengenai jalannya simulasi. Ada beberapa catatan penting paska simulasi yang telah dibuat, misalnya mengenai kualitas triase, waktu yang dibelanjakan untuk identifikasi pasien, alur pasien saat evakuasi, pelayanan pasien di titik kumpul aman, dan lain-lain.

Paska proses penyusunan RPBRS dan simulasi, kami melihat bahwa banyak rumah sakit di Indonesia menghadapi masalah yang kurang lebih serupa dalam hal keselamatan dan kebencanaan. Banyak rumah sakit dengan sarana gedung, lokasi bangunan, dan sistem pendukung kebencanaan yang belum layak. Banyak rumah sakit di Indonesia dibangun tanpa mempertimbangkan faktor keselamatan dalam rancangannya.

Kita mengenal beberapa rumah sakit yang diselenggarakan pada bangunan yang aslinya dirancang bukan untuk rumah sakit. Banyak pula rumah sakit yang dirancang dan dibangun oleh konsultan yang belum sepenuhnya memahami prinsip keselamatan pasien dan regulasi dari Kementrian Kesehatan. Berbagai rumah sakit, swasta maupun pemerintah, juga merupakan pengembangan dari bangunan lama, sehingga kesan tambal sulam tidak dapat terhindari.

Benyak masalah dapat muncul dari keadaan ini. Salah satu masalah misalnya mengenai bidang miring (ramp) pada gedung bertingkat yang dipakai untuk melayani pasien. Banyak rumah sakit belum memiliki bidang miring tersebut, sehingga berbagai cara evakuasi pasien dari lantai atas harus direncanakan, dilatih, dan dievaluasi secara rutin.

Masalah lain yang juga menjadi perhatian banyak tim akreditasi adalah mengenai kewaspadaan terhadap kebakaran. Gedung-gedung lama banyak yang telah terbangun tanpa sistem deteksi dini kebakaran (smoke detector), alarm, dan penyemprot air (sprinkler). Dengan demikian, perlu pengadaan alat pemadam api ringan (APAR) dengan jumlah dan bahan kimia yang tepat. Di samping itu, perlu juga satu seri pelatihan agar setiap staf mengerti bagaimana mempergunakan APAR tersebut untuk supresi kebakaran.

Pengalaman RS Panti Rapih dalam menyusun dan mensimulasikan RPBRS dapat menjadi pelajaran berharga bagi rumah sakit lain. Tentunya bukan demi keberhasilan akreditasi rumah sakit saja. Lebih penting untuk memastikan sistem keselamatan di rumah sakit dapat berjalan dengan baik lewat perencanaan yang matang. Ingat kata Benjamin Franklin, salah satu founding fathers negeri Paman Sam yang pernah menasihati kita, “By failing to prepare, you are preparing to fail”. Gagal mematangkan rencana berarti kita merencanakan kegagalan. Salam keselamatan!

 

Robertus Arian Datusanantyo. Kepala Instalasi Gawat Darurat RS Panti Rapih. Tulisan ini merupakan opini pribadi.

Berikut ini adalah keempat materi yang saya sampaikan pada penyegaran PPGD untuk perawat di RS Panti Rapih. Silakan diunduh dan dipergunakan sebaik-baiknya. Bila akan dipakai dalam presentasi lain, mohon cantumkan sumbernya. Salam!

Saya sangat gusar karena program statistik yang diajarkan di Kampus Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM) adalah SPSS. Ini agak mengingkari filosofi biostatistika karena SPSS aslinya sebenarnya adalah Statistical Package for the Sosial Science yang memungkinkan para peneliti ilmu sosial untuk melakukan analisis statistiknya sendiri. Sekarang SPSS dikenal sebagai Statistical Product and Service Solutions. Versi-versi original yang tersedia sangat mahal harganya.

Keheranan saya yang lain adalah mengapa para staf di FK UGM tidak mencoba mengajarkan mahasiswa untuk mempergunakan program statistik yang bebas dan gratis karena program-program semacam itu tersedia secara luas. 

Setelah memakai Mac OS X, kendala ini kian terasa. Karena prinsip-prinsip statistika diajarkan bersama-sama dengan SPSS, agak sulit bagi saya untuk mempelajari program statistik lain yang tersedia gratis untuk Mac OS X. Kenapa harus gratis? Karena saya sudah tidak mau mengeluarkan uang menginstal Windows di MacBook Pro dan tidak mau ilegal dengan menginstal SPSS bajakan.

Nah, idealisme memang harganya mahal. Dalam pengalaman ini, mahal berarti waktu yang terpakai untuk membaca berbagai review dan blog disambung dengan waktu yang terpakai untuk mengunduh program gratis.

Saya memutuskan memakai PSPP. Anekdotal karena PSPP merupakan kebalikan dari SPSS. Antar muka yang dipakai mirip sekali dengan SPSS. Review di sini membawa saya ke halaman ini dan saya memutuskan mengunduh dari sediaan yang sudah lengkap disediakan oleh Jeremy Lavergne di sini. Mas Jeremy Lavergne bahkan sudah memikirkan untuk mengemas program ini sesuai Mac OS X yang dipakai. Versi untuk Maverick seperti yang saya pakai juga sudah ada.

Tampilan PSPP mirip sekali dengan SPSS versi yang lama. Memang program ini gratis dan menyenangkan untuk dipakai. Namun besok ketika saya pakai untuk menganalisis data thesis, pastilah muncul pertanyaan dari pembimbing maupun penguji, kenapa saya tidak memakai program standar. Pertanyaan ini akan memusingkan saya bila dilanjutkan dengan apakah PSPP memang menghitung seakurat SPSS.

Baiklah, itu kita pikirkan nanti. Sekarang, mari kita belajar statistika lagi.

Belum lama ini terdapat pertentangan yang luar biasa sengit antara para dokter muda di jejaring sosial dengan suatu gerakan antivaksin. Sengitnya sejawat-sejawat saya dalam melawan gerakan antivaksin tersebut perlu didukung karena gerakan antivaksin berpotensi menyebabkan menurunnya kualitas hidup manusia Indonesia dan di masa depan sangat berpengaruh pada ketahanan nasional Indonesia. Perjuangan mereka signifikan dicatat karena berbenturan dengan sebagian orang tua anak kecil dari kalangan menengah di Indonesia yang tidak sedikit jumlahnya.

Adalah seorang sejawat saya yang mengorbankan waktu istirahatnya untuk membuktikan bahwa semua dalil dan alasan yang nampak sangat ilmiah dan digunakan oleh komunitas antivaksin itu adalah suatu kebohongan belaka. Koneksi internet dan waktu yang diluangkannya menginspirasi banyak di antara kami yang kelelahan memerangi gerakan antivaksin. Ada dua tulisannya yang sangat terkenal dan sudah dibaca dan dibagikan ribuan kali. Anda bisa menemukannya di sini dan di sini (1).

Pengetahuan yang dipakai sebagai dalil gerakan antivaksin inilah yang disebut sebagai ilmu semu, atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai pseudoscience. Secara singkat, ilmu semu didefinisikan sebagai suatu keyakinan yang diklaim ilmiah namun sama sekali gagal menunjukkan bahwa suatu metode ilmiah yang sahih telah dilakukan. Ada banyak sekali ilmu semu yang beredar di sekeliling kita. Di Indonesia, banyak sekali ilmu semu mengenai kesehatan dan pengobatan. Di Amerika Serikat, nampaknya astrologi adalah bidang ilmu yang juga banyak diganggu oleh ilmu semu.

Contoh lain yang bisa anda temukan untuk ilmu semu ini di Indonesia adalah gelang keseimbangan yang demamnya sempat melanda Indonesia beberapa waktu lalu. Oh ya, dan jangan lupa tentang glutation yang dijual dalam bentuk susu dan suplemen yang dikatakan sangat manis sebagai solusi hampir semua masalah kesehatan anda.

Ilmu semu yang beredar luas di dunia namun tidak terlalu bergema di Indonesia adalah klaim bahwa HIV tidak berhubungan dengan AIDS. Anda dapat melacak investigasi dan tulisan Michael Specter di sini mengenai bagaimana ilmu semu didukung oleh otoritas dan mengakibatkan jutaan orang dengan HIV/AIDS tidak mendapatkan pengobatan yang layak di Afrika Selatan (2).

Ilmu semu lain yang banyak dipercaya adalah berbagai terapi alternatif mengenai kanker. Wikipedia bahkan mempunyai satu halaman khusus yang memuat daftar hampir semua pengobatan alternatif yang sama sekali tidak berdasarkan data ilmiah namun diklaim mampu mengobati kanker. Anda dapat membacanya di sini (3). Banyak di antaranya eksis di Indonesia dan didukung bahkan oleh dokter, doktor, doktor (HC) atau yang mengaku dokter. Hampir semua yang eksis di Indonesia juga dipromosikan di surat kabar dengan didukung oleh testimoni.

Sejalan dengan tulisan dulu (4) saya masih berpendapat bahwa kebaikan hati manusia dan kurangnya kompetensi adalah dua hal yang mendorong orang Indonesia sangat toleran terhadap ilmu semu. Keberinformasian atau literasi informasi atau melek informasi atau information literacy adalah jawaban yang masuk akal dalam masalah ini. Seperti dikatakan Sudarsono (2007), individu yang mempunyai keberinformasian harus dapat mengevaluasi, menggunakan, dan mengkomunikasikan informasi tersebut secara etis (5).

Tapi, apakah keberinformasian itu? Keberinformasian adalah suatu istilah yang muncul dari kalangan pustakawan. Sebuah definisi dari Chartered Institute of Library and Information Professionals di Inggris mengatakan bahwa keberinformasian adalah pengetahuan mengenai kapan dan mengapa seseorang memerlukan informasi, di mana untuk mendapatkannya, dan bagaimana seseorang dapat mengevaluasinya, menggunakannya, dan mengkomunikasikannya dalam cara-cara yang etis. Keberinformasian mensyaratkan seseorang menjadi pembelajar seumur hidup terhadap apapun (6).

Menumbuhkan sikap kritis ketika mendapatkan informasi menjadi hal yang penting dalam hal ini. Dengan adanya sikap kritis, setiap informasi dievaluasi sebelum digunakan dan dikomunikasikan. Dengan sikap kritis, orang akan berhati-hati. Dengan banyaknya ilmu semu dalam bidang kesehatan dan pengobatan adalah alasan kuat mengapa keberinformasian memainkan peran penting dalam memerangi ilmu semu.

Dalam konteks tertentu, seperti disampaikan oleh Massimo Pigliucci dan Maarten Boudry dalam The Dangers of Pseudoscience, ilmu semu dapat berbahaya dan mengambil nyawa. Secara ekstrim mereka mengatakan bahwa bermain-main dengan ilmu semu berarti membuka batas yang nyata dengan takhayul dan sikap irasional (7).

Lalu bagaimana kita memulai proses kritis terhadap informasi baru yang kita hadapi? Berikut ada beberapa tips yang dikumpulkan dari beberapa sumber. Sesuai kompetensi penulis, kita akan mencoba memulai proses kritis tentang suatu metode pengobatan baru. Dalam konteks Indonesia, saya rasa sangat tepat untuk memulainya dengan teknik yang diperkenalkan oleh Emily Willingham, seorang kontributor untuk Forbes (8). Dalam artikelnya di sini, saya memilihkan satu tips terpenting dan terutama untuk memulai proses pertanyaan kritis atas suatu informasi, yaitu: selalu ikuti ke mana uang berjalan!

Mengapa uang? Sebagian besar ilmu semu ditulis dan disebarluaskan untuk mendukung suatu bisnis tertentu. Megasuplemen, yaitu sediaan dengan vitamin atau suplemen dosis tinggi hampir selalu dijual dan dipromosikan bersamaan dengan ilmu semu. Demikian juga banyak sekali promosi mengenai substansi aktif pada suatu produk yang didukung dengan data-data yang seolah-olah ilmiah. Sebagian bahkan menulis bahwa produknya telah diteliti dan jurnal ilmiahnya dipublikasi di pubmed tanpa menampilkan jurnal yang mana.

Tips kedua adalah mencari informasi mengenai orang yang mengatakan informasi tersebut dan melakukan pemeriksaan silang atas apa yang orang lain katakan mengenai informasi tersebut. Tips ini adalah poin penting yang dikemukakan Alan Boyle, editor ilmu pengetahuan dari NBCNews dalam tulisan berjudul How to detect pseudo-science B.S. (9).

Tips berikutnya adalah merenungkan sumber, agenda, dan eksklusivitas yang ditawarkan oleh informasi tersebut. Sumber yang valid sangat penting. Jangan tertipu pada artikel yang seolah-olah ilmiah atau tulisan yang mengesankan itu karya jurnalistik yang sehat. Selalu tanyakan agenda apa yang ada di baliknya, dan tips pertama dari Emily Willingham sangat penting untuk diulang di sini. Dalam informasi mengenai pengobatan misalnya, penting juga untuk disadari bahwa kemajuan ilmu kedokteran dan kesehatan umumnya merupakan kerja kolektif ribuan orang peneliti di seluruh dunia. Sangat aneh rasanya bila menemukan informasi mengenai pengobatan tertentu yang diperkenalkan oleh segelintir (bahkan satu) orang ataupun kebiasaan yang diklaim dilakukan oleh komunitas kecil yang tertutup bisa menyelamatkan hidup anda secara dramatis.

Tips terakhir, anda dapat menghitung porsi testimoni yang muncul pada informasi pengobatan tersebut. Semakin besar porsi testimoni yang ada, semakin kuat dugaan bahwa itu adalah ilmu semu.

Ilmu semu, bisa ditahan penetrasinya pada kehidupan orang di Indonesia dengan keberinformasian. Untuk bisa konsisten, orang perlu rendah hati. Rendah hati adalah modal besar bagi pembelajaran sepanjang hayat. Kerendahan hati inilah yang tidak mudah. Sebagian besar profesional kesehatan dan kedokteran yang saya kenal mempunyai arogansi pada profesi yang ditekuninya. Walaupun arogansi melindungi mereka dari ilmu-ilmu semu yang beredar tak terkendali namun gagal melindungi orang lain dari pengaruh ilmu-ilmu semu. Mengapa demikian? Mudah saja. Pembelajaran sepanjang hayat bukan saja dari buku teks dan jurnal, namun juga dari interaksi yang terbangun dengan manusia-manusia di sekelilingnya. Arogansi tidak memungkinkan hal ini terjadi.

Kembali pada kasus antivaksin yang saya sebut di awal. Keberanian para dokter muda yang sebagian besar merupakan alumni universitas negeri di Jawa ini merupakan langkah besar dalam memerangi ilmu semu dan kesesatan pikir. Kaum menengah di Indonesia yang bertumbuh pesat paska reformasi memposisikan diri menjadi kaum terdidik dan mengambil porsi besar dalam menentukan keberlangsungan bangsa Indonesia. Sedih sekali melihat mereka dengan kemauan sendiri terjebak dalam ilmu semu dan malah turut menyuburkannya, juga dalam kasus antivaksin ini.

Dengan demikian, saya mengajak pada profesional kesehatan untuk mengambil sudut pandang yang berbeda terhadap ilmu-ilmu semu ini. Jangan jadi agen yang baik bagi bertumbuhnya kesesatan di Indonesia. Sudah cukup banyak kesesatan membawa orang ke liang kubur. Kita sudah sering menyaksikannya lewat pasien kanker yang meninggal sia-sia tanpa pernah menikmati kemajuan ilmu kedokteran karena lebih percaya pada ilmu semu yang mengatakan bahwa operasi tanpa sayatan itu adalah produk ilmu yang ilmiah dan bisa dipercaya. Salam!

 

Bacaan Lanjutan

(1)    Tulisan Julian Sunan mengenai kebohongan dalil gerakan antivaksin di Indonesia bisa anda baca di http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2012/05/03/bahaya-imunisasi-telaah-tahap-i-454591.html dan di http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2012/05/13/bahaya-imunisasi-telaah-tahap-ii-457001.html

(2)   Tulisan Michael Specter di New Yorker dapat anda baca di   http://www.newyorker.com/reporting/2007/03/12/070312fa_fact_specter

(3)   Wikipedia membuat daftar lengkap mengenai pengobatan kanker yang boleh digolongkan ke dalam ilmu semu dan dapat anda baca di http://en.wikipedia.org/wiki/Alternative_cancer_treatments

(4)  Tulisan saya terdahulu berjudul Hoax, SMS Berantai, dan Kebaikan Sifat Dasar Manusia dapat anda baca di http://robertusarian.wordpress.com/2011/02/05/hoax_sms_berantai/

(5)   Blasius Sudarsono, seorang pustakawan besar Indonesia pada tahun 2009 menerbitkan sebuah buku berjudul Pustakawan, Cinta, dan Teknologi. Dalam salah satu bab berjudul Keberinformasian: Sebuah Pemahaman Awal yang ditulisnya tahun 2007 terdapat bahan bacaan menarik mengenai literasi informasi.

(6)  Anda dapat menemukan berbagai tulisan mengenai literasi informasi di situs berikut ini: http://www.informationliteracy.org.uk.

(7)   Tulisan Massimo Pigliucci dan Maarten Boudry yang berjudul The Dangers of Pseudoscience dapat anda baca di http://opinionator.blogs.nytimes.com/2013/10/10/the-dangers-of-pseudoscience/?_r=1

(8)  Emily Willingham menulis artikel berjudul 10 Questions To Distinguish Real From Fake Science yang dapat anda baca di http://www.forbes.com/sites/emilywillingham/2012/11/08/10-questions-to-distinguish-real-from-fake-science/.

(9)  Walaupun banyak menulis dan mengutip penulis lain, tulisan Alan Boyle yang berjudul How to Detect Pseudoscience B.S. tetap menarik untuk dibaca. Anda dapat membacanya di http://www.nbcnews.com/science/how-detect-pseudo-science-b-s-8C11323108.

Kupang adalah magnet baru di timur Indonesia. Pariwisata yang mulai bergerak lebih ke Timur dari Bali telah memberi kesempatan bagi Kupang untuk menjadi gerbang baru. Sebagai ibukota provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kupang menjadi pusat pemerintahan, bisnis, dan basis bagi berbagai LSM yang bekerja di NTT.
Bandara, dengan demikian, adalah sarana vital. Bandara El Tari di Kupang, nampaknya adalah satu-satunya bandara milik PT Angkasa Pura di NTT. Namun, bukan berarti lalu proses di bandara ini bisa disamakan dengan Bandara Angkasa Pura lain. Pagi hari, adalah chaos di El Tari. Dan ini terjadi setiap hari.
Setiap pagi, sedikitnya ada empat maskapai yang berperan, yaitu Lion, Wings, TransNusa, dan Merpati. Lion terbang ke Surabaya-Jakarta. Wings ke Ende(-Labuan Bajo-Denpasar) dan/atau Maumere(-Denpasar). TransNusa menerbangi rute ke berbagai kota di NTT, demikian juga dengan Merpati. Semua keberangkatan dimulai pukul 0600 pagi, dan operasional bandara mulai jam 0500 tepat.
Pengamatan saya, maskapai dengan jumlah penumpang terbesar, yaitu Lion dan Wings mengakali hal ini dengan mencetak seluruh boarding pass penumpang sebelum konter cek in dibuka. Ketika penumpang datang, mereka secara manual mencatat dengan bolpen dan kertas, mencari boarding pass di tumpukan, lalu mencatat kembali nomor tempat duduk di lembar pencatatatan yang tadi.
Jadi, bila anda merencanakan terbang dengan penerbangan pertama dari Kupang, pastikan seluruh detil perjalanan sudah anda kuasai. Berangkat sepagi mungkin tidak akan mengurangi waktu anda untuk antri karena bandara baru dibuka jam 0500. Demikian juga, keramaian seperti di stasiun saat Lebaran jaman dulu terulang setiap pagi di El Tari. Satu lagi. Terbang dengan Lion dan Wings selalu dibayangi kekhawatiran mengenai bagasi. Dengan sistem seperti itu, tidak ada gunanya anda bertengkar dengan staf singa merah. Lebih baik membawa tas tangan dengan seluruh kebutuhan anda, dan berdoa untuk sisa bagasi yang lain.
Selamat menikmati Kupang, NTT, dan chaos-nya El Tari di pagi hari. Salam!

Posted from WordPress for BlackBerry.

Paska Adam Air dan Batavia Air yang bangkrut, kue penerbangan Jogja-Jakarta pp praktis hanya dinikmati oleh grup Lion dan Garuda. Maskapai lain seperti Sriwijaya dan AirAsia Indonesia ikut menikmati pula tapi dalam jumlah yang relatif kecil. Citilink adalah pemain baru di rute ini. Warna hijau cerahnya sekarang mewarnai Bandara Adi Sutjipto tiga kali sehari.

Pesawat Airbus A320-200 PK-GLP Citilink parkir di Adi Sutjipto.

Pesawat Airbus A320-200 PK-GLP Citilink parkir di Adi Sutjipto.

Hari Kamis, 29 Agustus 2013 ini, saya berkesempatan menjajal terbang dengan Citilink dari Jakarta ke Jogja. Terminal 1C ternyata jauh lebih lengang sore itu dibanding ketika saya terbang dengan Mandala-biru satu hari sebelum malam Natal 2007. Citilink ternyata serius dengan bisnis penerbangan ini. Kerapian interior pesawat dan inovasi dalam pemesanan tiket online patut diacungi jempol. Bersaing ketat dengan AirAsia di awal debutnya di Indonesia.

Warna hijau Citilink menimbulkan kesan sejuk sekaligus mengingatkan bahwa ini adalah anggota grup Garuda lewat penambahan aksen hijau cerah di ekor.

Warna hijau Citilink menimbulkan kesan sejuk sekaligus mengingatkan bahwa ini adalah anggota grup Garuda lewat penambahan aksen hijau cerah di ekor.

Pemesanan Tiket. Semua penerbangan Citilink bisa dipesan lewat website intuitif yang sangat user-friendly. Huruf yang besar dan kontras yang cukup menjadikan pengguna nyaman memesan tiket. Tidak ada perbedaan bermakna dalam cara pemilihan penerbangan dan pemesanan tiket dibanding maskapai lain. Satu hal yang mencolok adalah adanya penjelasan mengenai kondisi tiket yang dipesan ketika kita memilih jadwal penerbangan. Ini membuat pengguna tidak dipusingkan dengan kode-kode kelas yang dinyatakan satu huruf oleh grup Lion.

Pembayaran. Tidak seperti maskapai lain yang hanya memperbolehkan pembayaran tiket dengan kartu kredit dan ATM, Citilink melakukan inovasi dengan pembayaran tiket yang bisa dilakukan di jaringan Alfamart, Alfamidi, AlfaExpress, dan Lawson di seluruh Indonesia. Pembayaran melalui jaringan convenience store ini dilakukan dengan menyebutkan kode pemesanan dan kode pembayaran di kasir. Berbeda dengan maskapai lain, Citilink menerapkan sistem rekening virtual bank Permata untuk pembayaran melalui ATM. Bila pembayaran maskapai lain dicapai dengan cara mengakses menu “pembayaran tiket”, maka pembayaran tiket Citilink dilakukan dengan mengakses menu “transfer ke rekening (lain)”. Pada nomor rekening, masukkan 013 (kode bank Permata) dilanjutkan 8990 dan diakhiri dengan dua belas digit kode pembayaran. Masukkan jumlah yang ditransfer sesuai dengan yang diminta, tanpa pembulatan. Nama penumpang akan muncul sebagai konfirmasi akhir. Setelah terbayar, itinerary langsung dikirim via surel.

Call Centre. Dapat diakses di 080-4108-0808, petugas call centre mudah dihubungi. Saya curiga karena belum banyak yang menelpon, hehehehe…. Ketika saya menanyakan tentang cara bayar via ATM tadi, petugas cukup tenang dalam membimbing langkah yang saya belum biasa ini. Semoga kemudahan ditelpon ini lestari dari waktu ke waktu.

Interior didominasi warna abu-abu tua pada tempat duduk.

Interior didominasi warna abu-abu tua pada tempat duduk.

Interior. Interior mengingatkan saya pada AirAsia. Ya iyalah, sama-sama pakai Airbus A320, ternyata. Bahan kursi dengan kulit sintetis lebih nyaman untuk saya, dibanding bahan fabric yang menurut saya kasar dan kurang sejuk. Interior didominasi warna putih (dinding), hijau (pembatas ruang), dan abu-abu tua (tempat duduk). Memang terasa sejuk di dalam karena pemilihan warna ini. Tidak seperti maskapai Macan yang karena warna merahnya bikin seluruh penumpang cepat marah. Tidak ada layanan makan dalam penerbangan, tapi ada penjualan makanan oleh mbak pramugari yang berkostum hijau. Majalah dalam penerbangan juga kualitasnya baik, artikelnya diedit dengan teliti, dan didesain dengan serius. Tidak seperti majalah grup Lion yang nampak masih harus banyak dibenahi.

Majalah Linked menegaskan komitmen Citilink menghubungkan kota-kota di Indonesia.

Majalah Linked menegaskan komitmen Citilink menghubungkan kota-kota di Indonesia.

Secara umum, pengalaman perdana terbang dengan Citilink meninggalkan kesan positif buat saya. Sayang, ketika akan mendarat, sinusitis menjadikan saya tersiksa karena nyeri kepala hebat. Pendaratan yang sangat mulus menjadi kurang disyukuri. Saya sungguh menunggu Citilink menerbangi Maumere. Syukur-syukur bila nanti punya pesawat propeller kecil, dapat juga menerbangi Ende.

Versi pertama “Somethin’ Stupid” yang saya tahu adalah duet Robbie Williams dan Nicole Kidman. Saya tidak tahu bahwa Nicole Kidman bisa menyanyikan lagu sebaik itu. Persis seperti baru-baru ini saya juga baru tahu bahwa Reese Whiterspoon bisa juga menyanyikan lagu ini dengan baik. Penelusuran saya mendapatkan sedikitnya empat versi rekaman lagu ini, dimulai dari versi asli yang dinyanyikan oleh Carson Parks dan Gaile Foote. Ini adalah satu-satunya versi yang dilakukan oleh “true lover” karena Carson & Gaile adalah pasangan suami istri. Di bawah ini adalah versi asli Somethin’ Stupid seperti ditulis oleh Carson Parks.

 

Versi Carson & Gaile direkam tahun 1966. Versi ini menurut saya sangat pendek, berlalu begitu saja, dan dinyanyikan dengan lembut dan datar oleh keduanya. Tak heran Frank Sinatra merasa sayang melewatkan lagu ini. Versi Frank dan Nancy Sinatra direkam tahun 1967. Versi inilah yang paling terkenal. Banyak orang menyebutnya “incest song” tapi Nancy Sinatra, putri Frank Sinatra menyebutnya “sweet song”. Sinatras mengubah beberapa aransemen asli dari Carson Parks dan di tangan mereka, lagu ini mulai terasa seksi. Berikut versi paling terkenal Somethin’ Stupid oleh Frank dan Nancy Sinatra.

 

Versi Robbie Williams dan Nicole Kidman rilis tahun 2001. Versi ini terdengar memakai aransemen yang sama persis dengan aransemen yang dinyanyikan Frank dan Nancy Sinatra. Kualitas rekaman yang lebih modern dan video klip yang sangat sarat emosi membuat versi ini paling seksi menurut saya. Video klip ini jugalah yang saya rasa membuat banyak orang mempersepsikan lagu ini sebagai lagu cinta. Michael Buble, yang tahun 2013 ini merekamnya bersama Reese Whiterspoon menyebutnya miskonsepsi. Saya setuju dengan Buble. Berikut adalah versi Robbie Williams dan Nicole Kidman.

 

Lagu ini menurut saya memang ungkapan hati seorang pria. Selain karena ditulis oleh Carson Parks, penyanyi pria memainkan melodi yang lebih kaya. Dari liriknya, saya merasa bahwa laki-laki dalam lagu ini, sebenarnya merasa deeply in love dengan perempuan di depannya, sehingga dia tidak bisa menahan diri untuk mengatakan “I love you” kepadanya. Frase “I love you” yang dikatakan ini menjadi stupid, karena dia tidak peduli apakah perempuan di depannya merasakan hal yang sama, dan justru kata-kata itu bisa membuat rusak semuanya. It’s about me being in love with you (Buble, 2013).
Buble dan tim menambahkan detil aransemen yang unik pada versinya. Berikut adalah versi Buble dan Whiterspoon.

 

Versi manakah yang paling menarik menurut anda? Dan kira-kira kenapa sekarang penyanyi pria yang sukses, memilih aktris untuk berduet?

Kereta api akhir-akhir ini merupakan moda transportasi yang cukup fenomenal. Gebrakan sterilisasi peron, sistem pembelian tiket online, dan pemberlakuan berbagai aturan lain merupakan penanda reformasi di tubuh PT Kereta Api Indonesia.
Sebagai pelanggan transportasi Jogja-Surabaya, tiba-tiba saya telah menjadi pelanggan kereta Sancaka. Kereta ini adalah kereta relasi Jogja – Surabaya dan mempunyai gerbong kelas bisnis dan eksekutif. Waktu perjalanan yg lebih singkat, ketepatan keberangkatan, dan tingkat kepastian membuat saya lebih memilih Sancaka dibanding bus.
Setiap hari, ada dua Sancaka yang berangkat dari kedua ujung, masing-masing pagi dan sore. Kedua Sancaka pagi dan kedua Sancaka sore dengan demikian akan berpapasan dalam perjalanannya. Dari Jogja, Sancaka berangkat pukul 07.25 tiba di Surabaya pukul 12.04 dan berangkat pukul 16.15 tiba pukul 21.27. Sementara itu, dari Surabaya berangkat pukul 08.00 tiba di Jogja jam 12.52 dan berangkat pukul 15.45 tiba di Jogja pukul 20.29.
Kedua Sancaka cukup nyaman namun punya perbedaan signifikan pada gerbong kelas bisnis, yaitu keberadaan penyejuk udara. Harga tiket juga makin bervariasi. Secara umum, makin ke ujung gerbong, makin murah. Bila pada gerbong eksekutif hal ini tidak terlalu berpengaruh, lain ceritanya pada gerbong bisnis. Setiap ujung gerbong kelas bisnis punya satu kamar kecil di satu sisinya. Salah satu ujung meniadakan dua tempat duduk nomor 17 dan ujung yang lain meniadakan dua tempat duduk nomor 1.
Sancaka pagi dari Jogja dan sore dari Surabaya sebenarnya adalah satu rangkaian kereta yang sama. Kereta inilah yang tidak berpenyejuk udara pada gerbong kelas bisnisnya. Tempat duduk yang hilang karena kamar kecil adalah 17A, 17B, 1C, dan 1D. Konsekuensinya, ada tempat duduk larik kedua dari masing-masing ujung yang by default selalu diputar sehingga berhadapan. Tempat duduk 16A dan 16B menjadi berhadapan dengan 15A dan 15B untuk perjalanan dari Surabaya ke Jogja. Tempat duduk 2C dan 2D juga menjadi berhadapan dengan 3C dan 3D saat perjalanan dari Jogja ke Surabaya.
Sancaka pagi dari Surabaya dan sore dari Jogja telah dilengkapi dengan penyejuk udara pada gerbong bisnisnya, berupa enam buah AC split rumah tangga yang diletakkan berpasangan saling membelakangi. Sama dengan kereta pasangannya, ada tempat duduk yang hilang pada masing-masing ujung gerbong, yaitu 17C, 17D, 1A, dan 1B. Tempat duduk 16C dan 16D menjadi berhadapan dengan 15C dan 15D untuk perjalanan dari Jogja ke Surabaya. Tempat duduk 2A dan 2B juga menjadi berhadapan dengan 3A dan 3B saat perjalanan dari Surabaya ke Jogja.
Beberapa tempat duduk di ujung inilah yang dijual dengan harga paling murah. Maka, anda harus mencermati mana saja tempat yang berhadapan agar bisa mengantisipasinya.
Selama bepergian dengan Sancaka, belum pernah sekalipun Sancaka terlambat berangkat dari stasiun Jogja maupun Surabaya Gubeng. Demikian juga dengan waktu sampai di stasiun akhir, belum pernah sekalipun Sancaka sampai tepat pada waktunya. Selalu terlambat. Perhatikan juga bahwa sejak April, Sancaka tidak lagi berhenti di stasium Wonokromo baik ketika menuju Jogja maupun sebelum berhenti di stasiun Surabaya Gubeng. Hanya Sancaka pagi yang berhenti sejenak di stasiun Klaten.
Demikian ringkasan yang ditulis sambil berpanas-panas di gerbong bisnis Sancaka sore menikmati tiket murah. Salam!

Posted from WordPress for BlackBerry.

Dalam tulisan saya terdahulu dan ikutannya, telah dipaparkan mengenai standar baru akreditasi rumah sakit. Mulai tahun 2012 akhir, standar ini sudah mulai diberlakukan dan ada beberapa rumah sakit yang sudah terakreditasi mempergunakan sistem yang baru ini. Bagi rumah sakit yang sudah terakreditasi 5, 12, atau 16 pelayanan di masa lalu, timbul pertanyaan bagaimana panitia akreditasi dibentuk dengan acuan sistem yang baru ini.

Sebagaimana diketahui, sistem akreditasi baru ini dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok standar pelayanan berfokus pada pasien dan kelompok standar manajemen rumah sakit dan dilengkapi dengan dua sasaran yaitu sasaran keselamatan pasien rumah sakit dan sasaran millennium development goals (MDGs). Core business pelayanan rumah sakit ada di kelompok pertama, sementara sistem pendukung ada di kelompok kedua. Sasaran keselamatan pasien sejatinya berada di dalam kelompok dua, namun oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) dibuatkan kelompok khusus.

Bila dalam sistem akreditasi 5, 12, dan 16 pelayanan setiap pelayanan merupakan tanggung jawab satu pokja, muncullah pertanyaan mengenai bagaimana manajemen kepanitiaan akreditasi di sistem yang baru ini. Belum banyak pengalaman rumah sakit yang sudah melaluinya menjadikan beberapa rumah sakit yang akan memulai menjadi gamang, karena kawatir sistem kepanitiaan yang dibangun tidak sesuai dengan standar akreditasi yang baru. Tulisan ini akan berupaya membagikan pengalaman penulis dalam hal kepanitiaan ini dengan mengacu pada sistem di RS Panti Rapih (RSPR), sebuah RS swasta publik besar di Yogyakarta tempat penulis berkarya sehari-hari.

Apakah kelompok kerja (pokja) harus ada? Jawabannya iya. Mengapa begitu? Karena berdasarkan pengamatan pada rumah sakit yang sudah memulai proses pembimbingan, surveyor akan tetap berhadapan dengan pokja ketika melakukan survei. Sebaik apapun konsep yang selama ini dipresentasikan oleh KARS, audit dokumen bersama dengan pokja nampak masih akan mendominasi proses survei akreditasi.

Bila pokja masih harus ada, berapa jumlah pokja yang ideal? Jawaban pertanyaan ini bisa bervariasi. Saya sarankan 17 pokja. Satu untuk masing-masing bab di kelompok satu dan dua, satu untuk keenam sasaran keselamatan pasien, dan tiga untuk masing-masing sasaran MDGs. Pikirkan untuk selalu berorientasi pada keselamatan pasien, namun jangan menjadikan keselamatan pasien sebagai satu-satunya panglima dalam sistem akreditasi baru ini.

Pokja pertama adalah pokja akses dan kontinuitas pelayanan (APK). Pokja ini akan mengurus bagaiman pasien masuk, diterima, didaftar, dilanjutkan perawatannya, dirujuk, dipulangkan, dan ditransportasi. Melihat lingkup kerjanya, anggota pokja ini harus melibatkan bagian yang membawahi pendaftaran pasien, pendaftaran rawat inap, IGD, rawat jalan, rawat inap, dan bagian yang membawahi transportasi. Perhitungkan pula bagian yang membawahi lingkungan hidup dan bangunan sebagai pertimbangan tambahan ketika membahas akses pasien.

Pokja kedua adalah pokja hak pasien dan keluarga (HPK). Entah kenapa KARS dan badan akreditasi di dunia ini mencantumkan hak pasien terlebih dulu, bukan kewajibannya. Pokja HPK akan membantu rumah sakit dalam memberdayakan pasien lewat pengenalan terhadap haknya sampai dengan proses informed consent. Ada dua bagian lain, yaitu donor dan penelitian yang mungkin tidak secara umum terjadi di sebagian besar rumah sakit di Indonesia. Dengan demikian, pertimbangkan untuk melibatkan komite medis, rekam medis, perawat, dan bagian hukum (bila ada) di rumah sakit. Bila bagian diklat rumah sakit anda menaungi penelitian, libatkan juga.

Pokja ketiga adalah pokja asesmen pasien (AP). Inilah pokja yang paling gila karena elemen penilaiannya (EP) paling banyak dan berkali-kali lipat dari rata-rata EP milik pokja lain. Pokja AP banyak mengatur soal pemeriksaan penunjang diagnostik jadi unit-unit kerja penunjang diagnostik harus mengambil peranan paling banyak, seperti laboratorium klinik, laboratorium patologi anatomi, dan radiologi. Usahakan pokja ini juga mempunyai akses kepada unit-unit kerja yang membutuhkan pemeriksaan penunjang diagnostik seperti IGD, rawat jalan, dan rawat inap.

Pokja keempat adalah pokja pelayanan pasien (PP). Pokja ini akan mengatur berbagai proses pelayanan di rumah sakit pada unit-unit kerja. Pilihlah dokter, perawat, dan kepala-kepala unit kerja yang berkaitan langsung dengan pelayanan langsung pada pasien. Orang-orang ini haruslah berwawasan cukup luas dan disegani karena akan mengatur berbagai implementasi kebijakan inti pelayanan. Kebijakan khusus tersebut misalnya pelayanan pasien populasi khusus (geriatri, anak-anak, korban kekerasan, dll), resusitasi, kemoterapi, dan lain-lain.

Pokja kelima adalah pokja pelayanan anestesi dan bedah (PAB). Seperti namanya, pokja ini akan mengeksekusi berbagai kebijakan soal pembedahan dan pembiusan. Hendaknya pokja ini berisi orang-orang yang berkompeten di bidang manajemen kamar bedah dan segala yang terkait di dalamnya.

Manajemen dan penggunaan obat (MPO) adalah pokja yang keenam. Ini adalah satu-satunya pokja yang dapat diwakili oleh satu instalasi saja sebagai pemain utama, yaitu instalasi farmasi. Walau demikian, perawat dan dokter yang juga berkepentingan dengan obat perlu terlibat juga. Bila memungkinkan, tunjuklah satu atau dua orang kepala ruang rawat inap yang berpengaruh agar kebijakan pengelolaan obat-obatan di ruang rawat inap dapat terimplementasi dengan baik.

Di akhir kelompok satu adalah pokja pendidikan pasien dan keluarga (PPK). Pokja PPK ini mengarahkan rumah sakit agar mempunyai satu unit khusus yang mengatur mengenai pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan ini dilakukan di dalam rumah sakit dan sebenarnya sampai batas tertentu berkaitan erat dengan pemberdayaan pasien utamanya dalam proses penerimaan informasi terkait pelayanan kesehatan. Pilihlah unit yang sering melakukan proses ini, seperti ruang rawat inap, rawat jalan, IGD, kamar bedah, dan komite medis beserta unit-unit yang membawahi soal informed consent.

Kelompok dua, sejatinya terdiri dari tujuh pokja. Karena sasaran keselamatan pasien oleh KARS dipisahkan dari kelompok dua, maka ada enam pokja yang tersisa. Keenam pokja ini sebenarnya mewakili oraganizational context sesuai konsep chain of effect in improving health care quality seperti yang disampaikan Donald Berwick.

Pokja kedelapan disebut pokja peningkatan mutu dan keselamatan pasien (PMKP). Pokja ini memang terlihat agak tumpang tindih dengan keenam sasaran keselamatan pasien, walau sebenarnya tidak. Mutu menjadi panglima dalam pokja ini. Oleh karena itu, anggota pokja ini sebenarnya adalah mereka yang selama ini mengelola panitia mutu rumah sakit. Mutu rumah sakit ini dibedakan menjadi mutu klinis dan mutu manajerial. Banyak rumah sakit beranjak mengukur mutu lewat standar pelayanan minimal. Anggota pokok dalam pokja ini hendaklah mereka yang menguasai soal mutu rumah sakit.

Pokja berikutnya adalah pokja pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI). Seperti namanya, pokja kesembilan ini sebaiknya berisi orang-orang yang sehari-harinya mengurus soal pengendalian infeksi. Walaupun pengendalian infeksi tidak dapat dilepaskan dari keselamatan pasien, hendaklah diingat bahwa pencegahan dan pengendalian infeksi sesungguhnya mempunyai cakupan kerja yang jauh lebih luas daripada keselamatan pasien. Selain anggota PPI RS sendiri, hendaklah pokja ini mengikutsertakan mereka yang selama ini juga mengelola limbah, lingkungan hidup, teknik, pemulasaraan sarana rumah sakit, dan sentral sterilisasi rumah sakit, dan perwakilan dari unit-unit pelayanan. Lebih baik bila pokja ini bisa dipimpin seorang dokter yang bersertifikat pengendalian infeksi atau seorang ahli mikrobiologi klinis.

Pokja kesepuluh disebut sebagai pokja tata kelola, kepemimpinan, dan pengarahan (TKP). Anggota-anggota pokja ini seperti namanya, perlu mengetahui dengan rinci dokumen-dokumen dan implementasi yang sifatnya mendasar. Salah satu direktur atau justru direktur utama hendaknya memimpin sendiri pokja ini, dan mulai dengan pembahasan mengenai hospital bylaws bila belum ada. Rumah sakit yang mempunyai unit research and design bisa mengikutsertakan anggota unit tersebut dalam pokja ini.

Pokja kesebelas adalah pokja manajemen fasilitas dan keselamatan (MFK). Pokja ini mengurus apa yang dalam terminologi kita disebut pemulasaraan sarana RS, kesehatan dan keselamatan kerja (K3), dan hal-hal yang terkait antara fasilitas dan pelayanan. Oleh karena itu, ketua panitia pembina K3RS dan orang-orang dari unit pemeliharaan sarana RS perlu masuk dan berkolaborasi di dalam pokja ini.

Pokja selanjutnya disebut pokja kualifikasi dan pendidikan staf (KPS). Pokja ini mengurus tugas yang menurut penulis adalah tugas terberat karena terkait dengan pengembangan staf. Rumah sakit di Indonesia nampak tidak mempunyai plafon anggaran yang besar untuk pengembangan staf. Dalam praktek sehari-hari, continuing professional development dilakukan sendiri oleh para dokter. Para perawat menunggu giliran dengan sabar, sementara para administrator menanti jatah pengembangan yang tak kunjung datang. Pokja KPS terbeban dengan amanat mengurus hal ini, oleh karena itu harus diisi oleh pimpinan unit pengelolaan sumber daya manusia (personalia), wakil dari komite medis, wakil dari komite keperawatan, dan bagian diklat rumah sakit.

Pokja terakhir di kelompok dua adalah pokja manajemen komunikasi dan informasi (MKI). Pokja ini unik karena telah memandang rumah sakit sebagai institusi yang memerlukan (dan tergantung) pada sistem informasi. Diakui atau tidak, dewasa ini sistem informasi di rumah sakit memang mulai memegang peranan yang vital. Peran ini mulai dari sistem billing sampai pengambilan keputusan di manajemen puncak. Pokja ini hendaknya beranggotakan pimpinan rekam medis, dan beranggotakan orang-orang yang memanfaatkan informasi dalam pekerjaan sehari-hari seperti bagian keuangan, akuntansi, pembelian, dan lain-lain.

Pokja keempat belas dalam panitia akreditasi sistem baru ini adalah pokja sasaran keselamatan pasien (SKP). Seperti sudah dikampanyekan sejak pertengahan dekade ini, ada enam sasaran keselamatan pasien. Masing-masing harus diurus dengan baik karena melibatkan banyak proses bisnis dan proses pelayanan di rumah sakit. Pokja ini bisa diisi seluruhnya oleh panitia keselamatan pasien yang telah ada dan harus dibuat sistem sehingga bisa berhubungan erat terutama dengan pokja PAB, MPO, PP, PMPK, dan PPI.

Pokja kelimabelas sampai ketujuh belas adalah pokja-pokja yang terkait dengan sasaran MDGs. Satu pokja mengurus satu sasaran, yaitu Tuberkulosis, HIV/AIDS, dan penurunan kematian ibu dan bayi. Pokja yang mengurus tuberkulosis dan HIV/AIDS bisa dipimpin dan beranggotakan tim yang selama ini mengurus bidang terkait di rumah sakit. Keduanya juga perlu beranggotakan dokter yang kompeten di bidang itu, terutama dokter ahli infeksi dan dokter paru. Seorang dokter penyakit dalam dengan wawasan yang luas bisa menggantikan apabila tidak tersedia ahli infeksi dan ahli paru. Sementara itu, tim PONEK rumah sakit bisa menjadi pokja yang mengurus bidang penurunan angka kematian ibu dan bayi. Pokja ini bisa juga memanfaatkan panitia yang mengurus soal rumah sakit sayang ibu dan sayang bayi dan juga tim advokasi menyusui di rumah sakit. Ketiga pokja terakhir ini akan masuk ke berbagai sistem dan layanan sehingga perlu melibatkan orang-orang dari berbagai unit yang bersinggungan langsung.

Selanjutnya, selain pokja siapa lagi yang perlu duduk dalam kepanitiaan? Penulis menganjurkan ada satu ketua umum yang memimpin seluruh panitia, dibantu dua orang sekretaris. Dapat pula ditambah dengan koordinator kelompok satu (membawahi tujuh pokja), dan koordinator kelompok dua (membawahi enam pokja). Ketua masing-masing pokja SKP dan ketiga pokja MDG dapat langsung berada di bawah koordinasi ketua panitia. Akan lebih sempurna bila ada seorang sekretaris purna waktu yang mengurus kepanitiaan besar ini.

Demikian mengenai susunan kepanitiaan. Semoga bermanfaat! (RAD)

Catatan: anda dapat mengunduh versi pdf tulisan ini di sini.

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.622 pengikut lainnya.