Pernahkah anda melihat seorang bayi yang lahir dengan ukuran hanya seberat sebotol air mineral ukuran sedang dan hidup? Kami pernah. Pernahkah anda menjumpai seorang ibu nifas dengan kadar hemoglobin sepertujuh kadar hemoglobin normal dan hidup? Kami menolongnya. Pernahkah anda frustasi dengan sepuluh bayi berat badan lahir rendah memperebutkan dua inkubator? Kami menjadi bagian dari solusinya.
Semua orang di Indonesia setuju bahwa Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah daerah terpencil. Walau demikian, hampir tidak ada orang yang mau pergi ke sana, melihat situasi nyatanya, mencoba mencari solusi, dan menerapkan solusinya. Perkembangan pelayanan kepada ibu hamil, ibu nifas, dan bayi di NTT sampai saat ini nampaknya akan bermuara pada gagalnya Indonesia mencapai target angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) sesuai millennium development goals (MDG).
Strategi luar biasa dipilih oleh Provinsi NTT dalam mengejar ketinggalan dalam pencapaian target MDG. Strategi luar biasa itu adalah revolusi kesehatan ibu dan anak (Revolusi KIA). Revolusi KIA menetapkan seluruh ibu hamil harus melahirkan di sarana pelayanan kesehatan yang memadai. Revolusi KIA ini melahirkan solusi kontrak sumber daya manusia klinik (clinical contracting-out) dengan brand khusus sister hospital.
Salah satu dari enam pasang sister hospital tersebut adalah RSUD Ende di pulau Flores dengan RS Panti Rapih dari Yogyakarta. Ini adalah satu-satunya pasangan yang melibatkan rumah sakit swasta. Kebetulan penulis menjadi salah satu tim yang ikut berperan di dalam sister hospital ini.
Sebenarnya ada empat hal yang menjadi cakupan pelayanan utama kegiatan sister hospital. Keempatnya adalah pelayanan obstetri neonatus komprehesif (PONEK) 24 jam, pembinaan sistem rujukan Puskesmas ke RSUD maupun sebaliknya, capacity building dan persiapan pendidikan spesialisasi. Kegiatan ini sudah dimulai sejak Agustus 2010 dan sudah diperpanjang sampai dengan Juli 2012.
Sister hospital kami bersandar pada semangat pendampingan sejak awal. Mendampingi berarti berjalan bersama. Bukan berjalan di belakang untuk mendorong, juga bukan berjalan di depan untuk menarik. Mendampingi berarti bergandengan tangan dan berjalan bersama. Menapaki batu dan tanah bersama. Pelayanan medis, keperawatan, dan penunjang medis dipikirkan dan dikerjakan bersama untuk mendukung sistem pelayanan PONEK 24 jam. Pendampingan berfokus pada empat hal, yaitu manajemen rumah sakit, sarana dan prasarana, sumber daya manusia, dan budaya kerja.
Sering orang bertanya bagaimana kami bisa bekerja tanpa sarana yang memadai? Kalau ini pertanyaannya, di mana-mana juga ada. Di RSUD Ende, kami berusaha membalik pertanyaan ini menjadi, “Dengan sarana seperti ini, apa yang bisa saya lakukan sehingga pelayanan optimal?” Ternyata banyak yang bisa dilakukan. Kesadaran akan pentingnya cuci tangan, misalnya. Kesadaran ini mendorong beberapa perawat mengumpulkan handuk bekas yang sudah robek atau rusak di rumah, memotongnya seukuran serbet, dan menumpuknya di samping wastafel sehingga setiap orang yang cuci tangan akan mendapatkan serbet kering.
Contoh peran serta aktif lain adalah soal inkubator. Jumlah inkubator kurang, sementara bayi dengan berat badan lahir rendah banyak. Apa yang dilakukan? Selain memperbaiki dan merawat inkubator yang rusak, boks bayi biasapun dimodifikasi sehingga berfungsi sebagai inkubator. Caranya? Dengan menambahkan lampu di atasnya. Sederhana, tidak perlu banyak biaya, namun tujuan tercapai.
Hubungan persaudaraan kami ternyata juga diberkati dengan banyak hal. Ketika kami memerlukan pendampingan sumber daya manusia dalam bentuk magang, ada dana lokal yang bisa dipakai. Ketika kami perlu dokter anestesi, jalan kami dimudahkan untuk menjalin kerja sama dengan Universitas Udayana. Beberapa di antara kami menginsyafi ini sebagai mestakung. Semesta mendukung.
Dukungan sistem telah membaik secara signifikan akibat daya dukung teman-teman di RSUD Ende yang luar biasa bersemangat, namun tidak tanpa masalah. Kematian ibu masih saja terjadi. Bayi yang meninggal terus ada. Komplikasi pada bayi dan ibu tak berhenti mengalir. Tim kerja telah melakukan program kerja sepenuh hati, namun masih saja kesalahan-kesalahan yang tidak terprediksi terjadi.
Pada akhirnya, karena kebaikan-kebaikan telah dilakukan dan usaha-usaha tak berhenti dilampirkan dalam setiap karya, kami mengambil satu prinsip yang tidak mungkin salah. Prinsip itu adalah: satu demi satu mencoba mempertahankan setiap kehidupan. Ungkapan rendah hati ini datang tak lain dari Direktur Rumah Sakit Umum Ende sendiri, dr. Yayik Pawitra Gati, SpM. Dokter Yayik mengemukakan konsep ini, tentu setelah merenungkan perjalanan kerja sama ini lengkap dengan naik dan turunnya.
Mempertahankan kehidupan. Mengingatkan saya pada prasasti di gedung pusat tata usaha Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Prasasti yang sejak lama telah mengisi pikiran saya dan mustahil untuk dilupakan. Prasasti itu berbunyi, “ … meringankan penderitaan manusia dan memperpanjang usianya … “. Kita tidak selalu bisa mempertahankan hidup. Dengan kompleksitas pelayanan kesehatan pada jaman ini, kita semakin sadar bahwa ilmu kedokteran punya batasan yang bila direnungkan bahkan sampai pada kesimpulan yang menyesakkan. Ilmu kedokteran terkadang tidak dapat berbuat apapun. Walau begitu, setiap usaha harus berorientasi untuk mempertahankan kehidupan. Karena sesungguhnya, hal yang terutama harus kita cintai di dunia ini adalah kehidupan.
Kembali kepada karya kesehatan di NTT, ada pelajaran penting yang bisa kita petik dari pengalaman ini. Pertama, kerja sama antara dua rumah sakit memang hendaknya berbentuk pendampingan. Tidak ada yang di depan dan tidak ada yang di belakang. Keduanya berjalan bersama. Kedua, apabila memang kerja sama antara dua rumah sakit dipilih sebagai model, kedua belah pihak harus siap untuk bekerja sama membuat program, melaksanakan, dan melakukan evaluasi. Ketiga, terkadang target terukur tidak mudah dicapai, apalagi bila target itu terkait dengan indikator kesehatan masyarakat. Tidak apa-apa. Perlu waktu untuk mencapainya. Lebih penting untuk melakukan evaluasi apakah benar kedua belah pihak sudah bersama-sama melakukan segala daya dan upaya untuk mencapai target tersebut? Keempat, walau bagaimana, rumah sakit harus menjalankan fungsi sosial. Mempertahankan kehidupan adalah prinsip yang tidak dapat diganggu gugat. Mempertahankan kehidupan berarti mencintai kehidupan. Dan karena Tuhanlah yang memberi kita hidup, mencintai kehidupan berarti meneruskan karya penyelamatan yang Tuhan lakukan. (Robertus Arian D., atas inspirasi dari dr. Yayik Pawitra Gati, SpM)
Catatan: Jejak langkah kerja sama sister hospital RS Panti Rapih dan RSUD Ende ini bisa dilihat di situs http://fongasama.com dan juga terekam di situs resmi Australia Indonesia Partnership for Maternal and Neonatal Health (AIPMNH) dan di Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan FK UGM (PMPK FK UGM)
Oktober 12, 2011 at 6:25 PM
two thumbs up, mas….bravo untuk apa yang telah kalian lakukan di ende.