Ketika rencana tidak dapat berjalan lancar karena suatu hal yang ada di luar kuasa dan usaha kita, maka saatnya tiba untuk melepaskan segala beban dan mensyukuri apa yang ada di depan mata. Ketika tiga kali penerbangan kami keluar dari Ende dibatalkan karena angin kencang di sekitar bandara Haji Hasan Aroeboesman Ende (ENE), maka kami pun melepaskan semua beban dan menikmati belahan Timur Pulau Flores dengan suka hati.

Ende, terletak di tengah selatan pulau Flores yang memanjang seperti ular dari Barat ke Timur. Pulau Flores lebih mirip kumpulan bukit daripada sebuah dataran. Pantai selatannya berpasir hitam sementara pantai utaranya berpasir putih. Ende, adalah kota tertua di pulau Flores. Di sinilah Bung Karno pernah diasingkan dan merenungkan mengenai kelima falsafah dasar negeri ini yang sekarang kita sebut Pancasila.

Maumere, ibu kota kabupaten Sikka, terletak di pantai utara sebelah timur Ende dan merupakan kota terbesar di pulau Flores. Maumere relatif lebih datar daripada Ende, lebih panas, dan lebih kering. Maumere mempunyai satu dermaga dan merupakan kota terpenting di pulau Flores. Bandara Frans Seda Wai Oti Maumere (MOF) merupakan satu-satunya bandara di Pulau Flores yang bisa didarati pesawat klasik Boeing 737.

Perbaikan Jalan

Perbaikan, pelebaran, dan pemindahan jalan terus terjadi di jalan negara ini. Kabupaten Ende bahkan sedang membangun PLTA dengan mengebor menembus sebuah bukit.

Di antara kedua kota, terhampar sebuah jalan negara yang berkelok-kelok, hampir tidak ada lintasan lurus. Jalan ini mengikuti tepi tebing dan selalu dibatasi jurang di minimal salah satu sisinya. Pintu masuk ke Taman Nasional Kelimutu, tempat danau tiga warna yang terkenal, ada pada lintasan ini.  Demikian pula satu tempat pemandian air panas Ae Oka Detusoko, Gua Maria Lourdes Detusoko, Pantai Koka, dan patung Maria Bunda Segala Bangsa di Nilo. Selain itu, kita bisa melihat rumah asli keluarga mendiang mantan menteri keuangan Frans Seda begitu meninggalkan pantai selatan dan berbelok ke Utara.

Bukit-Flores

Perbukitan di Flores. Dapatkah dihitung jumlahnya?

Ada tiga hal utama yang bisa dilihat sepanjang jalan ini selain jalannya sendiri. Pertama adalah jajaran bukit yang memenuhi belahan Timur pulau Flores ini. Kedua adalah pemanfaatan lahan kritis yang sebagian besar dipergunakan untuk menanam padi, kemiri, kopi, dan kakao. Ketiga adalah kehidupan masyarakat yang benar-benar terpusat di sekitar pasar.

Siap Panen

Padi yang menguning siap untuk dipanen

Ada paling tidak dua pasar cukup besar yang bisa dijumpai, yaitu pasar Detusoko dan pasar Nduaria (dalam bahasa Lio berarti kampung besar). Keduanya menjual hasil bumi. Detusoko yang lebih besar juga menjual hasil laut kering dan barang-barang rumah tangga. Ada juga bank BRI di sini. Pasar Detusoko juga merupakan simpangan untuk menuju pemandian air panas Ae Oka, Gua Maria Lourdes, dan jalan ke pantai utara kabupaten Ende.

Angkutan Pedesaan

Di daerah yang tidak terjangkau transportasi umum, ada yang memodifikasi truk menjadi mobil angkut penumpang semacam ini. Di waktu ramai pasar, tidak jarang dijumpai babi atau kuda terikat di belakang, dan ayam diikat terbalik di sekeliling bak truk.

Mandi Bareng

Dua gadis kecil mandi bersama di pemandian air panas Ae Oka Detusoko.

Pasar Nduaria terletak memanjang di jalur utama, pada kedua sisinya. Pasar ini menjual hanya hasil bumi dan hasil olahannya. Kita bisa jumpai markisa, jeruk, rambutan, sedikit salak, satu atau dua durian kecil, kelapa, dan jagung rebus. Sayuran segar yang ada meliputi labu siam (di sini disebut sebagai labu, dalam bahasa Jawa disebut “jipang”), pucuk labu (daun labu siam yang di Jawa sudah sulit ditemui di pasar), kubis yang diambil utuh beserta daun dan akarnya, tomat, cabe, sawi putih maupun hijau, bunga pepaya, dan lain-lain. Bahasa Indonesia diterima luas di sini, tapi jangan lupa untuk double check karena ada berbagai perbedaan persepsi terhadap kata-kata.

Pasar Nduaria

Pasar Nduaria yang menjual berbagai hasil bumi. Pasar ini juga buka di malam hari.

Bus

Bus semacam ini biasanya dipakai untuk jarak yang lebih panjang, misal Maumere-Manggarai, Maumere-Ende, bahkan ada Maumere-Labuan Bajo. Sebagian besar isi bus ini bukan orang, melainkan barang dagangan.

Sayuran

Sayuran di pasar Nduaria. Dari kiri ke kanan: sawi putih, pucuk labu, dan wortel. Nampak kumpulan jeruk di atas meja. Di sini, barang dijual dengan satuan kumpulan, bukan kilogram.

Pemandian air panas Ae Oka di Detusoko sangat tidak terawat. Dasar kolam kotor dengan lumut, dan banyak orang di sekitarnya yang memanfaatkan untuk mandi sehingga terkesan kumuh. Walau begitu, airnya asli panas. Bukan sekedar hangat. Sumbernya juga mengalir terus dengan debit yang cukup besar. Di belakang pemandian air panas ini ada sungai yang mengalir cukup deras di antara banyak batuan besar. Di seberang sungai ada areal persawahan.

Sungai

Sungai kecil dengan banyak batu besar yang mengalir di belakang pemandian air panas Ae Oka Detusoko.

Injak Sawah

Anak laki-laki ini baru saja lulus SMU dan dia dengan rajinnya menghabiskan waktu "membajak" sawah dengan kedua kerbaunya. Sebenarnya tidak membajak karena kerbau hanya menginjak-injak tanah persawahan ini.

Kami tidak mengunjungi gua Maria Lourdes dan Danau Kelimutu. Walau demikian, pesona danau tiga warna tersebut tak akan pernah terlupa. Kendaraan bisa masuk sampai dengan areal parkir di kawasan wisata taman nasional Kelimutu. Kompleks ini sebenarnya tidak hanya melindungi kawasan danau tiga warna saja namun juga koleksi tanaman, burung, dan satwa liar lain seperti misalnya monyet yang banyak berkeliaran di jalan dan di tanah lapang.

Memilih Jeruk

Sopir kami, Oscar (yang lebih gemuk), sedang membantu memilih jeruk di pasar Nduaria.

Pantai Koka juga tidak kami kunjungi karena keterbatasan waktu. Pantai ini terletak di perbatasan Kabupaten Ende dan Kabupaten Sikka. Kami hanya sempat berhenti sejenak di pinggir jalan, pada titik terakhir jalanan yang berada di sisi pantai Selatan. Setelah pantai ini, jalan berbelok ke kiri, ke arah timur laut menuju ke Maumere.

Pantai Selatan

Pantai selatan terakhir di jalur Ende - Maumere

Sebelum masuk ke Kota Maumere, kami berbelok ke kiri sejenak. Menaiki bukit yang berangin sangat kencang dan sangat dingin walaupun di tengah hari. Tak lain untuk mengunjungi patung Maria, Bunda Segala Bangsa di desa Nilo. Patung ini beserta landasannya menjulang lebih dari 20 meter dan dapat terlihat samar dari kaki bukit. Keseluruhan badan patung berwarna putih mengkilap yang agak menyulitkan pengambilan gambar di tengah hari, apalagi ada awan putih tebal di belakangnya. Menurut kabar, daerah ini sangat ramai pada bulan Mei dan Oktober (bulan Maria). Kami sempat melihat seekor burung besar yang terbang dan melayang, namun segera menghilang sebelum sempat mengganti lensa kamera. Di bukit ini, kita bisa melihat kota Maumere di kejauhan.

Maria Bunda Segala Bangsa

Penulis berpose sejenak di depan patung Maria, Bunda Segala Bangsa di Nilo, Sikka, NTT. Foto oleh Yollan Permana.

Turun dari Nilo, kami langsung menuju pelabuhan untuk makan siang. Di sini terdapat beberapa tempat makan ikan yang masing-masing diberi nama sesuai asal penjualnya. Ada yang dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Penduduk asli entah kenapa tidak banyak yang berjualan makanan, sama seperti di Ende. Nah, sampai di sini, kesan terhadap Maumere hanya satu. Panas.

Sampai jumpa pada perjalanan berikutnya. Salam!