Saya


Setelah keinginan kami bermobil berdua ke Bali tercapai, satu lagi tempat yang kami kunjungi sebelum pulang adalah desa wisata Trunyan dengan keunikan tradisi pemakaman.

Desa Trunyan

Kesibukan sore di Desa Trunyan. Desa ini terletak persis di tepi Danau Batur. Foto diambil dari perahu.

Berangkat siang dari sekitar Jimbaran – Uluwatu, kami perlahan menembus beberapa titik kemacetan menuju Kintamani. Rute jalan yang bisa diambil ada beberapa pilihan, namun kami memilih untuk mengikuti tuntunan papan hijau di pinggir jalan dengan arah Kintamani.

Persis setelah lake view ke arah Danau Batur, gunung Batur, dan gunung Abang, kami memutar balik ke arah bawah, menuju Kedisan, dan jalur darat ke desa Trunyan. Dari sini, ada perahu dayung yang dikelola desa Trunyan menuju ke situs pemakaman Trunyan.

Danau Batur sangat luas. Desa Trunyan terletak persis di pinggir danau, sehingga saat air pasang, jalan di sepanjang “dermaga” dan rumah di sekitarnya terkena air dari danau. Perjalanan dengan perahu dayung dari desa ke pemakaman memakan waktu kurang lebih setengah jam.

Dalam perjalanan, kami menyadari bahwa air Danau Batur sedang surut. Ada garis hijau pada tebing tepi Danau Batur yang menginformasikan hal itu. Dalam perjalanan, kami jumpai beberapa warga mencari ikan dengan jaring dan perahu. Banyak ikan mujair katanya.

Mencari Ikan

Seorang warga Desa Trunyan sedang mencari ikan di tepi Danau Batur. Menurut pendayung perahu kami, banyak ikan mujair yang sering tertangkap jala di danau ini.

Pemakaman di desa Trunyan ada tiga. Pemakaman unik di bawah pohon Taru Menyan yang hanya diletakkan di tanah tersebut hanya boleh diisi oleh jenasah orang yang sudah menikah dan meninggal secara wajar. Kuburan untuk orang dengan kematian tidak wajar terpisah dari desa. Sementara ada satu kuburan lagi untuk bayi. Bayi, bagi orang Trunyan, termasuk juga mereka yang belum menikah.

Makam Bayi

Inilah kompleks makam bayi, dipandang dari Danau Batur dalam perjalanan ke makam Trunyan.

Dermaga masuk pemakaman Trunyan adalah gapura kecil yang diperpanjang dengan dermaga kayu. Di gapura tersebut tergolek sepasang tengkorak manusia dengan koin-koin kecil di sekitarnya.

Pintu Masuk Makam Trunyan

Untuk masuk ke Makam Trunyan, satu-satunya akses adalah melalui dermaga kayu ini.

Tengkorak Menjaga

Tengkorak manusia dipasang di gapura pintu masuk Makam Trunyan.

Pohon Taru Menyan yang perkasa menghadang setelahnya. Di sebelah kiri, menumpuk barang bekas dan kotor bercampur tulang manusia. Sedikit di atasnya terdapat sebelas jenasah yang diletakkan di permukaan tanah ditutup anyaman bambu kering yang longgar. Di sebelah kiri atas pemakaman, sejumlah tengkorak kepala ditata bersebelahan.

The Mighty Taru Menyan

Inilah pohon Taru Menyan yang terkenal itu. Jangan tertipu foto ini. Aslinya, pohon ini BESAR sekali.

Barisan Tengkorak

Deretan tengkorak di antara makam dan pohon taru menyan. Salah satu spot menarik untuk berfoto bersama.

Tulang, dan Lainnya

Nampak tulang paha dan sisa-sisa barang bekal.

Orang Trunyan mempunyai kebiasaan memakamkan anggota keluarganya lengkap dengan peralatan dan bekal untuk hidup selanjutnya. Oleh karena itu jamak ditemui peralatan-peralatan rumah tangga di sebelah jenasah. Ketika jenasah baru datang, salah satu jenasah dipindahkan dari makam tersebut bersama dengan barang-barangnya sehingga di sisi kanan makam nampak berserak sisa-sisa barang tersebut dengan sisa tulang belulang jenasah.

Mulai Membusuk

Salah satu jenasah yang baru kira-kira tiga minggu diletakkan di Makam Trunyan.

Barang Bekal

Bekal bagi yang meninggal. Tadinya ditumpuk di dekat jenasah.

Kesebelas Jenasah

Kesebelas jenasah dan barang perbekalan yang diberikan keluarga. Pohon Taru Menyan ada si sisi kanan pengambil foto.

Sebagai orang yang lahir dan besar di Jogja, rasanya kurang nyaman melihat sisa tubuh manusia di tempat ini. Apalagi dalam pendidikan, kami dididik untuk sangat menghormati jenasah. Yah, ini beda cara pandang saja.

Secara umum, kami senang dan puas bisa sampai ke sini. Sayangnya, kami menjadi korban perilaku usaha pariwisata yang kurang sehat. Di dekat lake view, kami dicegat oleh seorang laki-laki yang mengatakan asli Trunyan. Dia mengatakan bahwa Trunyan bisa dicapai dengan mobil dan dia akan menemani kami sampai ke Trunyan, tidak perlu berhenti di Kedisan dan naik kapal seperti cerita-cerita yang kami baca di banyak blog.

Singkat kata, setelah menempuh setengah jam penuh was-was karena Civic tua saya agak kurang fit di suspensi depan, kami sampai di desa Trunyan. Jalan yang kami tempuh kurang baik walau beraspal, penuh liku, naik dan turun ekstrim, kanan tebing dan kiri Danau Batur.

Sampai Trunyan, praktik pariwisata kurang sehat dimulai. Kami diberi tahu bahwa pemakaman masih harus ditempuh dengan perahu. Dua ratus ribu per orang sharing dengan penumpang lain, atau kalau mau sewa perahu untuk berdua, kami diminta membayar Rp 750.000,00. Selain itu, kami juga diminta membayar masing-masing tiga puluh ribu untuk “donasi” masuk.

Sang calo bilang, sekarang tarif perahu dari Kedisan Rp 960.000,00 per perahu dan itupun harus berhenti dulu di dermaga desa Trunyan, dan perjalanan dilanjutkan dengan perahu dayung mereka. Kami tidak mengkonfirmasi hal ini karena malas harus berhenti lagi di Kedisan di perjalanan pulang dengan risiko sakit hati.

Sampai di jalan raya, kami mengambil arah ke Kintamani, lalu ke Singaraja. Di Singaraja kami berhenti sebentar untuk makan sore sekaligus makan malam dan meneruskan perjalanan sampai Gilimanuk untuk menyeberang ke Banyuwangi dan menginap di Banyuwangi.

Saya memutuskan membuat sendiri brand penerbitan tulisan yang saya susun. Saya harap tulisan-tulisan ini bisa menambah pengetahuan rekan-rekan yang berkecimpung di bidang pelayanan kesehatan maupun umum. Penerbitannya masih mendompleng fasilitas yang gratis di Slideshare dan di Scribd. Berikut daftar dan di mana anda bisa mengunduh file portable document format untuk masing-masing tulisan. Enjoy!

  • Vaksin MMR dan Autisme Tidak Berkaitan —  Slideshare | Scribd
  • Audit Medis Meningkatkan Mutu Pelayanan Medis — Slideshare | Scribd
  • Menyusun Panitia Akreditasi Rumah Sakit Versi Baru — Slideshare | Scribd
  • Emergency Severity Index (ESI): Salah Satu Sistem Triase Berbasis Bukti — Slideshare | Scribd
  • Case Manager: Profesi Baru di Rumah Sakit Indonesia — Slideshare | Scribd
  • Menggunakan Microsoft Word (R) dan Mendeley untuk Menulis Karya Ilmiah — Slideshare | Scribd
  • Nasopharyngeal Airway (NPA): Banyak Manfaat Namun Kurang Dikenal — Slideshare | Scribd
  • Waspada Middle East Respiratory Syndrome (MERS) di Indonesia — Slideshare | Scribd
  • Resume Pasien Pulang: Defisien itu Inefisien — Slideshare | Scribd

Beberapa tulisan tersebut telah juga diterbitkan di website Mutu Pelayanan Kesehatan sebagai artikel. Semoga kesembilan tulisan ini bermanfaat! Salam!

 

Akan tiba masanya kita mempertimbangkan membeli laptop baru, handphone baru, televisi baru, printer baru, atau bahkan setrika baru. Ada cara klasik yang tetap bisa dilakukan: datang ke toko, lihat berbagai pilihan, pilih salah satu, bayar, lalu bawa pulang. Ada juga cara baru yang dianggap lebih keren: pesan di toko online. Kedua proses ini bisa sangat singkat namun bisa makan waktu berhari-hari tergantung karakter pembeli. Berikut saya menawarkan beberapa tips untuk optimalisasi waktu yang tersedia untuk mempertimbangkan berbagai pilihan.

#1 Gunakan Internet untuk Mencari Info Pengguna

Salah satu kegunaan adanya paket internet di gadget kita adalah pencarian informasi. Selain untuk mencari tahu Raffi Ahmad sedang PDKT ke siapa, sebenarnya lebih penting memakainya untuk mencari informasi yang benar-benar kita butuhkan. Informasi dari pengguna barang elektronik yang kita incar sebenarnya penting justru karena subjektivitasnya. Penting sekali untuk mengetahui apa yang dirasakan pengguna terhadap alat elektronik tersebut. Seorang mungkin mengatakan handphone yang kita incar sangat lambat merespon ketika dipakai memainkan game. Pengguna lain puas karena batere handphone tersebut awet dipakai untuk aplikasi sehari-hari. Mana yang lebih penting bagi anda? Tentu bila anda maniak game, jangan pilih handphone tersebut. Namun, bila anda tidak main game dan lebih perlu alat handal dipakai untuk pekerjaan sehari-hari tanpa harus sering mengisi daya, maka alat ini cocok. Contoh tersebut bermanfaat juga untuk membandingkan misalnya akan memilih kamera saku dengan batere AA atau batere isi ulang pabrik, laptop, bahkan jam tangan. Sesuai pengalaman, fase ini paling time-consuming namun tetap saya kerjakan karena penting. Beberapa yang harus anda cari informasinya adalah sebagai berikut: perbandingan info antar merk, kemudahan penggunaan, kemudahan bantuan produsen, kecocokan dengan penggunaan anda, keawetan alat, ukuran, dan seberapa banyak masalah besar yang nampak dari pengguna-pengguna sebelumnya.

#2 Pelajari Garansi dan Persyaratannya

Sekitar tahun 2000, ketika membeli handphone kita punya pilihan garansi resmi dan garansi distributor. Saat ini, untuk semua alat elektronik rasanya kurang relevan lagi memisahkan dengan cara demikian. Salah satu alasannya karena berbagai alat elektronik memang menyediakan garansi lewat pihak ketiga yang secara mudah disebut sebagai distributor, juga karena satu pihak bisa melayani berbagai merk alat elektronik. Lebih penting bagi anda untuk bertanya apa yang bisa dilakukan ketika alat tersebut rusak. Ke mana harus dibawa, apakah akan diberikan alat pengganti, biaya servis, dan lain-lain. Pertimbangkan juga bagaimana anda akan memakai alat tersebut dan apakah anda memerlukan asuransi tambahan untuk garansi tersebut. Perusahaan besar seperti Apple menawarkan tambahan AppleCare Protection Plan untuk laptop. Salah satu jaringan toko elektronik yang sering ada di mal juga menawarkan extended warranty dengan biaya khusus. Ketika membeli sebuah kamera DSLR untuk keperluan lapangan, kami pernah memanfaatkannya dan ternyata persis setahun setelah garansi resmi habis, alat tersebut rusak dan memerlukan biaya setengah dari nilai harga penjualan. Sangat membantu.

#3 Tunai atau Kredit

Dengan banyaknya penawaran cicilan tanpa bunga dari perusahaan kartu kredit, pembelian alat elektronik menjadi semakin mudah. Pertanyaannya, apakah anda sungguh memerlukan cicilan tersebut? Jawabannya kembali kepada penggunaan alat tersebut untuk anda. Bila membeli mesin cuci untuk efisiensi waktu karena ada tiga anak kecil di rumah, maka cicilan (bahkan dengan bunga) sangat layak anda pertimbangkan. Demikian juga bila anda bermaksud membeli tablet agar pekerjaan kantor bisa diselesaikan saat macet di jalanan kota besar. Namun bila anda membeli televisi layar datar 32″ untuk rumah anda yang luasnya hanya 11o meter persegi, cicilan tidak cocok karena akan mengganggu cashflow sampai berbulan-bulan ke depan untuk suatu kenikmatan premium. Anda harus menabung dan membeli tunai untuk contoh keperluan yang terakhir ini. Jangan juga lupa bahwa cicilan tanpa bunga dari kartu kredit juga memerlukan biaya ketika kita lunasi per bulannya!

#4 Kebutuhan Listrik dan Pengisian Daya

Jangan sampai anda membeli alat elektronik yang berpotensi melebihi daya listrik di rumah. Memanggang kue memakai oven listrik dalam kegelapan bukanlah ide yang bagus. Demikian juga alat elektronik portable jangan sampai justru tidak dapat dipakai karena batere cepat habis.  Seberapa besar kebutuhan dan frekuensi penggunaannya mesti dikenali dulu sebelum memutuskan membeli. Untuk alat elektronik besar yang terus menerus memerlukan listrik, pastikan spesifikasi voltase dan frekuensi listriknya cocok dengan listrik PLN (220 volt, 50 Hz). Colokan listrik juga harus diperhatikan. Apakah perlu menambah adaptor untuk colokan listrik? Adaptor menambah hambatan, berpotensi colokan kendur, menambah panas, dan dengan demikian menambah risiko penggunaan.

#5 Budget

Terakhir, semua pertimbangan di atas tidak akan bermanfaat bila alat tersebut berada di luar budget. Bila anda sangat memerlukan alat tersebut namun berada di luar budget, pertimbangkan mengurangi budget keperluan lain, memanfaatkan cicilan kartu kredit, atau bahkan pertimbangkan ulang keperluan terhadap alat tersebut. Istri saya selalu mengingatkan: butuh atau pengen? Pertanyaan reflektif itu harus dijawab dengan jujur pada kesempatan pertama sebelum mempertimbangkan yang lain.

Demikian lima tips dari saya. Semoga bermanfaat dan selamat memilih!

Salah satu tantangan dalam pengelolaan rumah sakit menghadapi akreditasi sistem yang baru adalah masalah keselamatan. Gerakan keselamatan pasien menjadi urat nadi sistem akreditasi rumah sakit. Walau mengadopsi sistem dari Joint Comission International (JCI), nampak bahwa Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) ingin mengedepankan mutu dan keselamatan pasien sebagai panglima dalam akreditasi rumah sakit.

Selain keselamatan pasien, kewaspadaan terhadap kebakaran dan kebencanaan adalah bagian dari sistem akreditasi dan berkaitan langsung dengan keamanan, keselamatan, pengelolaan limbah, pengelolaan sistem utilitas (listrik, air, gas, pengatur suhu, dan lain-lain), dan pengelolaan alat medis.

Salah satu perencanaan yang komprehensif dalam hal kebencanaan sering disebut sebagai hospital disaster plan atau sering disingkat dengan HDP. Dokumen HDP sering hanya berhenti pada penyusunannya saja dan lupa diuji coba untuk melihat kelayakan penerapannya. Banyak yang lupa, bahwa perencanaan sering kali berbeda dengan kenyataan di lapangan. Simulasi bencana, dengan demikian, sebenarnya adalah bagian tidak terpisahkan dari penyusunan HDP.

Rumah Sakit Panti Rapih, tempat penulis berkarya, juga memiliki HDP. Kami menyebutnya rencana penanggulangan bencana rumah sakit, atau kami singkat sebagai RPBRS. Dokumen RPBRS ini merupakan kerja bersama seluruh unit kerja di RS Panti Rapih dikoordinasi oleh panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja (P2K3) dan tim manajemen risiko. Dalam penyusunannya, tim peningkatan mutu dan keselamatan pasien (PMKP) dan komite pengendalian infeksi rumah sakit (KPIRS) juga ikut berkiprah.

Dalam menyusun RPBRS, seluruh unit kerja diminta membuat perencanaan apa yang akan dilakukan ketika terjadi bencana. Setelah perencanaan unit terkumpul, dibantu suatu draft, dokumen disusun. Penyusunan dokumen diikuti dengan rapat dan diskusi. Rapat dan diskusi menghasilkan kesepakatan bersama. Salah satu contoh kesepakatan bersama yang dicapai lewat rapat dan diskusi adalah penetapan jalur evakuasi, pembukaan titik kumpul aman, dan zona pelayanan triase. Pendek kata, RPBRS kami merupakan pemberdayaan seluruh unit.

Dokumen RPBRS mengatur perencanan sistem komando saat bencana, evakuasi pasien rawat inap, kelanjutan perawatan pasien di titik kumpul aman, pengelolaan pengunjung dan keluarga pasien, prioritisasi penanganan korban dari luar rumah sakit, aktivasi sistem pendukung pelayanan, dan asesmen bangunan dan sistem utilitas. Rencana tersebut kemudian disosialisasikan ulang kepada seluruh unit kerja, dengan dua cara. Cara pertama dilakukan di unit kerja masing-masing. Tim RPBRS berkeliling ke seluruh unit kerja untuk bicara mengenai RPBRS dan tugas secara spesifik apa yang dibebankan pada unit kerja tersebut. Cara kedua adalah dengan cara klasikal. Cara klasikal diberikan kepada para kepala unit kerja saat pertemuan dan pada karyawan baru atau baru diangkat.

Setelah fase sosialisasi selesai, kami adakan simulasi. Simulasi besar yang diadakan 6 April 2014 yang lalu bekerja sama dengan Akademi Keperawatan Panti Rapih (memperagakan pasien internal dan eksternal) dan Detasemen Perbekalan dan Angkutan (Denbekang) IV-44-02 di bawah Pangdam IV Diponegoro. Simulasi ini bertujuan menguji RPBRS dan menetapkan perencanaan untuk perbaikan di masa depan. Pada simulasi ini, kami memilih bencana gempa dan memakai situasi gempa tahun 2006.

Dalam simulasi ini, tim manajemen risiko menempatkan evaluator-evaluator di berbagai titik penting di RS Panti Rapih dan membuat asesmen mengenai jalannya simulasi. Ada beberapa catatan penting paska simulasi yang telah dibuat, misalnya mengenai kualitas triase, waktu yang dibelanjakan untuk identifikasi pasien, alur pasien saat evakuasi, pelayanan pasien di titik kumpul aman, dan lain-lain.

Paska proses penyusunan RPBRS dan simulasi, kami melihat bahwa banyak rumah sakit di Indonesia menghadapi masalah yang kurang lebih serupa dalam hal keselamatan dan kebencanaan. Banyak rumah sakit dengan sarana gedung, lokasi bangunan, dan sistem pendukung kebencanaan yang belum layak. Banyak rumah sakit di Indonesia dibangun tanpa mempertimbangkan faktor keselamatan dalam rancangannya.

Kita mengenal beberapa rumah sakit yang diselenggarakan pada bangunan yang aslinya dirancang bukan untuk rumah sakit. Banyak pula rumah sakit yang dirancang dan dibangun oleh konsultan yang belum sepenuhnya memahami prinsip keselamatan pasien dan regulasi dari Kementrian Kesehatan. Berbagai rumah sakit, swasta maupun pemerintah, juga merupakan pengembangan dari bangunan lama, sehingga kesan tambal sulam tidak dapat terhindari.

Benyak masalah dapat muncul dari keadaan ini. Salah satu masalah misalnya mengenai bidang miring (ramp) pada gedung bertingkat yang dipakai untuk melayani pasien. Banyak rumah sakit belum memiliki bidang miring tersebut, sehingga berbagai cara evakuasi pasien dari lantai atas harus direncanakan, dilatih, dan dievaluasi secara rutin.

Masalah lain yang juga menjadi perhatian banyak tim akreditasi adalah mengenai kewaspadaan terhadap kebakaran. Gedung-gedung lama banyak yang telah terbangun tanpa sistem deteksi dini kebakaran (smoke detector), alarm, dan penyemprot air (sprinkler). Dengan demikian, perlu pengadaan alat pemadam api ringan (APAR) dengan jumlah dan bahan kimia yang tepat. Di samping itu, perlu juga satu seri pelatihan agar setiap staf mengerti bagaimana mempergunakan APAR tersebut untuk supresi kebakaran.

Pengalaman RS Panti Rapih dalam menyusun dan mensimulasikan RPBRS dapat menjadi pelajaran berharga bagi rumah sakit lain. Tentunya bukan demi keberhasilan akreditasi rumah sakit saja. Lebih penting untuk memastikan sistem keselamatan di rumah sakit dapat berjalan dengan baik lewat perencanaan yang matang. Ingat kata Benjamin Franklin, salah satu founding fathers negeri Paman Sam yang pernah menasihati kita, “By failing to prepare, you are preparing to fail”. Gagal mematangkan rencana berarti kita merencanakan kegagalan. Salam keselamatan!

 

Robertus Arian Datusanantyo. Kepala Instalasi Gawat Darurat RS Panti Rapih. Tulisan ini merupakan opini pribadi.

Berikut ini adalah keempat materi yang saya sampaikan pada penyegaran PPGD untuk perawat di RS Panti Rapih. Silakan diunduh dan dipergunakan sebaik-baiknya. Bila akan dipakai dalam presentasi lain, mohon cantumkan sumbernya. Salam!

Saya sangat gusar karena program statistik yang diajarkan di Kampus Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM) adalah SPSS. Ini agak mengingkari filosofi biostatistika karena SPSS aslinya sebenarnya adalah Statistical Package for the Sosial Science yang memungkinkan para peneliti ilmu sosial untuk melakukan analisis statistiknya sendiri. Sekarang SPSS dikenal sebagai Statistical Product and Service Solutions. Versi-versi original yang tersedia sangat mahal harganya.

Keheranan saya yang lain adalah mengapa para staf di FK UGM tidak mencoba mengajarkan mahasiswa untuk mempergunakan program statistik yang bebas dan gratis karena program-program semacam itu tersedia secara luas. 

Setelah memakai Mac OS X, kendala ini kian terasa. Karena prinsip-prinsip statistika diajarkan bersama-sama dengan SPSS, agak sulit bagi saya untuk mempelajari program statistik lain yang tersedia gratis untuk Mac OS X. Kenapa harus gratis? Karena saya sudah tidak mau mengeluarkan uang menginstal Windows di MacBook Pro dan tidak mau ilegal dengan menginstal SPSS bajakan.

Nah, idealisme memang harganya mahal. Dalam pengalaman ini, mahal berarti waktu yang terpakai untuk membaca berbagai review dan blog disambung dengan waktu yang terpakai untuk mengunduh program gratis.

Saya memutuskan memakai PSPP. Anekdotal karena PSPP merupakan kebalikan dari SPSS. Antar muka yang dipakai mirip sekali dengan SPSS. Review di sini membawa saya ke halaman ini dan saya memutuskan mengunduh dari sediaan yang sudah lengkap disediakan oleh Jeremy Lavergne di sini. Mas Jeremy Lavergne bahkan sudah memikirkan untuk mengemas program ini sesuai Mac OS X yang dipakai. Versi untuk Maverick seperti yang saya pakai juga sudah ada.

Tampilan PSPP mirip sekali dengan SPSS versi yang lama. Memang program ini gratis dan menyenangkan untuk dipakai. Namun besok ketika saya pakai untuk menganalisis data thesis, pastilah muncul pertanyaan dari pembimbing maupun penguji, kenapa saya tidak memakai program standar. Pertanyaan ini akan memusingkan saya bila dilanjutkan dengan apakah PSPP memang menghitung seakurat SPSS.

Baiklah, itu kita pikirkan nanti. Sekarang, mari kita belajar statistika lagi.

Belum lama ini terdapat pertentangan yang luar biasa sengit antara para dokter muda di jejaring sosial dengan suatu gerakan antivaksin. Sengitnya sejawat-sejawat saya dalam melawan gerakan antivaksin tersebut perlu didukung karena gerakan antivaksin berpotensi menyebabkan menurunnya kualitas hidup manusia Indonesia dan di masa depan sangat berpengaruh pada ketahanan nasional Indonesia. Perjuangan mereka signifikan dicatat karena berbenturan dengan sebagian orang tua anak kecil dari kalangan menengah di Indonesia yang tidak sedikit jumlahnya.

Adalah seorang sejawat saya yang mengorbankan waktu istirahatnya untuk membuktikan bahwa semua dalil dan alasan yang nampak sangat ilmiah dan digunakan oleh komunitas antivaksin itu adalah suatu kebohongan belaka. Koneksi internet dan waktu yang diluangkannya menginspirasi banyak di antara kami yang kelelahan memerangi gerakan antivaksin. Ada dua tulisannya yang sangat terkenal dan sudah dibaca dan dibagikan ribuan kali. Anda bisa menemukannya di sini dan di sini (1).

Pengetahuan yang dipakai sebagai dalil gerakan antivaksin inilah yang disebut sebagai ilmu semu, atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai pseudoscience. Secara singkat, ilmu semu didefinisikan sebagai suatu keyakinan yang diklaim ilmiah namun sama sekali gagal menunjukkan bahwa suatu metode ilmiah yang sahih telah dilakukan. Ada banyak sekali ilmu semu yang beredar di sekeliling kita. Di Indonesia, banyak sekali ilmu semu mengenai kesehatan dan pengobatan. Di Amerika Serikat, nampaknya astrologi adalah bidang ilmu yang juga banyak diganggu oleh ilmu semu.

Contoh lain yang bisa anda temukan untuk ilmu semu ini di Indonesia adalah gelang keseimbangan yang demamnya sempat melanda Indonesia beberapa waktu lalu. Oh ya, dan jangan lupa tentang glutation yang dijual dalam bentuk susu dan suplemen yang dikatakan sangat manis sebagai solusi hampir semua masalah kesehatan anda.

Ilmu semu yang beredar luas di dunia namun tidak terlalu bergema di Indonesia adalah klaim bahwa HIV tidak berhubungan dengan AIDS. Anda dapat melacak investigasi dan tulisan Michael Specter di sini mengenai bagaimana ilmu semu didukung oleh otoritas dan mengakibatkan jutaan orang dengan HIV/AIDS tidak mendapatkan pengobatan yang layak di Afrika Selatan (2).

Ilmu semu lain yang banyak dipercaya adalah berbagai terapi alternatif mengenai kanker. Wikipedia bahkan mempunyai satu halaman khusus yang memuat daftar hampir semua pengobatan alternatif yang sama sekali tidak berdasarkan data ilmiah namun diklaim mampu mengobati kanker. Anda dapat membacanya di sini (3). Banyak di antaranya eksis di Indonesia dan didukung bahkan oleh dokter, doktor, doktor (HC) atau yang mengaku dokter. Hampir semua yang eksis di Indonesia juga dipromosikan di surat kabar dengan didukung oleh testimoni.

Sejalan dengan tulisan dulu (4) saya masih berpendapat bahwa kebaikan hati manusia dan kurangnya kompetensi adalah dua hal yang mendorong orang Indonesia sangat toleran terhadap ilmu semu. Keberinformasian atau literasi informasi atau melek informasi atau information literacy adalah jawaban yang masuk akal dalam masalah ini. Seperti dikatakan Sudarsono (2007), individu yang mempunyai keberinformasian harus dapat mengevaluasi, menggunakan, dan mengkomunikasikan informasi tersebut secara etis (5).

Tapi, apakah keberinformasian itu? Keberinformasian adalah suatu istilah yang muncul dari kalangan pustakawan. Sebuah definisi dari Chartered Institute of Library and Information Professionals di Inggris mengatakan bahwa keberinformasian adalah pengetahuan mengenai kapan dan mengapa seseorang memerlukan informasi, di mana untuk mendapatkannya, dan bagaimana seseorang dapat mengevaluasinya, menggunakannya, dan mengkomunikasikannya dalam cara-cara yang etis. Keberinformasian mensyaratkan seseorang menjadi pembelajar seumur hidup terhadap apapun (6).

Menumbuhkan sikap kritis ketika mendapatkan informasi menjadi hal yang penting dalam hal ini. Dengan adanya sikap kritis, setiap informasi dievaluasi sebelum digunakan dan dikomunikasikan. Dengan sikap kritis, orang akan berhati-hati. Dengan banyaknya ilmu semu dalam bidang kesehatan dan pengobatan adalah alasan kuat mengapa keberinformasian memainkan peran penting dalam memerangi ilmu semu.

Dalam konteks tertentu, seperti disampaikan oleh Massimo Pigliucci dan Maarten Boudry dalam The Dangers of Pseudoscience, ilmu semu dapat berbahaya dan mengambil nyawa. Secara ekstrim mereka mengatakan bahwa bermain-main dengan ilmu semu berarti membuka batas yang nyata dengan takhayul dan sikap irasional (7).

Lalu bagaimana kita memulai proses kritis terhadap informasi baru yang kita hadapi? Berikut ada beberapa tips yang dikumpulkan dari beberapa sumber. Sesuai kompetensi penulis, kita akan mencoba memulai proses kritis tentang suatu metode pengobatan baru. Dalam konteks Indonesia, saya rasa sangat tepat untuk memulainya dengan teknik yang diperkenalkan oleh Emily Willingham, seorang kontributor untuk Forbes (8). Dalam artikelnya di sini, saya memilihkan satu tips terpenting dan terutama untuk memulai proses pertanyaan kritis atas suatu informasi, yaitu: selalu ikuti ke mana uang berjalan!

Mengapa uang? Sebagian besar ilmu semu ditulis dan disebarluaskan untuk mendukung suatu bisnis tertentu. Megasuplemen, yaitu sediaan dengan vitamin atau suplemen dosis tinggi hampir selalu dijual dan dipromosikan bersamaan dengan ilmu semu. Demikian juga banyak sekali promosi mengenai substansi aktif pada suatu produk yang didukung dengan data-data yang seolah-olah ilmiah. Sebagian bahkan menulis bahwa produknya telah diteliti dan jurnal ilmiahnya dipublikasi di pubmed tanpa menampilkan jurnal yang mana.

Tips kedua adalah mencari informasi mengenai orang yang mengatakan informasi tersebut dan melakukan pemeriksaan silang atas apa yang orang lain katakan mengenai informasi tersebut. Tips ini adalah poin penting yang dikemukakan Alan Boyle, editor ilmu pengetahuan dari NBCNews dalam tulisan berjudul How to detect pseudo-science B.S. (9).

Tips berikutnya adalah merenungkan sumber, agenda, dan eksklusivitas yang ditawarkan oleh informasi tersebut. Sumber yang valid sangat penting. Jangan tertipu pada artikel yang seolah-olah ilmiah atau tulisan yang mengesankan itu karya jurnalistik yang sehat. Selalu tanyakan agenda apa yang ada di baliknya, dan tips pertama dari Emily Willingham sangat penting untuk diulang di sini. Dalam informasi mengenai pengobatan misalnya, penting juga untuk disadari bahwa kemajuan ilmu kedokteran dan kesehatan umumnya merupakan kerja kolektif ribuan orang peneliti di seluruh dunia. Sangat aneh rasanya bila menemukan informasi mengenai pengobatan tertentu yang diperkenalkan oleh segelintir (bahkan satu) orang ataupun kebiasaan yang diklaim dilakukan oleh komunitas kecil yang tertutup bisa menyelamatkan hidup anda secara dramatis.

Tips terakhir, anda dapat menghitung porsi testimoni yang muncul pada informasi pengobatan tersebut. Semakin besar porsi testimoni yang ada, semakin kuat dugaan bahwa itu adalah ilmu semu.

Ilmu semu, bisa ditahan penetrasinya pada kehidupan orang di Indonesia dengan keberinformasian. Untuk bisa konsisten, orang perlu rendah hati. Rendah hati adalah modal besar bagi pembelajaran sepanjang hayat. Kerendahan hati inilah yang tidak mudah. Sebagian besar profesional kesehatan dan kedokteran yang saya kenal mempunyai arogansi pada profesi yang ditekuninya. Walaupun arogansi melindungi mereka dari ilmu-ilmu semu yang beredar tak terkendali namun gagal melindungi orang lain dari pengaruh ilmu-ilmu semu. Mengapa demikian? Mudah saja. Pembelajaran sepanjang hayat bukan saja dari buku teks dan jurnal, namun juga dari interaksi yang terbangun dengan manusia-manusia di sekelilingnya. Arogansi tidak memungkinkan hal ini terjadi.

Kembali pada kasus antivaksin yang saya sebut di awal. Keberanian para dokter muda yang sebagian besar merupakan alumni universitas negeri di Jawa ini merupakan langkah besar dalam memerangi ilmu semu dan kesesatan pikir. Kaum menengah di Indonesia yang bertumbuh pesat paska reformasi memposisikan diri menjadi kaum terdidik dan mengambil porsi besar dalam menentukan keberlangsungan bangsa Indonesia. Sedih sekali melihat mereka dengan kemauan sendiri terjebak dalam ilmu semu dan malah turut menyuburkannya, juga dalam kasus antivaksin ini.

Dengan demikian, saya mengajak pada profesional kesehatan untuk mengambil sudut pandang yang berbeda terhadap ilmu-ilmu semu ini. Jangan jadi agen yang baik bagi bertumbuhnya kesesatan di Indonesia. Sudah cukup banyak kesesatan membawa orang ke liang kubur. Kita sudah sering menyaksikannya lewat pasien kanker yang meninggal sia-sia tanpa pernah menikmati kemajuan ilmu kedokteran karena lebih percaya pada ilmu semu yang mengatakan bahwa operasi tanpa sayatan itu adalah produk ilmu yang ilmiah dan bisa dipercaya. Salam!

 

Bacaan Lanjutan

(1)    Tulisan Julian Sunan mengenai kebohongan dalil gerakan antivaksin di Indonesia bisa anda baca di http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2012/05/03/bahaya-imunisasi-telaah-tahap-i-454591.html dan di http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2012/05/13/bahaya-imunisasi-telaah-tahap-ii-457001.html

(2)   Tulisan Michael Specter di New Yorker dapat anda baca di   http://www.newyorker.com/reporting/2007/03/12/070312fa_fact_specter

(3)   Wikipedia membuat daftar lengkap mengenai pengobatan kanker yang boleh digolongkan ke dalam ilmu semu dan dapat anda baca di http://en.wikipedia.org/wiki/Alternative_cancer_treatments

(4)  Tulisan saya terdahulu berjudul Hoax, SMS Berantai, dan Kebaikan Sifat Dasar Manusia dapat anda baca di http://robertusarian.wordpress.com/2011/02/05/hoax_sms_berantai/

(5)   Blasius Sudarsono, seorang pustakawan besar Indonesia pada tahun 2009 menerbitkan sebuah buku berjudul Pustakawan, Cinta, dan Teknologi. Dalam salah satu bab berjudul Keberinformasian: Sebuah Pemahaman Awal yang ditulisnya tahun 2007 terdapat bahan bacaan menarik mengenai literasi informasi.

(6)  Anda dapat menemukan berbagai tulisan mengenai literasi informasi di situs berikut ini: http://www.informationliteracy.org.uk.

(7)   Tulisan Massimo Pigliucci dan Maarten Boudry yang berjudul The Dangers of Pseudoscience dapat anda baca di http://opinionator.blogs.nytimes.com/2013/10/10/the-dangers-of-pseudoscience/?_r=1

(8)  Emily Willingham menulis artikel berjudul 10 Questions To Distinguish Real From Fake Science yang dapat anda baca di http://www.forbes.com/sites/emilywillingham/2012/11/08/10-questions-to-distinguish-real-from-fake-science/.

(9)  Walaupun banyak menulis dan mengutip penulis lain, tulisan Alan Boyle yang berjudul How to Detect Pseudoscience B.S. tetap menarik untuk dibaca. Anda dapat membacanya di http://www.nbcnews.com/science/how-detect-pseudo-science-b-s-8C11323108.

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.677 pengikut lainnya.